Kamis, 04 Februari 2016

DIMANA ANDA TINGGAL?

Mazmur 90 NATS: Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun (Mazmur 90:1)

Sebuah pepatah berbunyi, "Meski sederhana, tak ada tempat yang seteduh rumah sendiri." Namun benarkah kita menginginkan rumah yang sederhana?

Tragisnya, masih banyak orang yang tidak punya rumah, walau yang sederhana sekalipun. Hal ini seharusnya membuat kita bersyukur atas rumah yang sudah kita miliki.

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjalani kehidupan yang menguji keyakinan saya. Selama sepuluh bulan saya harus tinggal di satu ruangan besar yang di dalamnya hanya terdapat benda-benda kebutuhan primer, tak lebih, tak kurang. Sepanjang waktu tersebut Tuhan mengajari saya untuk puas dengan semua itu.

Akhirnya saya pun berkeyakinan sama seperti Musa yang dalam Mazmur 90:1 berkata, "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun." Sesungguhnya tempat perteduhan orang kristiani bukanlah rumah yang terbuat dari batu dan adukan semen, melainkan Allah sendiri. Saya menjadi agak enggan saat tiba waktunya untuk meninggalkan ruangan yang berharga itu dan kembali ke rumah saya sendiri. Namun saya memahami bahwa di mana pun saya tinggal, baik hari ini maupun di masa mendatang, Allah tetaplah tempat perteduhan saya yang sejati untuk selamanya.

Kata-kata berikut terdapat pada papan di luar sebuah gereja di Inggris: "Di mana pun Anda tinggal bukanlah masalah, sepanjang Anda tinggal di tempat yang tepat." Bila Allah adalah tempat perteduhan Anda, berarti Anda tinggal di tempat yang tepat.

Jika Anda tidak puas di tempat Anda berada, percayalah dan bersyukurlah kepada-Nya atas semua yang telah Dia berikan untuk Anda.

AGAR MENDAPAT KEPUASAN JADIKAN ALLAH SEBAGAI TEMPAT PERTEDUHAN ANDA

Selasa, 02 Februari 2016

Cerita inspirasi

Seorang anak muda mendaftar untuk posisi manajer di sebuah perusahaan besar. Dia lulus interview awal, dan sekarang akan bertemu dengan direktur untuk interview terakhir.

Direktur mengetahui bahwa dari CV-nya, si pemuda memiliki akademik yg baik. Kemudian dia bertanya" apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah ?" Kemudian si pemuda menjawab tidak.
"Apakah ayahmu yg membayar uang sekolah ?"
"Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, ibu saya yang membayarkannya"
"Dimana ibumu bekerja ?"
"Ibuku bekerja sebagai tukang cuci."
Si direktur meminta si pemuda untuk menunjukkan tangannya. Si pemuda menunjukkan tangannya yg lembut dan halus.
"Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju ?"
"Tidak pernah, ibuku selalu ingin aku untuk belajar dan membaca banyak buku. Selain itu, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dariku."

Si direktur mengatakan "aku memiliki permintaan. Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cuci tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari."

Si pemuda merasa kemungkinannya mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa heran, senang tetapi dengan perasaan campur aduk, dia menunjukkan tangannya ke anaknya.
Si pemuda membersihkan tangan ibunya perlahan. Airmatanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan ibunya sangat berkerut dan banyak luka.Beberapa luka cukup menyakitkan ketika ibunya merintih ketika dia menyentuhnya.
Ini pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa sepasang tangan inilah yg setiap hari mencuci baju agar dirinya bisa sekolah. Luka di tangan ibunya merupakan harga yg harus dibayar ibunya untuk pendidikannya, sekolahnya, dan masa depannya.
Setelah membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam2 mencuci semua pakaian tersisa untuk ibunya,
Malam itu, ibu dan anak itu berbicara panjang lebar.

Pagi berikutnya, si pemuda pergi ke kantor direktur.
Si direktur menyadari ada air mata di mata sang pemuda.
Kemudian dia bertanya, " dapatkah kamu ceritakan apa yg kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam di rumahmu ?"
Si pemuda menjawab," saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya"
"Saya sekarang mengetahui apa itu apresiasi.
Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya mengetahui betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu dengan sendirinya.
Dan saya mulai mengapresiasi betapa pentingnya dan berharganya bantuan dari keluarga"

Si direktur menjawab,"inilah yg saya cari di dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yg dapat mengapresiasi bantuan dari orng lain, seseorang yg mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yg tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya"

"Kamu diterima"

Seorang anak yang selalu dilindungi dan dibiasakan diberikan apapun yg mereka inginkan akan mengembangkan " mental ke'aku'an" dan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas.
Dia akan tidak peduli dengan jerih payah orangtuanya. Apabila kita tipe orang tua seperti ini, apakah kita menunjukkan rasa cinta kita atau menghancurkan anak2 kita ?

Kamu dapat membiarkan anak2mu tinggal di rumah besar, makan makanan enak, les piano, menonton dari TV layar besar. Tetapi ketika kamu memotong rumput, biarkan mereka mengalaminya juga. Setelah makan, biarkan mereka mencuci piring mereka dengan saudara2 mereka. Ini bukan masalah apakah kamu dapat memperkerjakan pembantu, tetapi ini karena kamu ingin mencintai mereka dengan benar. Kamu ingin mereka mengerti, tidak peduli seberapa kayanya orangtua mereka, suatu hari nanti mereka akan menua, seperti ibu si pemuda.

Yang terpenting, anak2mu mempelajari bagaimana mengapresiasi usaha dan pengalaman mengalami kesulitan dan belajar kemampuan untuk bekerja dengan orang lain agar se gala sesuatu terselesaikan.

#Note
Coba untuk melanjutkan cerita ini ke orang2 yg anda kenal. Ini mungkin dapat mengubah kehidupan seseorang

DIAMPUNI CUMA CUMA

Kolose 3:12-17 NATS: Apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Penelitian sejumlah psikolog menunjukkan bahwa yang membuat orang bahagia bukanlah kekayaan berlimpah, melainkan persahabatan dan pengampunan. Marilyn Elisa mengomentari temuan ini dalam USA Today, "Orang yang paling bahagia dikelilingi saudara dan teman-teman, tidak punya masalah dengan tetangga, sibuk dengan kegiatan sehari-hari, dan yang terpenting, mudah mengampuni." Christopher Peterson, psikolog dari Universitas Michigan mengatakan bahwa kemampuan untuk mengampuni orang lain merupakan karakter yang sangat berkaitan dengan kebahagiaan. Ia menyebutnya "ratu semua kebajikan, dan mungkin yang paling sulit dicapai".

Jiwa yang tidak mau mengampuni acap kali merupakan benteng emosi terakhir yang kita pasrahkan dalam kuasa Allah. Walaupun kita adalah orang kristiani, kita mungkin menyimpan kemarahan dan kepahitan, merasa bahwa setiap orang yang berbuat salah kepada kita harus menderita karena kejahatan mereka. Namun, apabila kita menyadari bahwa Allah telah banyak mengampuni kita, maka kita wajib meneruskan belas kasih tersebut kepada sesama.

Alkitab menyarankan kita untuk mengenakan "belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran, ... sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian" (Kolose 3:12,13).

Mengampuni adalah perintah Allah bagi kita dan merupakan bagian dari hidup yang penuh kasih, damai, syukur, dan pujian (ayat 14-16). Sebagaimana kita telah diampuni dengan cuma-cuma, maka hendaklah kita juga melakukannya kepada sesama.

BILA ANDA MERASA TIDAK DAPAT MENGAMPUNI INGATLAH BERAPA BANYAK ANDA TELAH DIAMPUNI

Senin, 01 Februari 2016

Rindu Surga

Bacaan Hari ini:
Filipi 1:22-23 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik;

Pernahkah Anda tinggal di suatu tempat yang amat indah begitu lama, sebelum akhirnya pulang ke rumah? Mungkin Anda menyimpan fotonya dan menjadikannya sebagai screensaver handphone Anda, sambil duduk dan memandanginya. Anda cinta tempat itu.

Begitulah yang dirasakan Paulus tentang Surga. Dia merindukannya. Itulah mengapa ia bisa berkata, "Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; (Filipi 1:23).

Saat ini, Paulus ada di Surga. Di satu masa dalam hidupnya - kita tidak tahu kapan tepatnya-ia dibunuh dan diangkat ke Surga tingkat yang ke tiga. Ia menulis dalam 2 Korintus 12 bahwa "ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia (ayat 4). Setelah merasakan pengalaman mendengar dan melihat pemandangan Surga, ketika kembali ke bumi, Paulus merasa rindu dengan Rumah (Surga). Bukan berarti Paulus ingin mati, yang ia tahu ialah jika dia mati, itu artinya sebuah promosi buatnya.

Ketika Paulus mengatakan bahwa ia ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; kata pergi yang ia pakai di sini cukup menarik. Jika diterjemahkan dari bahasa Yunani, itu artinya "merapihkan kemah. Artinya, sudah waktunya pulang. Di banyak kesempatan, Alkitab mengibaratkan tubuh manusia dengan sebuah kemah. Dan satu hal yang kita tahu tentang kemah atau tenda adalah benda ini tidak dibuat untuk bertahan lama, tidak dipakai untuk jangka waktu yang panjang. Jadi mengapa Paulus mengatakan jika kematian itu jauh lebih baik? Itu karena ia sudah merasakan pindah dari sebuah tenda ke sebuah rumah mewah.

Ketika orang Kristen mati, mereka langsung pergi ke Surga, sebab meninggalkan tubuh berarti bersatu dengan Allah. Pada saat mereka mengambil napas terakhir mereka di bumi, mereka mengambil napas pertama mereka di Surga.

Meninggalkan tubuh berarti bersatu dengan Allah di Surga.

Minggu, 31 Januari 2016

MELUPAKAN KEKHAWATIRAN

Bacaan: Filipi 4:1-9 NATS: Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah (Filipi 4:6)

Mungkin Anda pernah mengikuti eksperimen yang di dalamnya Anda diberi sebuah frase [Kelompok kata] seperti "mobil merah," lalu diminta melupakan frase itu. Namun semakin keras Anda berusaha melupakan, frase itu justru semakin melekat dalam pikiran Anda. Eksperimen ini memperlihatkan betapa kita takkan pernah bisa melupakan sesuatu yang menjadi pusat pikiran kita.

Demikian pula dengan kegelisahan, yakni respon alami kita saat mengkhawatirkan hal-hal dalam hidup ini. Kebanyakan dari kita mengalami sulit tidur karena terlalu keras berusaha memecahkan masalah rumit yang dihadapi. Hasilnya, masalah itu justru semakin kuat mencengkeram pikiran kita.

Alkitab meminta kita untuk tidak tertekan oleh berbagai masalah dalam hidup ini, melainkan menyerahkan semuanya itu kepada Allah. Rasul Petrus mengatakan, "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1 Petrus 5:7).

Demikian pula dalam Filipi 4:6, Rasul Paulus memberikan perintah serupa. Yesus meminta para murid-Nya untuk tidak khawatir akan kebutuhan hidup mereka, karena "Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu" (Matius 6:32).

Cara untuk melupakan kekhawatiran adalah dengan memusatkan pikiran kita pada kebaikan dan pemeliharaan Allah yang penuh kasih, bukan pada masalah yang menggelisahkan kita. Lalu kita pun dapat berkata sama seperti pemazmur, "Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku" (Mazmur 94:19)

SEMAKIN ANDA MEMIKIRKAN KEBAIKAN ALLAH SEMAKIN BERKURANG KEKHAWATIRAN ANDA

Sabtu, 30 Januari 2016

POHON KEHIDUPAN

Bacaan: Wahyu 21:1,2, 22:1-5 NATS: Di tengah-tengah jalan kota itu. ada pohon-pohon kehidupan (Wahyu 22:2)

Pada 1943, para serdadu Nazi menggiring 140 penduduk desa Khatyn kesebuah gudang, menumpuk jerami di sekitarnya, dan membakarnya. Peristiwa itu menewaskan semua tawanan. Setelah perang berakhir, Khatyn yang terletak di wilayah bekas Uni Soviet dijadikan pusat peringatan peristiwa serupa yang menimpa enam ratus desa di seluruh Belarusia. Khatyn adalah sebuah tempat yang mengenaskan untuk dikunjungi.

Anda akan disambut oleh empat tingkat patung yang menceritakan seorang ayah yang sedang berada di hutan sewaktu pembantaian masal Khatyn terjadi. Ia menggendong tubuh anak laki-lakinya yang hangus terbakar.

Anda juga akan melihat fondasi rumah-rumah yang dulu pernah berdiri di sana. Pada setiap fondasi terdapat cerobong asap dengan papan nama orang-orang yang menjadi korban. Di salah satu ujung desa Khatyn berdiri "pohon kehidupan." Pohon yang terbuat dari besi hitam ini mempunyai lebih dari empat ratus helai "daun." Di setiap helainya tertulis nama desa yang hancur tetapi telah dibangun kembali setelah perang usai. Daun-daun itu melambangkan harapan dan kebangkitan kembali rakyat Belarusia.

Dalam Kejadian 2, kita membaca tentang pohon kehidupan di Taman Eden. Jalan menuju pohon itu ditutup bagi Adam dan Hawa setelah mereka melanggar perintah Allah. Namun Yesus, yang merupakan "Adam terakhir" (1 Korintus 15:45-47), membukanya kembali bagi kita. Di langit dan bumi yang baru, akan ada "pohon kehidupan" yang lain (Wahyu 22:2).

Kematian rohani dapat berubah menjadi kehidupan rohani melalui iman kepada Yesus. Inilah harapan yang tiada tara!

SALIB KALVARI ADALAH SATU-SATUNYA JEMBATAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL

Jumat, 29 Januari 2016

INGAT UNTUK BERSYUKUR

Bacaan: Mazmur 100:1-5 NATS: Bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! (Mazmur 100:4)

Selama tahun-tahun terakhir hidupnya, seorang profesor ternama dalam bidang teologi di Skotlandia kehilangan ingatan akan masa lalunya. Sekalipun tetap bersikap ramah kepada mantan rekan-rekan di universitas yang datang berkunjung, ia sama sekali tidak ingat bahwa ia pernah mengajar di tempat yang sama dengan mereka dan bahwa mereka adalah teman-teman baiknya selama bertahun-tahun. Namun meski lupa akan masa lalunya, ia tidak pernah lupa untuk bersyukur kepada Allah. Salah seorang temannya bercerita bahwa setiap kali perawat panti datang membawakan roti, mentega, dan teh, profesor itu selalu berkata, "Saya harus bersyukur atas hal ini!" Kemudian sambil menundukkan kepalanya, ia akan berdoa dengan segenap hati, "Terpujilah Allah selama-lamanya. Amin."

Adakah di hati kita tertanam rasa syukur yang sungguh-sungguh seperti itu?
Adakah kita membiasakan diri untuk bersyukur kepada Allah selagi ingatan kita masih baik?
Salah satu cara untuk memulainya adalah dengan membaca Mazmur 100, dengan suara keras. Mengapa Anda tidak mencoba membacanya setiap pagi dan malam selama seminggu untuk memulai dan mengakhiri setiap hari yang kita lalui? "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!" (ayat 4). Jika diulang-ulang dengan sepenuh hati, kita akan terbiasa memanjatkan syukur.

Kita tidak mungkin mengetahui apa yang akan kita lupakan di kemudian hari, tetapi saat ini juga kita dapat selalu mengingat untuk mengucap syukur dan memuji nama Allah.

ORANG YANG BERSYUKUR DIBERKATI DUA KALI YAKNI KETIKA BERKAT ITU DITERIMA DAN DIINGAT