Minggu, 31 Januari 2016

MELUPAKAN KEKHAWATIRAN

Bacaan: Filipi 4:1-9 NATS: Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah (Filipi 4:6)

Mungkin Anda pernah mengikuti eksperimen yang di dalamnya Anda diberi sebuah frase [Kelompok kata] seperti "mobil merah," lalu diminta melupakan frase itu. Namun semakin keras Anda berusaha melupakan, frase itu justru semakin melekat dalam pikiran Anda. Eksperimen ini memperlihatkan betapa kita takkan pernah bisa melupakan sesuatu yang menjadi pusat pikiran kita.

Demikian pula dengan kegelisahan, yakni respon alami kita saat mengkhawatirkan hal-hal dalam hidup ini. Kebanyakan dari kita mengalami sulit tidur karena terlalu keras berusaha memecahkan masalah rumit yang dihadapi. Hasilnya, masalah itu justru semakin kuat mencengkeram pikiran kita.

Alkitab meminta kita untuk tidak tertekan oleh berbagai masalah dalam hidup ini, melainkan menyerahkan semuanya itu kepada Allah. Rasul Petrus mengatakan, "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1 Petrus 5:7).

Demikian pula dalam Filipi 4:6, Rasul Paulus memberikan perintah serupa. Yesus meminta para murid-Nya untuk tidak khawatir akan kebutuhan hidup mereka, karena "Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu" (Matius 6:32).

Cara untuk melupakan kekhawatiran adalah dengan memusatkan pikiran kita pada kebaikan dan pemeliharaan Allah yang penuh kasih, bukan pada masalah yang menggelisahkan kita. Lalu kita pun dapat berkata sama seperti pemazmur, "Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku" (Mazmur 94:19)

SEMAKIN ANDA MEMIKIRKAN KEBAIKAN ALLAH SEMAKIN BERKURANG KEKHAWATIRAN ANDA

Sabtu, 30 Januari 2016

POHON KEHIDUPAN

Bacaan: Wahyu 21:1,2, 22:1-5 NATS: Di tengah-tengah jalan kota itu. ada pohon-pohon kehidupan (Wahyu 22:2)

Pada 1943, para serdadu Nazi menggiring 140 penduduk desa Khatyn kesebuah gudang, menumpuk jerami di sekitarnya, dan membakarnya. Peristiwa itu menewaskan semua tawanan. Setelah perang berakhir, Khatyn yang terletak di wilayah bekas Uni Soviet dijadikan pusat peringatan peristiwa serupa yang menimpa enam ratus desa di seluruh Belarusia. Khatyn adalah sebuah tempat yang mengenaskan untuk dikunjungi.

Anda akan disambut oleh empat tingkat patung yang menceritakan seorang ayah yang sedang berada di hutan sewaktu pembantaian masal Khatyn terjadi. Ia menggendong tubuh anak laki-lakinya yang hangus terbakar.

Anda juga akan melihat fondasi rumah-rumah yang dulu pernah berdiri di sana. Pada setiap fondasi terdapat cerobong asap dengan papan nama orang-orang yang menjadi korban. Di salah satu ujung desa Khatyn berdiri "pohon kehidupan." Pohon yang terbuat dari besi hitam ini mempunyai lebih dari empat ratus helai "daun." Di setiap helainya tertulis nama desa yang hancur tetapi telah dibangun kembali setelah perang usai. Daun-daun itu melambangkan harapan dan kebangkitan kembali rakyat Belarusia.

Dalam Kejadian 2, kita membaca tentang pohon kehidupan di Taman Eden. Jalan menuju pohon itu ditutup bagi Adam dan Hawa setelah mereka melanggar perintah Allah. Namun Yesus, yang merupakan "Adam terakhir" (1 Korintus 15:45-47), membukanya kembali bagi kita. Di langit dan bumi yang baru, akan ada "pohon kehidupan" yang lain (Wahyu 22:2).

Kematian rohani dapat berubah menjadi kehidupan rohani melalui iman kepada Yesus. Inilah harapan yang tiada tara!

SALIB KALVARI ADALAH SATU-SATUNYA JEMBATAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL

Jumat, 29 Januari 2016

INGAT UNTUK BERSYUKUR

Bacaan: Mazmur 100:1-5 NATS: Bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! (Mazmur 100:4)

Selama tahun-tahun terakhir hidupnya, seorang profesor ternama dalam bidang teologi di Skotlandia kehilangan ingatan akan masa lalunya. Sekalipun tetap bersikap ramah kepada mantan rekan-rekan di universitas yang datang berkunjung, ia sama sekali tidak ingat bahwa ia pernah mengajar di tempat yang sama dengan mereka dan bahwa mereka adalah teman-teman baiknya selama bertahun-tahun. Namun meski lupa akan masa lalunya, ia tidak pernah lupa untuk bersyukur kepada Allah. Salah seorang temannya bercerita bahwa setiap kali perawat panti datang membawakan roti, mentega, dan teh, profesor itu selalu berkata, "Saya harus bersyukur atas hal ini!" Kemudian sambil menundukkan kepalanya, ia akan berdoa dengan segenap hati, "Terpujilah Allah selama-lamanya. Amin."

Adakah di hati kita tertanam rasa syukur yang sungguh-sungguh seperti itu?
Adakah kita membiasakan diri untuk bersyukur kepada Allah selagi ingatan kita masih baik?
Salah satu cara untuk memulainya adalah dengan membaca Mazmur 100, dengan suara keras. Mengapa Anda tidak mencoba membacanya setiap pagi dan malam selama seminggu untuk memulai dan mengakhiri setiap hari yang kita lalui? "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!" (ayat 4). Jika diulang-ulang dengan sepenuh hati, kita akan terbiasa memanjatkan syukur.

Kita tidak mungkin mengetahui apa yang akan kita lupakan di kemudian hari, tetapi saat ini juga kita dapat selalu mengingat untuk mengucap syukur dan memuji nama Allah.

ORANG YANG BERSYUKUR DIBERKATI DUA KALI YAKNI KETIKA BERKAT ITU DITERIMA DAN DIINGAT