Senin, 13 Juni 2016

Remisi

Seorang narapidana memperoleh remisi, antara lain karena ia dianggap berkelakuan baik selama berada di dalam penjara. Kebaikan membuahkan pengurangan hukuman.

Anugerah Allah bekerja sebaliknya. Dia mencurahkan anugerah justru karena kita durhaka, & tidak mampu memperbaiki diri dengan kekuatan sendiri.

Daud sangat menyadari hal ini. Ketika berzina dengan Batsyeba, ia sedang berada di puncak kejayaan sebagai raja Israel. Bangsanya mengenalnya sejak ia menjadi pahlawan kecil, yg secara mengejutkan menumbangkan raksasa Goliat.

Selanjutnya ia memimpin pasukan Israel ke dalam berbagai kemenangan, sehingga ia dielu2kan oleh rakyat. Ketika akhirnya menjadi raja, ia juga mencatat prestasi mengesankan:

mengembalikan tabut Allah yg dirampas bangsa Filistin ke Yerusalem, meraih sekian banyak kemenangan militer, & menunjukkan kebaikan yg tulus kepada Mefiboset.

Namun, saat bertobat dari dosanya, ia tidak mengutip satu pun pencapaian itu, sebagai senjata untuk "merayu" Allah agar mengurangi hukuman-Nya. Sama sekali tidak. Menarik dicatat pula, ia hanya berseru, "ya Allah" bukan "ya Allahku". Ia menyadari betapa parah dosa, merusak hubungannya dengan Allah. Maka, ia hanya meminta belas kasihan, kasih setia, & rahmat Allah Yang Mahabaik. Kebaikannya selama ini tidak berguna untuk meringankan dosa; hanya anugerah Allah yg sanggup mengampuni & menebusnya.

Saudaraku, Apakah Anda bergumul dengan suatu pelanggaran, & merasa harus melakukan perbuatan baik tertentu untuk menebusnya? Berhentilah bergumul seperti itu. Ikutilah teladan pertobatan Daud. "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yg besar!" (Mzm. 51:3)