Minggu, 14 Juni 2015

Kisah Dibalik Lagu "Sentuh Hatiku"

Mungkin banyak yang dengar lagu sentuh hatiku, yang dinyanyikan oleh Maria Shandy dan Jason.
Akan tetapi dibalik lagu itu ternyata ada sebuah kisah yang luar biasa.
Pencipta lagu ini adalah seorang anak Tuhan.

Kisah didalam lagu itu adalah milik teman sekolahnya.
Temannya itu diperkosa oleh ayahnya sendiri dan menjadi gila, sehingga harus dipasung(dirantai) dirumahnya.
Ia suka datang dan mendoakan anak itu sambil sesekali menulis lirik lagu..

waktu pun berlalu…

Diapun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Suatu ketika anak perempuan itu menelpon dia. Tentu saja kaget bukan main, krn anak itu kan gila. dipasung pula? kok skrg bisa lepas? telp pula?

Akhirnya anak perempuan itu cerita, suatu hari entah karena karat atau bagaimana rantainya lepas. Satu hal yang langsung dia ingat, dia mau bunuh bapaknya!

Tetapi saat dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata :“Kamu harus maafin papa kamu.”
Tetapi anak itu tidak bisa dan dia terus menangis, memukul, dan berteriak. Sampai akhirnya Tuhan memeluk dia dan berkata : “Aku mengasihimu”

Walaupun bergumul akhirnya anak itupun memaafkan papanya, mereka sekeluarga menangis dan boleh kembali hidup normal.

Dari situ lah lagu sentuh hatiku ditulis,

Betapa kumencintai, segala yang t’lah terjadi
tak pernah sendiri jalani hidup ini selalu menyertai

Betapa kumenyadari, di dalam hidupku ini
kau slalu memberi, rancangan terbaik oleh karena kasih

Reff :
Bapa, sentuh hatiku, ubah hidupku, menjadi yang baru
bagai emas yang murni, Kau membentuk bejana hatiku
Bapa, ajarku mengerti
, sebuah kasih, yang selalu memberi
bagai air mengalir, yang tiada pernah berhenti
Kisah diatas sungguh2 terjadi, semoga bisa menginspirasi kita agar bisa merasakan kasih Tuhan yang luar biasa.

Kisah Pejuang Iman di Tanah Batak

Pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson

Hari yang indah. Pada tanggal 9 Juli 1833, para jemaat di Boston, Amerika Serikat, membuat perjamuan gereja. Dalam pesta itu, semua perhatian orang tertuju pada dua pendeta muda, Samuel Munson dan Henry Lyman. Esok, mereka akan berangkat membelah samudera menuju sebuah negeri jauh yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Tidak ada jadwal pasti untuk kembali.
Negeri itu bernama Hindia Belanda, yang kelak akan menjadi tanah pekuburan mereka sendiri. Munson dan Lyman menumpang kapal bernama “Dunkan”, dengan sebuah acara pelepasan yang mengharukan dari anggota jemaat Gereja Boston. Keduanya melambai dan menatap para jemaat yang berbaris di bibir pelabuhan, hingga Benua Amerika lenyap sama sekali di belakang.

Setelah berlayar selama 105 hari, Munson dan Lyman melihat sosok Pulau Jawa, dan kapal mereka merapat ke Batavia. Di kota yang sedang berkembang ini, keduanya mendapat sambutan dari seorang rohaniawan berkebangsaan Inggeris, Pendeta Madhurst. Untuk memudahkan komunikasi selama dalam misi, kedua pendeta yang baru tiba itu segera mempelajari bahasa Melayu sambil membuka praktik pengobatan. Memang, selain dibekali pengetahuan teologia, mereka juga dibekali keterampilan medis. Dari surat-surat yang mereka kirimkan ke Boston, diketahui bahwa mereka sangat sibuk dengan para pasien yang datang tiap hari.
Setelah menguasai Bahasa Melayu, Munson dan Lyman mulai mengurus izin pada pemerintah Belanda untuk keberangkatannya ke Tanah Batak. Gubernur Jenderal Pemerintahan Belanda di Batavia meluluskan permintaan mereka. Tanah Batak adalah impian Munson sejak ia sekolah pendeta di negerinya. Ia mendapatkan literatur yang menceritakan keindahan kawasan ini, berikut masyarakatnya yang masih menganut kepercayaan kuno, sipelebegu (sejenis animisme).
Tepat pada hari Minggu, 6 April 1834, Pendeta Madhurst mengadakan perjamuan suci untuk keberangkatan kedua pendeta ini. Dua hari kemudian, Munson dan Lyman berangkat meninggalkan anak isteri mereka di Batavia dengan menumpang kapal besar “Mederika”. Mereka berada di antara para serdadu Belanda beserta tawanannya.
Keduanya kagum melihat keindahan Pulau Sumatera yang terdiri dari pegunungan, lembah, dan hutan yang sangat luas. Tapi pelayaran kali ini tidak terlalu ramah. Gelombang besar menghantam lambung Mederika. Seisi kapal diaduk-aduk. Para penumpang terpental dan kepanikan pun terjadi. Seorang tawanan Belanda menemui ajalnya setelah terhempas pada tiang layar. Mayatnya kemudian dibuang ke laut.
Pada 19 April 1834, atau sebelas hari sejak keberangkatan dari Jawa, mereka tiba di Bengkulu. Munson dan Lyman tinggal di sini selama 4 hari. Lalu pada tanggal 26 April 1834, mereka sudah menjejakkan kaki di Padang. Pendeta Ward menyambut keduanya. Munson dan Lyman mendapat banyak informasi penting dari beliau, karena Ward sudah pernah mengunjungi Tanah Batak pada tahun 1824. Menurut Pendeta Ward, orang Batak adalah masyarakat yang ramah tamah. Pendeta Ward juga menceritakan penyambutan raja-raja Batak terhadap dirinya yang disertai tarian (tortor).
Akhirnya, pada 17 Juni 1834, Munson dan Lyman tiba di Tanah Batak untuk pertamakalinya, yakni Sibolga. Tuan Bonnet, seorang pejabat Belanda, menyambut mereka dengan hangat. Dia bahkan memberikan perlengkapan untuk keberangkatan mereka selanjutnya ke arah Silindung. Dalam perjalanan, Munson dan Lyman disertai seorang penerjemah, tukang masak, polisi, dan 8 pendamping lain. Rombongan kecil ini berangkat pada suatu sore yang teduh tanggal 23 Juni 1834, menembus belantara, lembah, dan pegunungan yang bergelombang, selama 6 hari. Kadang-kadang, mereka harus merangkak seperti ekspedisi kelompok pecinta alam ketika melalui medan yang sangat sulit.
Rura Silindung yang mereka tuju adalah sebuah lembah yang datar dan indah di sebelah utara Tapanuli.
Dari puncak-puncak Bukit Barisan, panorama lembah hijau ini mampu menggetarkan jiwa siapapun yang memandangnya. Kelak, di salah satu puncak bukit pinus, pendeta sederhana asal Jerman yang sangat dihormati orang Batak, Ingwer Ludwig Nommensen, memandang dataran itu, lalu berlutut menatap langit seraya menyampaikan satu permohonan dengan bibir yang gemetar. Doa itu sangat terkenal hingga hari ini. “Tuhan, hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa Batak untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu. Amin.” Bukit itu kini dinamakan Siatas Barita. Di puncaknya, pemerintah mendirikan satu tugu relijius sebagai peringatan pada Pendeta Nommensen, yakni Salib Kasih.
Ketika sampai di kampung Raja Suasa, Pendeta Munson dan Lyman menerima saran dari Raja Suasa agar mereka menginformasikan lebih dulu kedatangannya di Silindung. Saat itu, suasana di Rura Silindung (sekarang Kota Tarutung) memang masih diwarnai kemelut akibat ekses dari Perang Bonjol. Namun Munson dan Lyman memilih menghemat waktu agar segera tiba di Silindung. Tepat enam hari sejak berangkat dari Sibolga, satu sore yang indah menyambut mereka di pinggiran sebuah kampung. Munson mengutus penerjemah untuk mengetahui keadaan di kampung tersebut sebelum memasukinya. Namun setelah beberapa jam, si penerjemah tak kunjung kembali. Menimbang cerita Pendeta Ward, kedua misionaris itu tidak curiga kalau-kalau sesuatu telah terjadi.
Dalam keadaan yang belum dapat memutuskan tindakan selanjutnya, tiba-tiba semak belukar di sekitar mereka terkuak dan berderak. Serombongan orang muncul dari balik pepohonan seraya berteriak, “Mulak, mulak ma hamu!” (Pulang, pulanglah kalian!). Kedua missionaris itu terkejut, dan pada saat yang sama mereka menyadari bahwa para pengikut lain telah menghilang entah kemana, kecuali Jan.
Munson dan Lyman, dengan bahasa isyarat sesanggupnya, berupaya menggambarkan maksud tulus kedatangan mereka ke daerah itu. Tapi komunikasi tampaknya tidak nyambung, dan terjadilah salah pengertian. Melihat gelagat yang makin buruk, tiba-tiba Jan mengambil bedil yang dibawa Munson dari Padang, dan hendak menembakkannya ke arah orang ramai itu. Tindakan itu dicegah Munson. Tapi sayang, pada saat yang hampir bersamaan, terdengar letusan bedil dari arah lain dan Pendeta Lyman roboh bercucuran darah.
Detik-detik berikutnya makin menegangkan dan memperkecil peluang untuk saling pengertian. Munson yang malang masih mencoba memberi isyarat dengan menunjukkan Alkitab yang dibawanya, tapi suasana terlanjur panas dan chaos. Ia dipukuli hingga jatuh tanpa melawan maupun menunjukkan rasa takut. Jan melarikan diri dan bersembunyi di kerapatan hutan. Ia berhasil lolos dan kembali ke Sibolga dalam keadaan payah, lalu menemui Tuan Bonnet. Informasi tentang insiden tersebut digambarkan oleh Jan.
Dari versi masyarakat Batak sendiri, kelompok yang terlibat dalam penyergapan di Puncak Lobu Sisakkap, Desa Dolok Nauli, Adiankoting, tersebut adalah Raja Panggalamei Lumbantobing dan pengikutnya. Raja Panggalamei digambarkan sebagai seorang laki-laki perkasa dengan tinggi badan lebih dari 2 meter. Tenaganya luar biasa hingga dapat melemparkan tanah dengan cangkul sejauh 3 sampai 8 km. Saat itu, sebagai penjaga wilayah, Raja Panggalamei mendapat informasi bahwa orang Belanda (si bontar mata) sedang menuju Tanah Batak dengan tujuan memulai penjajahan. Raja-raja turunan Siopat Pisoran lantas berembuk dan membuat kesepakatan untuk memanfaatkan kekuatan Raja Panggalamei untuk menjaga Puncak Lobu Sisakkap sebagai perbatasan dan pintu masuk dari selatan menuju Rura Silindung.
Keturunan Raja Siopat Pisoran adalah penghuni terbesar kawasan Rura Silindung. Ketika Munson dan Lyman tiba di Puncak Lobu Sisakkap, Raja Panggalamei dan pengikutnya langsung menduga bahwa mereka adalah bagian dari rencana awal Pemerintah Belanda yang ingin menguasai Tanah Batak. Setelah penangkapan, terjadilah komunikasi yang tidak saling memahami.
Konon, Raja Panggalamei yang bertanya dengan nada dan ungkapan-ungkapan yang keras khas Batak, telah membuat penerjemah Munson ketakutan dan lari terbirit-birit. Karena tak memiliki penerjemah lagi, Munson mencoba menenangkan suasana dengan isyarat. Ia menyerahkan sepucuk senjata api yang dibelinya dari salah satu toko di Padang dengan maksud memberikan pesan damai. Tapi makna isyarat itu gagal ditangkap oleh Raja Panggalamei, dan ia malah menduga si bontar mata (si mata putih) itu mau menembak dirinya, sehingga ia cepat-cepat angkat pedang dan mengayunkannya pada dua orang berkulit putih itu.
Kedua versi tersebut tentu saja masih membutuhkan penelitian yang lebih rinci agar Sejarah Batak dapat didudukkan pada porsi yang sebenarnya. Bonnet sendiri, seusai menerima kisah Jan, menyimpulkan bahwa Munson dan Lyman telah mati martyr saat menjalankan misi suci di Lobu Pining Adiankoting. Bagi orang Batak Kristen masa kini, kematian mereka adalah pengorbanan besar dalam misi keagamaan terhadap Tanah Batak yang masyarakatnya saat itu masih menganut sipelebegu. Masyarakat Batak Kristen mengenangnya sebagai pendeta yang berjasa pada misi kekristenan di Tapanuli. Sebuah monumen kini dibangun di tengah perladangan yang sepi di Lobu Pining, Kecamatan Adiankoting, di mana tulang belulang mereka dikebumikan. Monumen itu sekitar 20 km dari Kota Tarutung ke arah Sibolga.
Samuel Munson lahir tanggal 23 Maret 1804 di New Sharser Maine, sedang Henry Lyman lahir tanggal 23 November 1809 di Northhampton, Amerika Serikat. Dari catatan sejarah, kedua missionaris ini berbeda karakter dan intelijensi sejak masa kecilnya. Munson adalah seorang anak yang pintar dan cerdas, sementara Lyman seorang anak yang sampai masa remajanya menunjukkan sikap yang sangat anti terhadap keagamaan walaupun pada akhirnya masuk ke sekolah pendeta dan bertemu dengan Samuel Munson. Setelah tamat dari sekolah pendeta di Androver tahun 1832 dan menikah pada tahun 1833, mereka dipersiapkan sebagai missionaris menyebarkan berita Injil ke Tanah Batak yang indah tiada tara.

Dr. Ingwer Ludwig Nommensen

Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu untuk melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan.
Maka tak heran, suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr. Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak.
Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun.
Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselscha ft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun.
Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Animesme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.
Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.
Impian dari kesederhanaan
Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.
Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain.
Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul maka ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul, ia pun sembuh.
Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.
Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.
Dari Norsdtrand ke Silindung
Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Belanda).
Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”
Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr. H. N. Van der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak.
Setelah mendapatkan mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862. Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga.
Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Islam, ia melihat adanya nilai pluraritas antarsuku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.
Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.
Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.
Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.
Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Amandari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.
Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun menangguhkan perjalanan dan kembali ke Silindung.
Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.
Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.
Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir. Maka, pada 1893 Pendeta J. Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.
Misi zending tak berhenti sampai di sana. Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.
Zending inkulturatif
Misi Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman.
Nommensen juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski sang penabur kelak telah tiada. Barangkali, Gereja Dame adalah salah satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya sudah mulai usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah Silindung, Tarutung.
Lokasinya di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai mengajar umatnya dengan teratur. Selain mengajar Alkitab (termasuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja dengan teratur.
Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara” (pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita, tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu kini masih dapat ditemui di sana.
Tercatat pula bahwa sejak tahun 1861 telah berdiri gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar atas misi zending sebelumnya. Kemudian atas Nommensen pada 1862 di Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1864 di Pearaja; 1867 di Pansur Napitu; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1912 di Medan; 1914 di Ambarita dan 1922 di Jakarta.
Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.
Kemudian, pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih (KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana, seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.
Nommensen wafat pada 23 Mei 1918 dan dimakamkan di sisi makam istrinya yang kedua Christine Hander dan putrinya serta missionaris lainnya di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Sejak 1891 ia telah tinggal di sana hingga akhir hidupnya. Kemudian pada 29 Juni 1996 Yayasan Pasopar, lembaga yang peduli dengan kelestarian sejarah kekristenan di Tanah Batak, memugar makamnya dan mengabadikannya menjadi “Nommensen Memorial”.

MEMPELAI YANG LAYAK

Seorang pemuda tampan & berkarakter baik tetapi punya profesi sebagai tukang kebun hendak dijodohkan dgn anak majikannya. Sang majikan mengatakan kepada si tukang kebun bahwa anaknya buta, bisu & tuli. Tukang kebun tampan itu sangat kaget namun tak berani menolak. Ia menyadari dirinya hanya tukang kebun. Seandainya anak majikannya tidak buta, bisu & tuli, mustahil sang majikan merelakannya bersuamikan seorang tukang kebun. Ternyata gadis itu cantik sempurna. "Anakku buta, bisu & tuli terhadap kejahatan. Kau layak mendapatkannya sebagai istri karena ketekunan, ketulusan & kesetiaanmu" ujar sang majikan kepada tukang kebun itu dihari pernikahannya.

Mempelai yg dipandang layak bagi org baik adalah pribadi yg berkarakter baik pula. Bagaimana jika salah satu dari pasangan dipastikan sebagai sosok yg sempurna? Tentu banyak orang merasa sayang jika melihatnya memiliki pasangan yg banyak kekurangan. Kristus adalah Sosok yg sempurna. Maka mempelai yg layak bagi Kristus adalah pribadi yg sempurna pula. Kriteria kesempurnaan mempelai Kristus adalah hidup dalam iman & kebenaran, melakukan kasih, menjaga kekudusan serta hidup dalam kesetiaan.

Kita adalah mempelai Kristus, sebagaimana Kristus sempurna adanya, maka kita sebagai mempelai NYA harus memelihara kehidupan yg sempurna dengan tak bercacat cela pada kedatangan Tuhan Yesus (1Tes 5:23). Jika kita tidak menjaga kehidupan kita, alangkah timpangnya jika Kristus yg sempurna berjalan berdampingan dengan kita yg penuh cacat cela. Hal itu tidak mungkin terjadi. Hanya orang-orang yg telah menerima anugerah Tuhan & yang menjaga hidupnya tetap murni, kudus & tanpa cacat celalah yang layak menjadi mempelai NYA.

Jika hari ini Kristus datang untuk menjemput kita, apakah kita sebagai mempelai sudah siap menyambut NYA ?
Haleluya....
Gbu all

Senin, 08 Juni 2015

Tenang

Menghadapi masalah dengan tenang, dengan sendirinya suasana hati kita penuh dengan kedamaian. »Anonim«

Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

Bagaimana mendapatkan hati yang tenang, tentunya tergantung dari situasi dan kondisi, suasana yang tenang hanya bisa kita dapatkan didalam hadirat Tuhan.

Ketika mata hati kita fokus kepadaNya, maka segala perasaan benci, irihati dan marah menjadi sirna, digantikan oleh damai sejahtera dan sukacita.

Dalam ketenangan pikiran kita menjadi jernih, sudut pandang kita menjadi jelas, sehingga kita dapat memilah milah hal yang baik dan kurang baik.

Hati jadi gembira, tubuh menjadi sehat, hidup penuh gairah dan nikmat, apapun yang kita lakukan jadi berhasil, sebab kasih karuniaNya makin berlimpah dalam hidup kita.

Sabtu, 06 Juni 2015

SUAMI ISTRI ”MAKNA SETIA”


Didalam Pernikahan kristen,  Pernikahan dibangun di atas janji/sumpah setia  yakni untuk menjadi seperti yang diharapkan pasangan, dan  juga  menjadi seperti yang diharapkan Tuhan. Namun hambatan  terbesar  SETIA (Kesetiaan) suami-istri itu ternyata  adalah gaya hidup yang SEMAU GUE, bukan sekehendak Tuhan atau pasangan hidup.
Bukan lagi suatu Rahasia saat ini ketidak setiaan  diantara suami istri sudah terjadi dimana mana termasuk dilingkungan umat percaya.  Perceraian yang dulu dianggab tabu didalam gereja kita, kini sudah tidak tabu lagi. Sumpah setia yang pernah diucapkan di saat pemberkatan nikah  telah begitu gampang diingkari oleh sebagian kecil pasangan suami istri.  Problema lainya adalah  sebagian pasangan suami istri  kini banyak yang salah mengerti tentang makna  kesetiaan itu, Mereka beranggapan yang penting tetap tidak bercerai, apapun yang kita buat itu masih dianggap setia.
Saat ini kita akan membahas apa sesungguhnya makna SETIA itu dan apakah tips untuk menumbuhkan kesetian suami istri,  agar kita bisa menjalani pernikahan dengan lebih salaing membahagiakan diantara suami dan istri.
Makna Setia
Kesetiaan diantara  suami istri  itu tentu ditandai lebih dari sekedar tidak bercerai saja, disana ada unsur unsur dan tanggung jawab  lain yang harus masing masing  pasangan penuhi untuk bisa mewujutkan kesetiaan, yang diidam idamkan oleh setiap suami istri. Saat ini marilah kita melihat apa makna dari SETIA itu:

1)    Di dalam bahasa Inggris kata setia itu Faithful yaitu berasal dari kata iman ‘faith’.  Hal ini memiliki makna bahwa  Kesetiaan itu  tidak bisa dipisahkan dari hidup beriman yang berarti percaya.
Sebagai contoh kita setia kepada pasangan hidup kita (suami atau istri)  sebab kita percaya kepadanya bahwa ia baik dan mengasihi kita, sekalipun ada problema atau masalah yang terjadi di tengah rumah tanggan kepercayaan seperti inilah yang  membantu kita untuk tetap utuh.

contoh lainya kita setia kepada teman sebab kita tahu ia baik dan mengasihi kita untuk itu kita siap berkorban untuknya. Bagaimana dengan kesetiaan  kepada Tuhan ?  Kita  juga setia kepada Tuhan karena kita beriman kepadanya  bahwa :  Tuhan itu mengasihi kita dan Tuhan  akan datang menjemput kita.  Lha yang jadi masalah bila kepercayaan ini dihancurkan oleh pengkianantan,  perselingkuhan atau penipuan yang dilakukan pasangan kita, hal ini akan menyebabkan luka-luka  dalam batin kita, dan diperlukan banyak  energi, perjuangan dan waktu yang  lama untuk memulihkan hingga normal kembali.

2)     Makna yang sederhana dari Setia itu berarti melakukan apa yang kita janjikan.  Ingat  dalam Pemberkatan Pernikahan  kita sudah berjanji untuk menyayangi, mengasihi saat sehat ataupun sakit saat berkelimpahan atau saat kekurangan  maka  wujutkan itu. Kalau suami atau istri berjanji  akan menolong ya tolonglah sepenuh hati  seperti yang mereka harapkan  itulah makna kesetiaan itu.  kalau kita berjanji melakukan sesuatu  namun tidak melakukannya berarti kita Tidak setia.

3)    Setia berarti  mengindahkan  apa yang dikehendaki pasangan. Sesungguhnya tatkala kita menikah kita berjanji untuk melakukan apa yang diharapkan pasangan baik suami maupun istri. Tentu saja tidak semua yang diharapkan dapat dan wajib dilakukan,  Tetapi inilah yang perlu kita ingat. Kesetiaan  akan luntur  manakala kita tidak lagi saling mengindahkan apa yang dikehendaki Tuhan dan pasangan.  Prinsip ini sama seperti yang diucapkan  Tuhan yesus yang sudah mengikat janji untuk saling setia bersama umatnya berkata  dalam  Yohanes 14: 15 “ Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahmu”

TIPS untuk Menumbuhkan KESETIAAN.

Ada 3  hal  penting yang dapat dilakukan suami dan istri untuk menumbuhkan dan mengokohkan kesetiaan pernikahan, agar pernikahan bisa selalu terasa hangat dan menggairahkan antara Lain:

1)    ”Ingatlah selalu untuk melakukan Hukum Emas”. “Apa yang Engkau kehendai orang perbuat kepadamu perbuatlah itu kepada Mereka”  Dalam hubungan dengan suami atau istri,  perbuatlah hal yang sama. Jika kita saling melakukan apa yang diharapkan, maka hubungan itu  akan semakin mengakar, dan kebahagian, suka cita akan menghiasi hidup suami istri.

2)    ” Ingatlah selalu  Tuhan hadir dalam kehidupan suami istri . Itu sebabnya Ia berfirman, “Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan oleh manusia.” (Matius 19:6). Suami atau istri tentu tidak dapat terus menerus berduaan dan saling melihat setiap saat,  karena  kesibukan tugaspekerjaan masing masing. Namun ingat kehadirannya diwakili oleh kehadiran Tuhan, Allah yang selalu melihat  dan menjaga kita 24 jam sehari dari sorga. Itulah sebabnya kita perlu Setia.

3)    ” Inganlah Kasih Setia  Tuhan dan Pasangan Kita.   Dengan mengingat kebaikan dan kasih setia Tuhan,  kita didorong  untuk memegang janji yang telah kita buat kepada-Nya. Ingatlah juga kebaikankasih setia dan  pengorbanan  yang telah dilakukan pasangan hidup demi kita dimasa lalu, jangan lupakan itu dan jadikan ini alasan untuk memegang janji yang kita buat kepadanya.

Sumber: http://www.kadnet.org (KADNet – Keluarga Advent Network)

Jumat, 05 Juni 2015

OUT OF THE BOX

Pada suatu hari, Se-org keturunan Cina masuk ke sebuah bank di kota New York. Dia meminta pada Bank tsb pinjaman sejumlah 5.000 USD selama 2 minggu utk keperluan bisnisnya di Cina.

Si pegawai Bank berkata bhw dia perlu jaminan utk pinjamannya tsb. Yg lgsg direspons oleh pria tsb dgn memberikan kunci ferrarinya yg diparkir di depan Bank tsb.Direktur & pegawai Bank tsb mentertawai kebodohan si org Cina tsb krn menggunakan Ferrari seharga 250.000 USD utk menjamin pinjaman yg hanya 5.000 USD.
Pegawai Bank itu pun sgra memasukkan mobil tsb ke parkir basement Bank tsb.2 Minggu kemudian Si org Cina tsb balik ke Bank & mengembalikan pinjaman 5.000 USD beserta bunganya 15.41 USD.

Si pegawai bank berkata: "Tuan saya sdh meneliti bhw ternyata anda adalah se-org milyarder, saya heran mengapa harus meminjam uang 5.000 usd?"Pria Cina itu menjawab: "Coba pikir, dimana lagi saya bisa memparkir Ferari saya di kota New York ini dgn biaya 15.41 USD selama 2 minggu dgn keamanan yg sgt baik? Jadi siapa yg sesungguhnya mentertawakan siapa?

Kadang kita mrs bhw diri kitalah yg paling pintar & kita menjadi sombong.Ber-hati2lah! Sbb semakin kita sombong justru semakin kita bisa membuat kebodohan.Ketika kita melakukan suatu "KEPINTARAN" yg berada diluar norma2 kebiasaan yg biasa terjadi.

Org akan menganggapnya sebuah kebodohan ato usaha meng-hambur2kan sesuatu.Starbuck menjadi pelopor cafe yg memberikan WIFI gratis. Disaat resto & cafe biasanya ingin agar pelanggannya trs berganti, bukannya duduk ber-lama2 main ato bekerja disana sehingga pelanggan lain sulit cari tempat duduk.

Belakangan Kobodohan-nya ternyata terbukti sbg sebuah strategi yg sgt genius.
"The difference between stupidity and genius is that genius has its limits"
(Perbedaan antara kebodohan dan genius adalah genius mempunyai keterbatasan), think OUT OF THE BOX, dont follow, lead and inovate, cheers.

Senin, 01 Juni 2015

Melayani Tuhan Sejak Muda ~ Robert Liardon

Generasi muda adalah masa depan negara dan kekristenan: bagi Indonesia dan dunia. Generasi muda harus lebih besar, lebih kuat, meraih lebih tinggi, lebih lantang dari generasi sebelumnya.

These things command and teach. (1Tim 4: 11, NKJV)

Timotius masih muda, sekitar 20 tahun. Paulus tidak minta Timotius "menyarankan" pada jemaat, tapi memerintahkan, memberi jemaat tanggung jawab melakukan, dan mengajarkan cara melakukannya.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. (1Tim 4: 12a)

Ps Liardon berkhotbah pertama kali di usia 13 tahun. Tidak perlu mencapai suatu umur untuk mendeklarasikan firman Tuhan. Alkitab mengajarkan: layani Tuhan sejak muda, lakukan pekerjaan Tuhan sejak muda, berani dalam iman saat masih muda.

Tidak ada batasan usia untuk memulai, kita harus memulai saat kita mengenal Kristus

Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. (Kis 2: 17)

Di hari terakhir Yesus akan memakai orang-orang tua, muda, pria, wanita. Di akhir jaman akan ada grup-grup orang yang melayani Tuhan. Wanita pun bisa melakukan apapun yang dilakukan pria, jika Tuhan memerintahkannya: membangun gereja, menjadi nabi, dll. Jangan seorangpun meremehkan seseorang karena dia wanita.

Contoh orang-orang muda untuk melakukan hal-hal besar di Alkitab:
Daud mengalahkan Goliat di usia muda, dan menjadi pahlawan bangsa.
Daniel menjadi nabi di negara asing, mencapai posisi tinggi di pemerintahan sejak muda.
Sadrakh-Mesakh-Abednego orang muda yang tidak mau menyembah patung.

Saat kita berdiri bagi Allah, Dia akan menjagai kita

Saat berusia 12 tahun Yesus ada di bait suci, berdebat dengan pemimpin-pemimpin agama. Kita juga bisa anak-anak muda yang cerdas, sehingga berdiskusi dengan orang-orang yang lebih tua.
Hal yang sama dialami ps Liardon, teman-teman ps Liardon banyak yang usianya 40 an saat dia masih berusia 13 tahun. Anak muda bisa lakukan hal-hal besar ketika mereka masih muda. Ps Liardon tulis buku pertama kali saat usia 17 tahun.

Masalahnya: banyak pengajar tidak membangkitkan anak-anak muda, tapi menginginkan mereka baik-baik, lakukan hal-hal biasa, temukan pasangan, menikah, punya hidup yang baik, datang ke gereja, akhirnya mati. Tapi menurut ps Liardon hidup seperti ini sangat membosankan. Jangan pernah berhenti percaya, tetap maju ke depan, kuasai bumi, impikan yang besar, lakukan yang besar, jangan dihalangi manusia, lakukan hal besar bagi Tuhan.

Orang Kristen harusnya hidupnya menggairahkan, tidak membosankan.

Cara untuk menjadi besar
1. Membaca
Baca banyak jenis buku: Kristen, sejarah, berita-berita, kenali dunia yang sedang kita hidupi, mengerti tentang manusia-uang-pemerintahan, dan Tuhan, dll.
Seseorang yang tidak pernah baca, kepandaiaannya/ intelegen tidak pernah meningkat. Ps Liardon sudah menulis 76 buku. Tidak suka membaca membuat kita menjadi bodoh, kecerdasan kita tetap kecil.

Contoh:
Seseorang belajar dari kehidupannya selama 20 tahun, untuk kemudian menuliskannya di sebuah buku. Pembaca cukup membeli seharga 5 dollar dan membacanya selama 1 minggu, tidak perlu 20 tahun untuk mempelajarinya.

Buku adalah satu cara terbaik kita untuk belajar. Saat kita banyak baca cerita orang, kita akan bisa menang lebih cepat dalam hidup kita. Ps Liardon sudah membaca sekitar 40 ribu buku. Ps Liardon ceritakan ini karena ingin membuktikan bahwa dia melakukan apa yang dia khotbahkan. Saat ini ps Liardon sedang membaca tentang Lee Kwan Yu, pendiri Singapura. Mr Lee membuat sebuah pulau miskin, dan dalam 15 tahun mengubahnya menjadi negara kaya.

2. Belajar melihat sebuah kebesaran, dan belajar daripadanya

Saat melihat sesuatu yang lebih baik dari yang kita miliki, jangan mengkritik, tapi belajar dari mereka.

Dalam pelayanan, saat melihat gereja besar mempengaruhi sebuah kota, bangsa, bahkan menjangkau dunia. Harusnya seseorang tidak marah kepada gereja itu, tapi belajar dari gereja itu. Keberhasilan seseorang bisa dilihat dari apa yang dihasilkan.

Selama 2 hari ps Liardon banyak mendengarkan p Agung bercerita. Ps Liardon ingin melakukan yang sama, ingin mengerti jalan berfikir p Agung, jenis orang-orang di sekitarnya. Saat kita melihat keindahan, keberhasilan dan berkat Tuhan: jangan meng-kritik, perhatikan, dengar, belajar, bertanya, impikan, lalu buat yang sama di tempat lain yang Tuhan perintahkan.

Banyak gereja jadi semakin kecil karena tidak tahu cara belajar dari gereja yang lebih besar
Jika ada orang yang lebih kuat/ maju, jangan dikritik, tapi pelajari kelebihannya.

Banyak orang Amerika merasa sebagai bangsa terbaik, sehingga kehilangan kemampuan untuk memperoleh kebesaran orang dari bangsa lain, misalnya Cina, Afrika, atau Indonesia.

3. Miliki teman yang baik
Kebanyakan orang mempunyai teman yang bodoh, atau teman yang salah.
Tidak semua orang ramah jadi sahabat kita. Teman yang salah: peng-komplain, pendebat. Cari orang yang memiliki kebesaran di dalamnya, bermimpi besar, meraih kebesaran, melakukan hal yang benar, yang hidup benar, jika melakukan kesalahan mereka memperbaikinya dan bertobat.

Seseorang yang tidak bisa mengkoreksi dirinya sendiri, tidak bisa jadi besar.

Milikilah kemampuan untuk menghindar dari orang yang salah, tapi bekerja dengan orang yang benar. Tidak perlu menunggu usia tertentu untuk menjadi orang besar. Saat jadi orang yang besar, kita harus tetap belajar dan ber-adaptasi terhadap perubahan.

Kisah Evan Robert
Evan Roberts adalah seorang anak muda berusia 26 tahun dari Wales, mengubah sebuah negara selama 2-3 tahun.
Di Wales banyak orang bekerja sebagai penambang batubara, termasuk Evan. Evan selalu membawa Alkitab, dan membacanya di waktu istirahat. Evan berbicara tentang Yesus selama istirahat kerja.
Kadang-kadang saat pulang kerja Evan berhenti sejenak dan berbicara pada udara. Orang-orang berfikir dia tidak beres. Di waktu-waktu senggang Evan pergi ke gereja. Dokter menyimpulkan bahwa Evan mendapat komplikasi rohani.
Suatu hari Evan mendapat visi bahwa Roh Kudus meliputi Wales, dan Tuhan berkata bahwa akan berikan ratusan ribu jiwa lahir baru dalam 2 minggu. Saat diceritakan pada rekannya, rekannya mendukung. Teman yang baik akan menguatkan kita saat mendapat visi dari Tuhan. Evan meminta ke gerejanya untuk melayani di ibadah youth. Yang hadir 3 anak muda dan 5 orang dewasa. Evan menceritakan visinya. Hari-hari berikutnya Roh Kudus mulai melawat dengan dahsyat. Doa Evan sangat sederhana: "Oh Tuhan, ikat kami!". Saat dia berdoa, Roh Kudus menyatakan diriNya, dan gereja penuh dalam beberapa hari, ibadah gereja berlangsung berkali-kali, lalu merambat ke gereja-gereja lain, hingga terjadi kebangkitan rohani nasional (national revival).

Dampak kebangunan rohani Wales:
Pelacur-pelacur di Wales bertobat, rumah pelacuran jadi rumah doa.
Jumlah polisi harus dipotong setengah karena kejahatan jadi sangat rendah.
Jam kerja umumnya 9 pagi hingga 5 sore. Jam kerja di masa itu berakhir pada jam 3 sore, setelah itu mereka pergi ke gereja, bukan ke mall atau bar. Revival mengubah jam kerja.
Di awal 1900an belum ada mesin, pengangkutan menggunakan kuda poni. Revival dimulai dari orang-orang tambang yang bahasanya kasar. Saat mereka diselamatkan, mereka tidak menggunakan kata-kata kotor. Kuda pony hanya mengerti bahasa yang kasar, maka harus diganti kuda yang bisa diperintah secara normal. Bahkan binatang terpengaruh oleh revival.
Di tahun 1903 tidak ada pemenang kompetisi sepak bola Wales, karena tidak ada yang perduli dengan olah raga. Bagi semua orang Tuhan jadi yang terpenting.
Saat revival, di jam makan siang tidak ada orang makan siang di rumah makan, tapi semua berkumpul di padang dan mendengarkan berita injil.
Gereja jadi terlalu kecil karena semua orang diselamatkan. Ini adalah masalah yang baik.

Tuhan memakai orang muda untuk membawa keselamatan dan pembaharuan di sebuah bangsa.

Evan begitu sibuk, hingga Evan kolaps di tengah-tangah revival (di usia 29 tahun). Lalu Jessie Penn-Lewis mengambil Evan, lalu mengambil alih hidup Evan, membawanya keluar Wales. Evan tidak pernah lagi berkhotbah, dia capek secara emosional, spiritual dan fisik. Jessie Lewis mengatakan bahwa yang dilakukan Evan dari setan dan harus dihentikan. Jessie bahkan tidak ijinkan orang tua dan gembala Evan untuk mendoakan Evan. Saat Evan meninggal barulah dia dibawa kembali ke Wales. Revival terhenti karena ada orang dunia menguasai hidup Evan.

Lakukan perkara besar bagi Allah. Tapi saat kita dianiaya, jangan pergi kepada orang yang tidak kita kenal. Kembali ke gereja dan keluarga yang kita kenal, maka kita akan dirawat, disembuhkan, diperbaharui, dikuatkan, dicintai, diangkat kembali.
Seringkali saat para pendeta berada dalam masalah, dia berbicara dengan orang yang salah. Akhirnya mereka tidak pernah kembali lagi ke posisinya semula.

Saat kita dalam masalah, jangan pergi ke gereja lain. PULANG-lah ke gereja yang penuh Roh Kudus, di mana kita mengalami dilahirkan kembali, minta didoakan dan dikuatkan

Evan hanya khotbah 3 tahun (1902-1904). Evan meninggal di tahun 1951. Selama sisa hidupnya Evan tidak pernah alami revival lagi, tidak melakukan apapun.

Revival Wales berakhir kurang baik karena:
Evan tidak tahu menjaga tubuh jasmaninya dalam revival, lalu tumbang
Orang yang salah menangkapnya, dan membunuh visinya

Saat kita lemah, lelah, dan diserang iblis: pulang. Yang dibutuhkan: lingkungan yang tahu berdoa, berbahasa Roh, menyembah Tuhan dengan kuat. Sehingga kita selamat dari musuh, selamat dari pencobaan, selamat dari perangkap iblis.

Evan ke surga, tapi tidak pernah memenuhi mandatnya dari Tuhan. Jika dilanjutkan hingga 20-25 tahun, Evan berpotensi mengubah Eropa bahkan dunia. Karena dalam momentum itu ada urapan dan kuasa Tuhan. Sayangnya Evan mengambil langkah yang salah.

Orang muda bisa melakukan hal yang besar. Tapi terkadang juga memerlukan pertolongan saat mengalami tekanan besar. Kita harus tahu kapan saat meminta tolong, tahu kapan saatnya pulang ke rumah sehingga mereka terlindungi dan dipulihkan. Kemudian kembali berperang bersama Tuhan.

Tuhan akan menggunakan anak muda untuk mengubah Indonesia dan Asia. Generasi ini harus bangkit, bermimpi besar, dan melakukan hal-hal besar.

Baca berbagai buku, sehingga kita bisa belajar dari kesuksesan orang-orang besar, menghindari kegagalan mereka, memiliki hidup yang luar biasa, dan meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya.

Pengantar

Hidup kita hanya 1x, tidak bisa diulangi. Saat kita menyembah "apapun" atau "siapapun" yang salah, artinya kita sedang membuang hidup kita sia-sia. Tapi orang yang menyembah Yesus adalah orang menyembah Tuhan yang hidup.

Kesaksian
Ada revival di mesir, orang Kristen mulai cinta dan mendoakan negerinya. Bahkan untuk ibadah doa harus dijual tiket. Seorang gadis naik taksi ke ibadah doa, sopirnya non-Kristen. Di jalan Tuhan minta dia mengatakan pada sopir itu: "Yesus mengasihimu". Setelah bernegosiasi dengan Tuhan karena ketakutan, gadis ini akhirnya minta pada Tuhan untuk diijinkan menyampaikan hal itu setelah dia turun dari taksi di tempat ramai, dan setelah membayar.
Setelah turun dan membayar, dia berkata pada sopir itu: "Yesus mengasihimu". Sopir itu menangis seperti anak kecil. Dia berkata bahwa 2 bulan terakhir dia didatangi orang bernama Yesus. Yesus itu mengajarkan banyak hal yang bertentangan dengan ajarannya. Semula ditolak. Kemarin sopir ini ditemui lagi, dan Yesus berkata bahwa Dia akan buktikan bahwa akan ada seorang penumpang perempuan yang berkata padanya "Yesus mengashimu". Gadis ini akan mengatakan hal itu setelah sampai tujuan, turun, dan membayar taksi. Akhirnya si sopir di babtis dan percaya pada Yesus.

Tuhan bahkan menggunakan semua ketakutan kita

Contoh di Alkitab
Saat pulang dari mesir, Yusuf takut karena anak Herodes menjadi raja. Yusuf lalu pindah ke Nazaret. Ini karena Yesus harus disebut Yesus orang Nazaret (Mat 2: 23).

Jangan bernegosiasi dengan Tuhan, ikuti saja perintah Tuhan, karena Dia tahu yang terbaik.

Kejadian-kejadian seperti ini semakin sering terjadi. Jangan jadi penonton, Tuhan punya peran penting bagi kita.

Penutup

Beberapa hari yang lalu ada beberapa narapidana yang dihukum mati. Saat terima Yesus, hidup mereka berubah.. Salah satu terpidana: Andrew Chan, menikah dengan pembimbing rohaninya. Permintaan terakhirnya:
Diijinkan menyanyi hingga ditembak
Tidak memakai tutup mata dan melihat eksekutornya.

Saat menerima Yesus, kematian tidak menakutkan mereka lagi. Lagu yang mereka nyanyikan: Amazing Grace. Karena mereka tahu bahwa mereka orang yang rusak, tapi anugerahTuhan Yesus selamatkan mereka.

Pahlawan sebenarnya bukan penyelundup narkoba, tapi Tuhan Yesus yang menyelamatkan semua orang berdosa.