Minggu, 14 Februari 2016

MEMPERTAHANKAN KASIH

Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah (Yudas 21)

Negarawan dan pengacara kondang Amerika William Jennings Bryan (1860-1925) sedang dilukis potret dirinya. Sang pelukis bertanya, "Mengapa Anda membiarkan rambut Anda menutupi telinga seperti itu?" Bryan menjawab, "Ada kisah romantis berkaitan dengan rambut saya. Ketika saya mulai berpacaran dengan Bu Bryan, ia tidak suka melihat telinga saya yang menonjol keluar. Untuk menyenangkan hatinya, saya membiarkan rambut saya tumbuh hingga menutupi telinga."

"Kejadiannya sudah bertahun-tahun silam," sahut pelukis itu. "Mengapa sekarang Anda tidak memotong rambut?"
"Karena," kata Bryan sambil mengedipkan matanya, "jalinan kasih kami masih terus berlangsung hingga sekarang."

Apakah jalinan kasih kita dengan Yesus masih berlangsung hingga sekarang? Ketika pertama kali datang dengan iman kepada Kristus, kita bersukacita karena dosa kita diampuni dan kita diangkat menjadi anggota keluarga-Nya. Kasih Tuhan memenuhi dan terus mengaliri hati kita. Kita pun rindu untuk menyenangkan-Nya. Ketika waktu berlalu, semangat cinta pertama kita yang menyala-nyala mungkin mulai mendingin. Oleh sebab itu, kita perlu merenungkan perkataan Yudas yang tertulis dalam surat singkatnya, "Peliharalah dirimu demikian di dalam kasih Allah" (ayat 21).

Yesus menggunakan ungkapan yang sama ketika Dia berkata, "Tinggallah di dalam kasih-Ku" (Yohanes 15:9,10). Kita memelihara kasih tersebut apabila kita memusatkan diri untuk menyenangkan-Nya, bukan menyenangkan diri sendiri.

Peliharalah senantiasa jalinan kasih itu.

UNTUK MEMPERBARUI KASIH ANDA KEPADA KRISTUS INGATLAH KASIH-NYA KEPADA ANDA

Jumat, 12 Februari 2016

Gadis Penjual Apel

Beberapa tahun lalu sebuah grup salesman menghadiri sebuah konfrensi di Chicago. Mereka telah berjanji kepada istri masing-masing akan tiba di rumah pada hari Jumat malam untuk makan malam bersama. Hal ini membuat mereka terburu-buru mengejar pesawat mereka sambil membawa koper-kopernya. Namun saat menuju tempat boarding pass tanpa sengaja salah seorang salesman itu menyenggol sekotak apel yang dijajakan. Apel-apel itu berhamburan kemana-mana. Namun para salesman itu tetap bergegas mengejar pesawat mereka, karena jika tidak maka mereka akan terlambat.

Tapi satu orang diantara mereka berhenti. Dia berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam, dia mencoba mendengarkan suara hatinya, dan ia merasakan belas kasihan pada gadis yang menjual apel-apel itu. Dia segera memberitahu teman-temannya untuk berangkat tanpa dirinya, dia meminta salah satu dari mereka untuk menghubungi istrinya bahwa ia akan terlambat pulang. Pria itu kemudian kembali ke terminal dimana apel-apel tadi berhamburan ke lantai.

Pria itu bersyukur telah membuat keputusan yang benar. Gadis penjual apel itu ternyata buta! Gadis itu menangis, dan rasa frustasi terlihat jelas diwajahnya. Dia mencoba meraba-raba mencari apel-apelnya. Ia berseru meminta pertolongan untuk mengumpulkan barang dagangannya, namun tidak seorang pun yang peduli.

Salesman itu berlutut memunguti apel itu bersama gadis itu, setelah mengumpulkannya, ia membantu menatanya kembali di meja. Saat ia melihat banyak diantara apel itu yang rusak, ia memisahkannya. Saat telah selesai, ia berkata kepada gadis itu, “Ini uang 40 dolar, tolong ambil ini untuk mengganti kerusakan yang terjadi. Apakah kamu baik-baik saja?”

Gadis itu menghapus air matanya.

Pria itu kemudian berkata, “Aku harap apa yang kami lakukan tidak merusak harimu sedemikian buruk.”

Ketika pria itu hendak pergi meninggalkan gadis buta itu, gadis itu memanggilnya kembali.

”Tuan..” Pria itu berbalik menatap gadis itu.

”Apakah engkau Yesus?” tanya gadis itu.

Pria itu hanya tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Perlahan dia pergi ke arah penjual tiket untuk pulang ke rumahnya dengan pesawat selanjutnya. Namun pertanyaan gadis itu terus terdengar di telinganya, “Apakah engkau Yesus?”

Banyak orang di dunia ini seperti gadis itu, mereka dalam keadaan buta dan membutuhkan pertolongan. Namun kita yang telah dicelikkan oleh Yesus Kristus jarang yang mau berhenti sejenak dan menolong mereka. Jika kita menyatakan mengenal Yesus, seharusnya kita berjalan dan hidup sebagaimana Yesus hidup. Sehingga ketika kehidupan seseorang bersentuhan dengan hidup kita, dia dapat merasakan kasih Yesus itu. Sudahkah hidup kita mencerminkan kehidupan Yesus?

Bangun Pondasi Anda Sendiri

Filipi 2:13 Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

Beberapa orang benar-benar senang berolahraga. Mereka senang berkeringat, berlari, atau mengangkat beban. Saya benci semua itu. Saya tahu bukan saya saja yang membencinya, meski memang benar kita semua butuh yang namanya olahraga. Kita tak bisa menyewa seseorang untuk berolahraga bagi kita. Ini sesuatu yang harus kita lakukan bagi diri kita sendiri.

Rasul Paulus menulis kepada orang-orang percaya di Filipi, "Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12-13). Paulus berada dalam penjara ketika ia menulis surat ini. Dia menulisnya saat berada di Roma, hatinya gelisah sebab terpisah dari para orang percaya.

Maksud Paulus ialah, Saudaraku, aku tak bisa bersama-sama dengan kalian. Andai saja saat ini aku bisa bersama kalian membimbing dan menjadi contoh yang baik untuk kalian. Tapi satu yang harus engkau tahu, Allahlah yang bekerja di dalam kamu, bukan Paulus.

Mereka mungkin berpikir, Kami tak bisa menjalani kehidupan Kekristen dengan benar tanpa Paulus di sini. Sebenarnya mereka mampu, begitu pun dengan kita. Apabila para pendeta dan para pemimpin rohani melaksanakan tugas mereka dengan baik, mereka akan membantu Anda berdiri di atas kaki Anda sendiri secara rohani agar Anda tidak bergantung pada mereka lagi.

Yang ingin Paulus katakan, "Saudaraku, lihatlah gambaran besarnya. Allahlah yang bekerja. Mungkin Ia bekerja melaluiku, namun tetap saja Allah yang bekerja.

Kita bisa begitu mengagumi seseorang dan menganggap mereka selalu benar. Dan kadang orang-orang akan mendasarkan hubungan mereka dengan Allah di atas hubungan orang lain dengan Allah. Itu hal yang tidak baik. Kita perlu menancapkan iman kita sendiri. Kita perlu membangunnya di atas pondasi kita sendiri.

Allah bekerja di dalam Anda karena iman Anda terus terbangun di atas pondasi yang benar.

Rabu, 10 Februari 2016

MASALAH HATI

Kolose 3:18-25
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23)

Dalam bukunya The Second Shift (Sif Kedua), Arlie Hochschild menggambarkan bagaimana pasangan suami-istri berbagi tanggung jawab rumah tangga. Umumnya, suami-istri yang sama-sama berkarier sepakat bahwa adalah adil jika mereka berbagi tugas rumah tangga.

Namun penelitian menunjukkan bahwa pria cenderung mengerjakan lebih sedikit dari yang ditugaskan. Mengapa? Satu alasan yang tepat adalah bahwa para suami sekarang mengukur apa yang mesti dikerjakannya di rumah sebanyak yang dilakukan ayahnya dulu. Namun para istri mereka menuntut lebih dari itu. Akibatnya, pembagian peran itu menjadi sumber konflik.

Tetapi, Hochschild menunjukkan masalah yang lebih dalam. Ia menulis, "Bila suami-istri berkarier, sulit untuk menentukan siapa yang akan mengerjakan ini atau itu. Yang lebih sering terjadi adalah segalanya berakhir tanpa ada ucapan syukur. Dalam wawancara dengan sejumlah wanita, mereka bercerita tentang ayah mereka yang membantu ibu mereka atas dasar kasih atau perhatian .. Namun sekarang. tak seorang pria pun mau memadukan antara membantu pekerjaan rumah dan kasih." Ada pemahaman penting yang bisa kita petik dari sini. Hubungan yang baik dibangun bukan hanya atas dasar apa yang dilakukan, melainkan juga atas dasar mengapa dilakukan. Inilah pernikahan yang sejati.

Namun ada hubungan yang lebih penting lagi untuk dibangun, yakni hubungan dengan Allah. Kasih bertumbuh bukan hanya karena apa yang kita lakukan, melainkan juga karena alasan kita melakukannya (Kolose 3:23). Tuhan menginginkan kita melakukan yang benar, atas dasar kasih kepada-Nya.

MUNGKIN KITA DAPAT MEMBERI TANPA MENGASIHI, TETAPI KITA TIDAK DAPAT MENGASIHI TANPA MEMBERI.

Minggu, 07 Februari 2016

--- TAHUN BARU IMLEK 2567 ---

Ren Shuan Pu Ru Thien Shuan...

Amsal 19:21, "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yg terlaksana".

Hari ini kita memasuki Tahun Baru Imlek 2567.
Mau tdk mau, senang tdk senang kita pasti masuk di dlm Tahun Baru Imlek ini, meskipun apabila diantara kita ada yg bukan keturunan etnis Tionghoa yg merayakannya.

Tahun Baru Imlek 2567 ini diidentikkan dgn Tahun Kera Api.
Kita smua tahu bahwa 'Kera' adalah binatang yg paling berantakan, nakal, suka mencuri, suka menghina & mengejek serta senang mempermainkan yg lain.

Spirit 'kera' ini yg hrs kita berantas & semuanya hrs tunduk dibwh otoritas Tuhan Yesus Kristus.

Bg org dunia Tahun Imlek 2567 diprediksikan akan bnyk terjd kekacauan, bencana2 & bgtu banyak guncangan2 yg datang scara tiba2 diseluruh bumi.
Tp bg anak2 Tuhan, Tahun Imlek 2567 ini adlh thn Kemuliaan-NYA...!!!
Sbab dimana ada kekacauan, bencana & guncangan2 maka disitulah kemuliaan Tuhan dinyatakan...!!!

Roma 8:28, "Kita tahu skrng, bahwa Allah turut bekerja dlm sgala sesuatu untk mendatangkan kebaikan bg mereka yg mengasihi DIA, yaitu bg mereka yg terpanggil sesuai dgn rencana Allah".

Dan sbg anak2 Tuhan kita jgn sampai terintimidasi oleh spirit tahun 'kera' ini, krn ada Tuhan slalu menyertai kita.
Dan kita hrs brani untk memperkatakan bahwa "smua hal2 yg buruk di tahun ini pasti diubahkan Tuhan menjd berkat melimpah dlm hidup kita".

Mari kita sambut Tahun Baru Imlek dgn sukacita.
Percayalah..., Tuhan sanggup mengubah kegelapan menjd terang-NYA yg ajaib.
Bg Tuhan tdk ada yg mustahil...!!!

 §ǝ̍̍̍̍̊ĺɑ̣̣̝̇̇мα̍̍̊τ pagi 
Selamat Menyongsong Tahun Baru Imlek 2567...
Sukacita, keselamatan & kesuksesan menjd bagian kita sepanjang tahun yg akan kita lewati bersama...
回回回回回回回回回回回回回回回回
. ┏̲H̶̲̅┓̲.           新年快乐
( ╮͡.̰ ╭͡)  XIN NIAN KUAI LE
.(_/l\_).          恭喜发财
. (_l_).   G0NG XI FA CAI
                     万 事 如 意
             WAN SHI RU YI
回回回回回回回回 回回回回回回回回

Jesus Christ Love & Bless Yoυ

Sabtu, 06 Februari 2016

BIJAKKAH LIDAH ANDA?

Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan (Amsal 12:18)

Orang yang suka berbicara diperkirakan melontarkan 30.000 kata setiap hari! Pertanyaannya adalah, bagaimana perkataan kita, entah banyak maupun sedikit, mempengaruhi sesama kita? Seorang filsuf Yunani meminta pelayannya memasakkan hidangan paling lezat.

Pelayan yang bijak menyuguhkan hidangan berupa daging lidah dan berkata, "Ini adalah hidangan terlezat di antara semua hidangan lain, karena hidangan ini mengingatkan kita agar menggunakan lidah untuk memberkati dan mengungkapkan sukacita, menghalau kesedihan, mengenyahkan keputusasaan, dan menyebarluaskan keceriaan."

Lalu ia minta hidangan yang paling tidak enak. Lagi-lagi si pelayan menyuguhkan daging lidah sembari berkata, "Ini adalah hidangan yang paling tidak enak, karena mengingatkan kita bahwa kita bisa menggunakan lidah untuk menyumpahi, dan meremukkan hati, menghancurkan reputasi, menciptakan pertikaian, serta membuat keluarga dan bangsa berperang." Untuk memahami maksud kata-kata si pelayan itu, kita tidak perlu makan daging lidah terlebih dulu.

Kita mungkin sering kali telah "menelan perkataan kita sendiri" sebelum kita belajar untuk menghindari perkataan yang ingin kita tarik kembali.

Salomo menulis: "Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan" (Amsal 12:18). Ayat ini menegaskan dan menyemangati sesama kita. Kata kunci dari ayat tersebut bukanlah lidah melainkan bijak. Lidah tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, hanya si pemiliknyalah yang mampu mengontrolnya.

Jika Anda ingin lidah Anda membangun sesama dan tidak menjatuhkan, mintalah Allah membuat Anda bijak

BIJAKSANA BERARTI TAHU SAAT YANG TEPAT UNTUK BERBICARA DAN MEMIKIRKAN AKIBATNYA

Jumat, 05 Februari 2016

Langkah Pertama Untuk Hidup Yang Penuh Sukacita

Filipi 2:2 Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

Hikmat dunia mengatakan bahwa Anda harus selalu waspada dengan yang nomor satu dan lakukan apa pun untuk menjadi sukses. Tetapi hikmat yang konvensional ini kebalikan dari hikmat Surga, bukan seperti itu cara Kerajaan Surga bekerja.

Paulus menulis kepada orang percaya di Filipi, "Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Filipi 2:1-2).

Arti pesan ini: "Jangan memaksakan kehendak Anda untuk menjadi yang terdepan; jangan menjilat orang lain untuk menjadi yang teratas. Sebaliknya, kesampingkan diri Anda, dan bantu orang lain untuk maju. Jangan terobsesi untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Lupakan diri Anda selama yang Anda bisa untuk memberikan uluran tangan Anda.

Pesan ini bertentangan dengan hikmat dunia tentang cara untuk mencapai keberhasilan hidup, tapi memang itulah yang dikatakan Alkitab. Beberapa orang mungkin berkata, "Aku tidak tahu dari planet mana kamu berasal, tapi caramu itu tak akan berhasil dalam situasi yang saya hadapi sekarang. Kau tak tahu seperti apa dunia yang harus aku jalani.

Yang kita bicarakan disini ialah mengenai cara hidup yang harus dijalani oleh orang Kristen. Alkitab mengatakan bahwa langkah pertama untuk mencapai hidup yang bersukacita ialah dengan memperhatikan kepentingan orang lain sebelum kepentingannya sendiri. Paulus berkata, "Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga (Filipi 2:4).

Dalam budaya kita saat ini, mungkin cara hidup yang seperti ini tampak seperti resep untuk meraih kegagalan dan malapetaka. Tapi Alkitab mengatakan: Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1 Petrus 5:6).

Apabila Anda ingin menjadi orang yang bahagia, maka Anda tak bisa menjadi orang yang mementingkan diri sendiri.

Orang yang mementingkan diri sendiri akan menjadi orang yang sengsara.