Jumat, 19 September 2014

Cara Mengatasi Rasa Takut



Kadang jika kita melihat orang yang berani keluar dari pekerjaan dan mulai usaha kita melihat keberanian, atau ketika orang yang melakukan olah raga ekstrim juga kita melihatnya seolah tak memiliki rasa takut. Namun setiap orang memiliki rasa takut. Orang yang berani bukan berarti tak memiliki rasa takut. Mereka memiliki rasa takut namun tetap menghadapinya. Mereka bisa memanage rasa takutnya.

Rasa takut bukanlah sesuatu yang mutlak negatif. Rasa takut memiliki sisi positif, supaya kita waspada, berhati-hati, dan lain sebagainya. Namun rasa takut seringkali menghalangi kita untuk meraih tujuan kita. Padahal lebih dari 80% ketakutan yang kita pikirkan tidak benar-benar terjadi. Jadi, ketakutan itu hanya ada di pikiran kita, walaupun mungkin bisa juga terjadi.

Lalu bagaimana cara mengatasi rasa takut itu? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa takut.

Cara Mengatasi Rasa Takut

> Perbesar motivasi
  Jika motivasi kita lebih besar dari rasa takut, maka kita akan bisa menghadapinya.

> Buatlah ketakutan terbalik
  Anda juga bisa membuat ketakutan terbalik. Misalkan jika anda takut untuk belajar naik motor, buatlah ketakutan terbalik pada diri anda, "kalau saya tidak bisa naik motor bakal susah kemana-mana, bakal ngeluarin ongkos mahal, bakal telat sampe kampus, dll.

> Buat diri anda dalam posisi kepepet
  Jika anda ada di atas gedung pasti tak berani berjalan melewati balok untuk menyebrang ke gedung sebelahnya. Namun jika kondisinya gedung tempat anda berdiri kebakaran, anda pasti berani melakukannya. Buat diri anda merasa harus melewati ketakutan itu.

> Berdoa dan berserah diri
  Ini yang tak boleh dilupakan. Karena kita adalah manusia biasa dan tidak tau apa yang terjadi. Dengan berdoa dan berserah diri berarti kita berharap dan menyerahkan pada Yang Maha Kuasa tentang apa yang terjadi pada diri kita.

Satu Koin


Di sebuah desa tinggalah 2 orang bersaudara. Sebut saja Si Untung dan Si Alan. Walaupun mereka bersaudara, namun mereka begitu berbeda. Si Alan mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Ia ingin sekali menjadi orang yang paling sukses di seluruh dunia. Sedangkan Si Untung mempunyai prinsip yang sederhana dalam hidupnya. Menurutnya, Ia harus melakukan sesuatu yang lebih baik di setiap detik dan di setiap nafas hidupnya.

Walaupun Si Alan mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, namun dari segi prestasi justru Si Untung lebih baik darinya, baik prestasi akademis maupun non akademis. Si Untung banyak mengikuti lomba-lomba mulai dari yang berhubungan dengan seni, olahraga, maupun akademis. Walaupun seringkali gagal jadi juara, tapi juga ada prestasi yang didapatkannya. Sedangkan Si Alan jarang sekali mengikuti lomba-lomba. Ia merasa malu, ragu, dan takut apabila nantinya gagal, takut dicemooh orang, atau takut terluka. Ia lebih sering melamunkan masa depan dan cita-citanya. Ia begitu yakin bakal sukses suatu saat. Ia bakal berusaha suatu saat nanti untuk sukses. Namun entah kapan.

Suatu hari dikampungnya diadakan suatu perlombaan menyambut 17 agustus. Perlombaan itu adalah mencari koin-koin yang telah disembunyikan oleh panitia. Si Untung pun mengikuti perlombaan tersebut, Si Alan tidak mau mengikuti lomba tersebut, karena menurutnya lomba itu tidak penting dan buang–buang waktu saja. Ia lebih suka melamunkan kesuksesangnya di masa depan. Namun Si Untung berusaha membujuk saudaranya itu untuk mengikuti lomba tersebut. Akhirnya setelah dibujuk terus Si Alan mau juga ikut lomba itu. Ada 5 koin yang disembunyikan panitia dan para peserta harus menemukan koin-koin tersebut. Setiap peserta juga diberikan peta petunjuk disembunyikannya koin-koin tersebut. Medannnya cukup sulit apalagi sore kemarin desa mereka baru diguyur hujan dan membuat beberapa wilayah becyek, dan licyinn gak ada ojyek pula.

Bunyi terompet tanda dimulainya perlombaan terdengar. Perlombaan pun dimulai. Semua peserta bergegas mencari koin-koin tersebut, naik ke pohon, menggali tanah, menyingkirkan semak, nyebur ke kali, semuanya dilakukan. Jika dilihat dari peta, ada 4 koin yang disembunyikan di daerah yang sama, sementara 1 koin lagi letaknya sangat jauh di puncak gunung yang curam dan berbahaya.

Di saat peserta lain berusaha keras mencari koin-koin tersebut, Si Alan malah duduk-duduk santai. ”Alan kenapa kamu duduk-duduk saja, kalau begitu kamu tidak akan menang” kata si Untung. ”Males ah . . ., nanti kotor, terus kalo luka gimana. . .” kata si Alan sambil duduk-duduk santai dan bersandar pada sebuah pohon. Namun ketika sedang asyik bersantai, tanpa disengaja tangannya menyentuh sesuatu yang berbentuk pipih dan bulat serta keras. Si Alan pun kaget melihatnya. Ternyata yang ia pegang adalah koin yang disembunyikan panitia. Ia pun kegirangan karena menemukan 4 koin sekaligus. Di koin itu masing-masing bertuliskan kekayaan, kesuksesan, kebahagiaan dan harapan. Ia pun sudah sangat puas walau 1 koin lagi belum diketemukan. ”Aku serahkan saja langsung ke panitia, lagi pula 4 koin saja aku sudah menang, apalagi 1 koin lagi letaknya sangat jauh di puncak gunung yang tinggi”. Kata si Alan. Peserta lain pun sudah menyerah karena tak mungkin lagi mengumpulkan koin lebih banyak. Kecuali si Untung ”masih ada 1 koin lagi yang belum ditemukan, aku tak akan menyerah walau tak mungkin mengumpulkan koin lebih banyak dari saudaraku” kata si Untung.

Si Untung pun pergi mendaki gunung yang curam dan ia terus maju pantang menyerah untuk menemukan koin itu walau sering jatuh, terluka, keringat dan darah pun bercucuran. Di sisi lain sodaranya si Alan menyerahkan koin yang ia dapat ke panitia. Namun panitia belum mengumumkan pemenangnya sampai seluruh peserta berkumpul.

”Si untung itu kaya orang gila saja, sudah jelas tidak akan menang, tapi tetep nyari koin itu” kata peserta lainnya. Akhirnya si Untung pun datang dengan terpincang-pincang dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Tapi ia berhasil menemukan koin itu. Di koin itu bertuliskan tulisan resiko. Si Untung pun menyerahkan koin itu ke panitia.

Akhirnya panitia mengumumkan siapa pemenangnya, ”Baiklah kami kami akan umumkan pemenangnya. Pemenang lomba mencari koin dan berhak mendapatkan hadiah 1 unit sepeda motor dimenangkan oleh . . . . . si Untung. . .  ..!!!. Seluruh peserta lain pun terkejut, terutama si Alan. ”Ini tidak adil. . .ini curang. . huuu dasar panitia licik. Saya sudah mengumpulkan 4 koin sedangkan si Untung hanya 1 koin, seharusnnya aku yang menang” ucap si Alan begitu marah.

Namun panitia tidak menggubrisnya. Panitia pun menyerahkan 5 koin yang diperebutkan (koin harapan, kekayaan, kebahagiaan, kesuksesan, dan koin resiko) kepada si Untung. Selain itu panitia pun menyerahkan 1 unit sepeda motor kepada si Untung. Si untung pun terkejut. ”Mengapa aku bisa menang, padahal aku hanya mengumpulkan 1 koin” kata si Untung. ”Ini sudah keputusan panitia” kata panitia.

Si Untung pun pergi ke tepi sungai dan berpikir. Sementara si Alan pulang dan mengurung diri di kamar lantaran kesal. Setelah sekian lama berpikir di tepi sungai, akhirnya si Untung mendapat jawabannya. Koin yang ia dapat adalah koin resiko, sementara koin yang ditemukan si Alan adalah koin kekayaan, kesuksesan, kebahagiaan, dan harapan. Tapi si Alan tidak berani mengambil koin resiko karena terletak di tempat yang sulit. ”Ya. . . .mungkin dalam hidup ini kita tidak akan mendapatkan harapan, kekayaan, kesuksesan, dan kebahagiaan apabila kita tidak berani mengambil resiko” itulah yang si Untung pikirkan.
.............

”Dalam hidup ini kita tidak akan mendapatkan harapan, kekayaan, kesuksesan, dan kebahagiaan apabila kita tidak berani mengambil resiko”

Belajar Dari Ikan Salmon


Di riaknya arus air sungai yang diiringi angin sepoi – sepoi yang bertiup menyegarkan suasana. Air sungai yang jernih mengalir menerpa batu – batu kali yang ada. Disanalah ikan – ikan salmon hidup dan berenang.

Satu hal yang menarik dari ikan salmon ini, ternyata mereka mampu berenang melawan arah arus sungai yang mengalir. Walaupun cukup deras tapi dengan gigih mereka mengerahkan kekuatan mereka berenang melawan arus untuk ke tempat yang mereka inginkan. Mereka menggerakkan ekor mereka dan melesat melawan arus. Kadang harus melompat dan berenang kembali menelusuri arus sungai. Itu memang beresiko, mereka dapat saja terpental dan membentur batu. Tapi yang lebih beresiko adalah beruang yang biasanya telah menunggu untuk menangkap ikan salmon yang melompat dan berenang melawan arus tersebut. Mereka tau itu memang beresiko tapi mereka terus melakukan hal itu karena tujuan mereka sudah bulat. Mereka takkan tergoyahkan walau rintangan yang ada di depan begitu berbahaya.
Pelajaran penting yang dapat diambil dari sikap ikan salmon tersebut adalah bagaimana mereka berani menghadapi resiko untuk mencapai suatu tujuan. Dalam hidup ini pasti terdapat resiko. Tapi sejauh mana kita berani menghadapi resiko tersebut maka tujuan tersebut akan semakin dekat.

Berenang mengikuti arus memang mudah bahkan tak perlu mengeluarkan tenaga. Tapi berenang melawan arus merupakan sesuatu yang sulit dan penuh tantangan. Dan itulah yang dilakukan oleh ikan salmon. Dalam hidup ini pun demikian, banyak orang yang memilih hidup mengikuti arus dan mengikuti apa yang biasa orang ikuti. 

Tapi orang yang “berani melawan arus untuk suatu tujuan yang positiflah” yang mampu menggapai kesuksesan yang ia raih.

Bergeraklah untuk hidup layaknya ikan salmon

Suatu ketika para nelayang Jepang mencari ikan di tengah lautan luas. Lautan tersebut cukup jauh dari daratan. Mereka menangkap ikan – ikan salmon untuk dibawa ke daratan. Orang – orang jepang tentu menginginkan ikan yang segar, tapi ikan yang dibawa para nelayan tersebut telah mati ketika sampai di daratan sehingga tidak segar lagi. Lalu nelayan – nelayan itu berpikir bagaimana caranya agar ikan – ikan itu tidak mati ketika sampai di daratan.

“Ah. . . mungkin kita harus letakkan di bak yang berisi air dalam kapal kita.” Pikir mereka.

Hal itu pun dicoba, tapi tetap saja ikan – ikan salmon itu tetap mati ketika sampai di daratan akibat perjalanan yang memakan waktu yang lama ini.

“Bagaimana kalau diberi es?.”

Di dalam bak air tersebut diberi es, namun tetap saja ikan salmon itu mati dan tak segar lagi.

Akhirnya muncullah sebuah ide yang kedengarannnya tak masuk akal dari salah seorang nelayan. Ide tersebut pun sebenarnya hanya iseng – iseng saja untuk dicoba. Nelayan itu mencoba untuk memasukkan anak ikan hiu kecil ke dalam bak air yang berisi ikan – ikan salmon hasil tangkapan mereka. Dan hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata ikan – ikan salmon itu tetap hidup setelah melalui perjalanan panjang menuju daratan.

Sebenarnya apa yang membuat ikan – ikan salmon itu bertahan hidup. Ternyata di dalam bak itu ikan – ikan salmon tersebut dikejar – kejar oleh si anak ikan hiu. Mereka terus dikejar – kejar tanpa henti. Untuk bertahan hidup tentu ikan – ikan salmon itu berenang dengan gesit untuk menghindari dari anak ikan hiu tersebut. Mereka sekuat tenaga berjuang untuk mempertahankan hidup mereka sampai akhirnya ketika sampai di daratan mereka masih bisa bertahan hidup.

Itulah yang membuat mereka bisa bertahan hidup. Harapan dan terus bergerak, itu yang mereka lakukan. Bayangkan jika kita hidup tanpa memiliki harapan dan hanya merenung meratapi takdir apalagi yang kita tunggu selain mati, dan orang yang hidup tanpa harapan tak ubahnya seperti mayat hidup. Maka dari itu berharaplah, bergeraklah, berkaryalah untuk hidup ini.  

“Agar engkau hidup dan tetap hidup untuk memberikan hidup untuk hidup”.

Rabu, 17 September 2014

PERANGKAP TIKUS


Sepasang suami dan istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, “Hmmm… Makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?”
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang.
Ia mendatangi ayam dan berteriak “Ada perangkap tikus!” Sang ayam berkata, “Tuan tikus, aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku.”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor kambing sambil berteriak. Lalu sang kambing pun berkata “Aku turut bersimpati, tapi maaf, tidak ada yang bisa aku lakukan.”
Tikus lalu menemui sapi. Ia mendapat jawaban sama, “Maafkan aku, tapi perangkap tikus tidak berbahaya untukku sama sekali.”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular. Sang ular berkata, “Ah, perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku.”
Akhirnya sang tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya yang berbunyi. Hal ini menandakan perangkapnya telah memakan korban. Namun, ketika melihat perangkap tikusnya, seekor ular berbisa telah terjebak di sana. Ekor ular yang terjepit membuatnya semakin ganas dan menyerang istri petani tersebut. Walaupun sang suami berhasil membunuh ular tersebut, namun sang istri sempat tergigit dan teracuni oleh bisa ular tersebut.
Setelah beberapa hari di rumah sakit, sang istri sudah diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa hari kemudian demam tinggi yang tak turun-turun juga. Atas saran kerabatnya, ia membuatkan isterinya sup ayam untuk menurunkan demamnya. Semakin hari bukannya semakin sembuh, justru semakin tinggi demam isterinya.
Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk diambil hatinya. Tetap saja, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga ia harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan sang tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah tidak digunakan di rumah itu lagi.
Dari kisah inspiratif di atas terdapat nilai-nilai yang bisa kita ambil. Suatu ketika Anda mendengar seseorang sedang dalam kesulitan atau masalah dan Anda mengira itu bukan urusan Anda, maka pikirkanlah sekali lagi. Karena boleh jadi, masalah tersebut juga akan menimpa Anda.

Selasa, 16 September 2014

Kisah Kejujuran Dua Bocah Penjual Tissue di Pinggir Jalan

Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.
dua manusia super
Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.
Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta.
“Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.
“Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !”
Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”
“Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu … sebentar.”
“Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.
Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.
Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!”..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.
Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue.
Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.

Jumat, 12 September 2014

Humor



Turis Jepang Keliling Jakarta 


Ada seorang turis asing dari Jepang, ketika sampai ke Jakarta, ia langsung minta diantar ke hotel oleh sebuah taksi.
Ketika lewat depan gedung MPR turis itu bertanya kepada sopir taksi. 

-       “Untuk membuat bangunan seperti ini,berapa lama waktu yang dibutuhkan?” tanya turis kepada supir.

Karena nggak tahu supir menjawab dengan asal,
-       “Sekitar satu tahun”.
-       “Kalau di Jepang bangunan seperti ini selesai dalam waktu enam bulan” kata turis kepada supir. 

Ketika taksi lewat di depan Masjid Istiqlal turis bertanya lagi kepada supir.
-       “Bangunan seperti ini, berapa lama dibangun?”.
-       “Enam bulan” jawab supir.
-       “Enam bulan!! Kalau di Jepang cukup satu bulan,” jawab turis. 

Ketika lewat didepan Tugu Monas turis bertanya lagi kepada supir.
-       “Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membangun bangunan itu” tanya Turis.
-       “Wah nggak tau yaa, tapi rasanya saya lewat tadi bangunan itu belum ada tuh!” jawab supir. 

Turis : “??!$%^??!!!?” 







Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya.
Amsal 10:19-20

Pastor Message 07 Sept 2014




 Perhatikan Sekitar kita

Sebagai manusia yang diberikan banyak kesempatan oleh Tuhan, kita sering lupa bahwa segala sesuatu yang Tuhan berikan termasuk waktu harus kita memanfaatkan dengan bijaksana.

Waktu yang Tuhan berikan kepada kita adalah waktu yang sama diberikan kepada semua orang yang ada di muka bumi ini. Bagi siapa yang dapat menanfaatkan waktu dengan baik maka ia akan menghasilkan sesuatu yang baik dan sebaliknya jika seseorang tidak dapat menggunakan waktu dengan baik maka akan berakibat fatal dalam hidupnya.

Efesus 5:15-16 “Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Ketika kita tidak menggunakan waktu dengan baik maka waktu itu tidak akan pernah kembali, waktu hangus begitu saja dan jatah kita hidup di dunia ini terus berkurang, meskipun sepertinya umur kita bertambah.

Saya menantang saudara untuk benar-benar mempergunakan waktu yang Tuhan berikan dengan bijaksana, mengerjakan sesuatu yang baik selain mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita dalam keseharian, kita juga bisa menolong sesama yang membutuhkan, menghibur yang sedih, menjadi panitia di salah satu acara pelayanan, ikut terlibat dalam kegiatan sosial, menjenguk yang sakit dan mendoakannya, berdoa bagi bangsa, kota dan komunitas orang-orang percaya, niscaya kita akan sangat diberkati, amin,

Tuhan Yesus memberkati.

 
 -Ps Rudi Candra-
Gospel Generation Ministry Church (G2M)