Filipi 3:13, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak
menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku
melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Dr. J. LEIMENA
==============
"Om Jo" begitu ia biasa disapa oleh orang-orang yang akrab atau
mengenalnya secara dekat. Semasa hidupnya dikenal bukan saja sebagai
dokter yang baik, tulus, jujur dan setia kawan melainkan juga
seorang negarawan sejati yang profesional, terbuka, sederhana, dan
kuat imannya. Ia lahir pada 6 Maret 1905 di tengah-tengah keluarga
guru. Orangtuanya adalah guru sekolah di kota Ambon. Sejak usia 5
tahun, setelah ayahnya meninggal, ia diasuh oleh pamannya yang juga
seorang guru.
Disiplin Sejak Kecil
--------------------
Tahun 1914, J. Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) mengikuti sang
paman. J. Leimena adalah pribadi yang sangat disiplin dan sederhana.
Berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki. Ia bangun subuh untuk
membantu pekerjaan rumah tangga di keluarga pamannya.
Di Batavia, Johannes meneruskan studinya ke ELS (Europeesch Lagere
School), namun hanya beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah
menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang), sekolah menengah
terbaik saat itu. Dari sini ia melanjutkan ke MULO Kristen, kemudian
STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen). Dengan
keaktifannya di Jong Ambon, Johannes ikut mempersiapkan Kongres
Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda!
Perhatian Johannes pada pergerakan nasional kebangsaan berkembang
sejak pertengahan tahun 1920-an. Ia mengagumi para tokoh seperti:
M.H. Thamrin, Dr. Sam Ratulangi, Agus Salim, Kusumo Utoyo, dan
Kusumoyudo yang selalu memihak pada pergerakan nasional.
Gerakan Oikumene
----------------
Johannes adalah orang yang taat pada agama. Pada masa mudanya ia
telah mengikuti katekisasi gereja yang diberikan oleh pendeta-
pendeta yang berpendidikan tinggi teologi. Buku-buku teologi
karangan Calvin, Luther, dan Karl Barth habis dibacanya.
Pengetahuan yang mendalam tentang kekristenan membuat Johannes
tertarik pada gerakan "Oikumene yang melanda gereja-gereja Asia
ketika itu". Gerakan oikumene diketahuinya mula-mula dari kalangan
Zendingsconsulaat Batavia yang giat melakukan penginjilan mahasiswa.
Keprihatinan atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap
nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niat Johannes
terlibat jauh pada gerakan ini. Tahun 1926 Johannes diberi tugas
mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini
adalah perwujudan pertama geliat oikumene di kalangan pemuda
Kristen. Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Johannes terus
mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk di tahun
ke-4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI
(Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.
Parkindo dan DGI
----------------
Tahun 1945 Partai Kristen Indonesia terbentuk. Johannes mempunyai
andil besar hingga partai ini berdiri. Tahun 1950 ia terpilih
sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957.
Selain di Parkindo, Johannes berperan penting dalam pembentukan DGI
(Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga di tahun 1950. Di
lembaga ini ia terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi
Gereja dan negara. Ketika melayani di kedua lembaga ini, Johannes
sering menekankan pada warga gereja agar bertanggung jawab atas maju
mundurnya keadaan bangsa. Termasuk dalam pengertian itu adalah hak
untuk menyatakan tidak setuju terhadap keadaan atau peristiwa yang
dianggap tidak sesuai dengan keyakinan Kristen. Bagi Johannes proses
kenegaraan harus dilihat secara teologis, dari sudut pandang
kelahiran dan kematian Kristus sekaligus. Ia berpendapat, umat
Kristen harus memancarkan sinar kasih Kristus pada masyarakat dan
negara melalui peran aktif mereka.
Dokter Bertangan Dingin
-----------------------
Johannes mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930. Pertama kali
diangkat sebagai dokter pemerintah di CBZ Batavia (kini RS Cipto
Mangunkusumo). Tak lama di sini ia ditugaskan di Karesidenan Kedu
saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit
Zending Immanuel Bandung. Di rumah sakit ini ia bertugas dari tahun
1931 sampai 1941 dan bertemu jodohnya, Wijarsih Prawiradilaga, yang
bekerja sebagai kepala asrama putri rumah sakit tersebut. Mereka
menikah di Gereja Pasundan Bandung setelah Wijarsih dibaptis pada
1931. Mereka dikaruniai 8 orang putera-puteri.
Sebagai dokter, Johannes memang dikenal bertangan dingin. Orang
sakit yang dirawatnya jarang ada yang tidak sembuh. Harapan
kesembuhan dan rasa sejahtera selalu diberikan pada setiap
pasiennya. Operasi usus buntu dapat diselesaikannya dengan sempurna
dalam waktu 15 menit, padahal dokter lain butuh waktu 30 menit. Di
kalangan rakyat kecil sekitar rumah sakit tempatnya bertugas ada
istilah 'salep Leimena' sebab penyakit kulit ringan yang diobatinya
selalu sembuh dengan balsem darinya yang banyak terdapat di rumah
sakit.
Setiap pagi sebelum memulai tugas, Johannes selalu mengikuti
kebaktian singkat di rumah sakit. Sering kali ia sendiri yang
memimpin ibadah. Di waktu luang ia membaca buku karangan Thomas A.
Kempis berjudul Imitatio Christi.
Kesederhanaannya sejak dulu dirasakan juga oleh mereka yang bekerja
dengannya. Hubungan kerja dan sikapnya terhadap atasan ataupun
bawahannya tidak berbeda. Setiap orang dilihat sebagai makhluk Tuhan
yang sama kodratnya. Tidak heran bila semua rekan kerja dan pasien
di rumah sakit sangat mengaguminya. Di Bandung, salah satu bagian
yang ditanganinya adalah bagian 'anti opium' yang merawat para
korban narkoba, pecandu morfin. Selain perawatan medis ia memberi
perawatan rohani.
Pada 1941, Johannes dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Bayu Asih
Purwakarta dan menjadi direktur di sana. Ketika Jepang menduduki
Indonesia, Johannes ditangkap atas tuduhan mata-mata oleh Kenpetai
(polisi rahasia Jepang). Ia diinterogasi dengan cara disiksa hingga
fisiknya rusak dan hampir mati. Namun Tuhan mengasihinya. Suatu
ketika pemimpin Kenpetai terserang malaria, Johannes dipanggil untuk
mengobatinya, dan ternyata perwira Jepang itu dapat disembuhkan. Ia
sangat berterima kasih pada Johannes dan kemudian membebaskannya
dari penjara. Selanjutnya ia ditugaskan menjadi direktur di Rumah
Sakit Tangerang hingga tahun 1945.
Negarawan Sejati
----------------
Setelah Indonesia merdeka, Johannes memulai karier politiknya. Latar
belakang pergerakan oikumene dan pergerakan nasional, serta sikapnya
yang tenang dan berdedikasi tinggi sangat membantu dalam
pengabdiannya pada negara. Ketaatan menjalankan perintah agama dan
sikapnya yang jujur begitu menonjol. Walau hubungannya dengan
Presiden Soekarno cukup dekat, ia tidak segan-segan mengkritik dan
mengemukakan pendapatnya dengan terus terang. Soekarno sering
menjuluki Johannes 'Domine Leimena' (Pendeta Leimena), karena ia
tidak pernah meninggalkan tugas-tugas pastoral sebagai orang
Kristen. Menurut Soekarno kejujuran Johannes seperti "Yesus dari
Nazaret". Johannes sering pula menjadi penengah antara Soekarno dan
pembantu-pembantu terdekatnya atau lawan-lawan politiknya.
Pertama kali Johannes diangkat sebagai Menteri Kesehatan, dan ia
menjabatnya selama 8 periode. Kemudian ia pernah pula menjabat
Menteri Negara pada Kabinet Hatta, Menteri Sosial Kabinet Karya,
Menteri Distribusi Kabinet Kerja I dan akhirnya menjadi Wakil
Perdana Menteri dalam pemerintahan Soekarno. Tugas sebagai 'pejabat
presiden' selalu dipercayakan padanya bila Soekarno berhalangan atau
bertugas di luar negeri.
Ketika Orde Baru berkuasa, Johannes melepas tugas-tugasnya sebagai
menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota
DPA (Dewan Pertimbangan Agung), sampai tahun 1973. Di masa ini pun
Johannes mampu mengatasi berbagai masalah negara dengan
kepribadiannya yang luwes.
Usai berkiprah di DPA, Johannes kembali melibatkan diri di lembaga-
lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo,
DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI
(Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Johannes diangkat menjadi
anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula
menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.
Bulan Maret 1977, Johannes pergi menghadap Tuhan. Kepergiannya
ditangisi seluruh rakyat negeri ini. Berbagai penghargaan dan tanda
jasa kehormatan pernah diberikan kepadanya. Peran yang begitu
penting bagi bangsa dan negara telah dijalaninya. Menurutnya,
politik adalah seni untuk melakukan pelayanan. Karena itu dalam
berpolitik, bukan posisi yang harus diraih tetapi motivasi yang kuat
untuk melayani, menjadi garam, dan terang bagi bangsa.