Rabu, 27 Juli 2016

ANAK PANAH DI TANGAN TUHAN...

Pernahkah engkau mengalami suatu keadaan yang membuat hidupmu seperti ditarik mundur, jauh dari harapan?

Pernahkah engkau melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat bahkan lenyap dari peredaran?

Pernahkan engkau melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah kamu lihat (atau bahkan dirimu sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak hasil?

Seandainya pernah, engkau tidak sendirian. Ada banyak orang yang pernah mengalami hal seperti itu, diantaranya adalah saya.

Kita seperti anak panah di tangan Tuhan..!
Tuhan yang tahu ke manakah anak panah itu akan diarahkanNYA.

Tuhan yang tahu seberapa jauh DIA mesti menarik ke belakang anak panah itu agar dapat melesat menuju sasaran yang tepat.

Ada masa-masa ketika anak panah itu melesat cepat terlepas dari busurnya menuju sasaran yang dimaksudkan. Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam kantong-Nya.

Namun di saat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam busur-Nya ditarik kebelakang, kemudian dilesatkan sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran.

Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh. Semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat.

Karena itu,
Jika engkau seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah. Tuhan tengah meletakkanmu di busur-Nya.

Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat engkau dilepaskan, kau memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran.

Dan jika engkau melihat seorang teman seperti tengah mengalami kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan, "Apinya telah padam."

Jadilah teman yang baik, yang mendampinginya saat ia sedang "dimundurkan", karena dengan demikian engkau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai.

Kamu, aku, dia, mereka... adalah anak-anak panah di tangan Tuhan.
Hidup kita adalah untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan

Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah bekerja keras, tetaplah melakukan yang terbaik, karena semua akan indah pada waktunya.

Bersyukur Senantiasa

Fanny Crosby menulis lebih dari 8.000 lagu rohani. Meskipun buta sejak usia 6 minggu, ia tidak mempersalahkan Tuhan atas hal itu.

Suatu kali seorang hamba Tuhan berkata kepadanya, "Sayang sekali ya, Sang Pencipta tidak memberi Anda penglihatan, padahal Dia memberikan banyak sekali karunia lain pada Anda." Fanny menjawab, "Tahukah Anda, seandainya pada saat lahir saya bisa mengajukan permohonan, saya akan meminta agar dilahirkan buta?" Hamba Tuhan itu terkejut. "Mengapa?" tanyanya. "Karena bila saya naik ke surga nanti, wajah pertama yg akan saya lihat adalah wajah Sang Juru Selamat!" Sungguh sebuah hati yg berlimpah dengan rasa syukur.

Paulus mendorong jemaat di Efesus, agar hidup sebagai anak Tuhan, antara lain dengan mengucap syukur atas segala sesuatu (Ef. 5:20). Mengucap syukur "atas segala sesuatu", bukan nasihat yg mudah, mengingat kesesakan yg sedang dialami sendiri oleh Paulus saat menulis surat ini (Ef. 3:13). Bagi Paulus, mengucap syukur merupakan bagian proses pertumbuhan anak2 Tuhan, untuk menjadi makin serupa dengan Kristus.

Mengucap syukur tidak hanya menunjukkan seseorang mengalami berkat Allah, tetapi juga menunjukkan kepercayaan yg penuh kepada Allah, yakin bahwa Dia tahu yg terbaik.

Saudaraku, bagaimana dengan ucapan syukur dalam hidup kita? Mengucap syukur atas segala sesuatu, berarti lebih dari sekadar ungkapan sukacita, ucapan syukur kita menjadi ungkapan iman, bahwa di dalam segala keadaan Allah senantiasa bekerja, berkarya, & memberikan yg terbaik. "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah & Bapa kita" (Ef. 5:20)

Senin, 25 Juli 2016

Bukan Kasih Biasa

Tahun 1979. Pengungsi Vietnam membeludak di Hongkong. Camp Jubilee, barak polisi berkapasitas 900 orang dipadati 8000 pengungsi. Lantai bawah gedung itu menjijikkan. Kotoran manusia & air seni menumpuk setinggi 20 cm.

Jika saat itu ada di sana, akankah Anda bergabung bersama Gary Stephens, & 30 relawan yg membersihkan kotoran manusia, memperbaiki toilet & pipa2 pembuangan?

Mereka membayar sendiri biaya perjalanan, untuk melakukan pekerjaan yg tidak mau dilakukan orang lain itu. Para pengungsi heran. Siapa orang2 ini? Kasih mereka bukan kasih biasa.

Kasih yg tampak mustahil adalah karakter Allah sendiri, & umat Allah diperintahkan untuk mencerminkan-Nya (1 Yoh. 3:23,24). Menuruti perintah Allah ini, menunjukkan seseorang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, yg berdiam di dalam diri tiap pengikut Kristus.

Rasul Yohanes jelas tidak membicarakan jenis kasih, yg secara alamiah muncul untuk anggota keluarga, atau orang yg baik pada kita. Ia menulis kepada jemaat, yg sedang menghadapi banyak tekanan & kebencian.

Kasih yg dijelaskannya merupakan penanda anak2 Allah, yg hanya dapat mengalir karena seseorang telah mengalami kasih Allah, & Roh-Nya diam di dalam mereka (1 Yoh. 3:24). Saudaraku, kasih Allah yg mengalir melalui Gary & tim, membawa banyak orang berjumpa dengan Sumber kasih itu: Allah sendiri. Apakah ini menggambarkan kualitas kasih, yg kita miliki hari ini? Adakah kasih kita mengalir, dari kecenderungan manusiawi atau dari karya Roh Kudus? "Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, & supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yg diberikan Kristus kepada kita. Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah & Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yg telah Ia karuniakan kepada kita." (1 Yoh. 3:23,24)

selamat beraktivitas. TUHAN MEMBERKATI

Rabu, 20 Juli 2016

Mengasihi Sesama

Graham Staines bersama keluarganya meninggalkan Australia, untuk hidup sebagai misionaris di India. Mereka melayani penderita penyakit kusta di daerah terpencil. Namun peristiwa tragis menimpanya, setelah 35 tahun ia melayani.

Pada 1999, ia & kedua putranya dibakar hidup2 dalam mobil mereka, oleh sekelompok orang yg menentang pelayanannya.

Istrinya berkata, "Saya kadang bertanya2, mengapa Graham tewas & pembunuhnya bertindak begitu brutal.... Saya tidak berniat menghukum mereka.... Saya ingin & berharap mereka bertobat & berubah." Ucapan istri Graham melukiskan dengan indah, konsep kasih baru yg diajarkan Yesus.
Jika hukum Taurat memastikan orang jahat menerima ganjaran setimpal (Mat. 5:38,43b);
Yesus mengajarkan bahwa yg jahat juga perlu dikasihi & didoakan (Mat. 5:39-44).
Sikap ini mencerminkan karakter Bapa, yg mengasihi semua orang (Mat. 5:45).
Kesempurnaan kasih Bapa, merupakan tolok ukur kasih anak2Nya (Mat. 5:48).
Kata "sempurna" di sini diterjemahkan dari kata Yunani teleios.

Artinya bukan keadaan tanpa cela, melainkan kematangan rohani. Mengasihi semua orang, termasuk musuh sekalipun, merupakan salah satu tanda kedewasaan rohani.

Saudaraku, bagaimana dengan kasih kita? Tidak jarang kita berpikir, kita sudah cukup mengasihi sesama. Tetapi, sebenarnya itu terbatas pada mereka, yg baik terhadap kita. Bagaimana sikap kita ketika disakiti, difitnah, atau diperlakukan sewenang2 oleh orang lain?

Mari mohon agar melalui situasi tersebut, Allah menolong kita belajar mengasihi, sama seperti Bapa mengasihi. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yg di sorga adalah sempurna." (Mat. 5:48)

Jumat, 15 Juli 2016

MENGUDUSKAN diri

Yosua 3:1-8
Pasal ini akan membawa kita melihat peristiwa luar biasa yg dikerjakan Allah kpd bangsa Israel dibawah kepemimpinan Yosua.

Hal yg menarik untuk diperhatikan adalah bahwa mereka harus berjalan di belakang (mengikuti) Tabut Perjanjian Tuhan (3:3). Bukan hanya itu, jarak antara mrk dgn Tabut Tuhan-pun telah diatur yaitu sekitar 2000 hasta atau kurang lebih 900 meter (ay. 4) ini dimaksudkan agar mrk tdk tersesat pada jalan yg mrk tempuh. Dengan kata lain Tabut Tuhan mjd kompas dan sekaligus perlindungan mrk selama dlm perjalanan (sebab jalan itu belum pernah mrk lalui, ay.4).

Tabut Tuhan memainkan peran penting sepanjang sejarah Israel diantaranya : peristiwa penyeberangan sungai Yordan (Yosua 3-4), peristiwa jatuhnya Yerikho (Yosua 5-6)dan peristiwa di gunung Ebal (Yosua 8:30). Dari semua peristiwa ini, kita akan melihat bahwa Tabut Tuhan melambangkan kehadiran dan tuntunan Tuhan atas bangsa Israel.

Sebelum mrk berjalan mengikuti Tabut tersebut, ada hal penting yg hrs mrk lakukan yaitu bahwa mrk harus MENGUDUSKAN diri.

Sebagai refleksi bagi kita org percaya : sudahkah kita menguduskan hati dan hidup kita setiap kali kita berjumpa dgn Tuhan ? Sudahkah perjumpaan kita dgn Tuhan yg kudus mengubah paradigma dan seluruh hidup kita ?

Sabtu, 09 Juli 2016

Bisakah Tuhan Mengasihi Anda Lebih Dari Sekarang?

Mazmur 89:2 "Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit."

Cinta manusia akan usang oleh waktu; itulah sebabnya ada begitu banyak perceraian di dunia. Saya kenal banyak pasangan yang tidak bercerai, namun mereka tak lagi saling mencintai satu sama lain. Cinta manusia ada batas kadaluarsanya. Cinta manusia akan habis!

Itulah mengapa Anda harus memiliki kasih Allah di dalam pernikahan Anda di dalam semua hubungan Anda - jika Anda mau itu bertahan. Kasih Allah tidak akan pernah habis digunakan. Kasih Allah sabar, teguh, dan tekun.

Bukankah ini satu kabar baik bahwa Allah tak pernah berhenti mengasihi Anda? Apa pun yang Anda perbuat, kasih-Nya tak akan pernah ada habisnya. Kasih-Nya cukup lebar untuk menjangkau semua manusia, dan kasih-Nya cukup panjang untuk ada selama-lamanya.

Allah tidak akan pernah mengasihi Anda lebih banyak dari kasih-Nya sekarang. Tapi Ia juga tidak akan pernah mengasihi Anda lebih sedikit dari kasih-Nya sekarang.

Dia mengasihi Anda di hari-hari baik Anda; Dia juga mengasihi Anda di hari-hari buruk Anda. Kasih-Nya tidak tergantung dari respon Anda terhadap-Nya. Allah adalah kasih, dan kasih-Nya itu diberikan secara cuma-cuma. Kasih-Nya tak bisa dibeli, kasih-Nya sebenarnya tak layak kita terima.

Sambut kasih-Nya dan sembahlah Dia, ketahuilah bahwa kasih-Nya cukup panjang untuk bertahan selama-lamanya: "Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit" (Mazmur 89:2).

Renungkan hal ini:

Kemerdekaan yang seperti apa yang Anda rasakan dalam hidup Anda, ketika Anda mengerti bahwa Allah tidak akan berhenti mengasihi Anda?

Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat Allah lebih mengasihi Anda? Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat Allah lebih sedikit mengasihi Anda?

Menurut Anda bagaimana Allah ingin Anda menanggapi kasih-Nya?

Kasih-Nya cukup lebar untuk menjangkau semua manusia, dan kasih-Nya cukup panjang

Rabu, 06 Juli 2016

Perlu Diaduk

Di suatu siang yg panas terik, dua pemuda mampir ke warung makan memesan es teh. Selang beberapa menit, dua gelas es teh tersebut telah terhidang. Sama persis.

Setelah menyeruput sedikit, yg seorang berkata, "Kawan, sepertinya minuman kita tertukar. Teh ini rasanya hambar padahal saya memesan teh manis". Temannya menyeruput teh di depannya, "Tapi, ini teh tawar sesuai pesanan saya. Minuman kita tidak tertukar". Setelah diamati, minuman mereka memang tidak tertukar. Di dasar gelas pertama, ada gula setinggi satu centimeter. Gulanya belum diaduk, sehingga tehnya terasa hambar. Setelah gula itu diaduk, barulah teh manis bisa dinikmati.

Kehidupan orang kristiani juga seringkali demikian, sukar dibedakan dari yg bukan kristiani. Banyak orang non kristiani juga percaya kepada Tuhan yg Mahaesa, rajin beribadah & berbuat baik.

Rasul Yakobus bahkan mengingatkan, bahwa setan2 pun percaya kepada Tuhan & gemetar terhadap-Nya (Yak. 2:18). Perbedaan baru bisa dirasakan, ketika iman itu menyatu dengan perbuatan (Yak. 2:22). Yakobus mencontohkan: ketaatan Abraham menunjukkan imannya kepada Allah yg berkuasa & menepati janji-Nya; tindakan Rahab menunjukkan imannya kepada Allah Israel. Iman perlu "diaduk", sehingga menyatu dengan perbuatan kita sehari2.

Saudaraku, proses "diaduk" menjadi proses yg memerlukan kerendahan hati, & kerap terlewat dalam kehidupan beriman kita, sehingga terkadang keberadaan kita di tengah masyarakat tak bisa memberi "rasa" apa2.

Mari memeriksa diri: Apakah yg saya yakini tentang Allah, dapat dirasakan dalam perbuatan saya? Apakah lewat perbuatan saya, orang bisa mengenali iman saya kepada Allah? "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan2 & oleh perbuatan2  itu iman menjadi sempurna." (Yak. 2:22)

Minggu, 03 Juli 2016

MENATA HATI

Alkisah, ada pasangan muda yang baru saja menikah, tengah menempati rumah baru di sebuah perumahan.
Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca melihat tetangganya sedang menjemur kain.
“Cuciannya kok kelihatan kurang bersih ya,” kata sang istri. “Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus.”
Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu, setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama, tentang kurang bersihnya si tetangga dalam mencuci pakaiannya.
Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian yang dijemur tetangganya tiba-tiba terlihat begitu cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya: “Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya?”

Sang suami berkata, “Saya bangun pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita…” Istrinya hanya tertegun mendengar penjelasan tersebut.
Dan begitulah kehidupan ini berjalan. Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela), lewat mana kita memandangnya.

Jika hatimu bersih, maka bersih pula pikiranmu..
Jika pikiranmu bersih, maka bersih pula perkataanmu..
Jika perkataanmu bersih, maka bersih pula perbuatanmu..
Hati, pikiran dan perkataan kita mencerminkan hidup kita..
Jika ingin hidup kita berkembang, maju dan sukses…Maka kita harus menjaga hati, pikiran, dan perkataan kita

Pesan Moralnya adalah:
HATIMU menentukan PIKIRANMU..
PIKIRANMU menentukan PERKATAANMU..
PERKATAANMU menentukan MASA DEPANMU.