Di sebuah desa tinggalah 2 orang bersaudara. Sebut saja Si Untung dan
Si Alan. Walaupun mereka bersaudara, namun mereka begitu berbeda. Si
Alan mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Ia ingin sekali menjadi
orang yang paling sukses di seluruh dunia. Sedangkan Si Untung mempunyai
prinsip yang sederhana dalam hidupnya. Menurutnya, Ia harus melakukan
sesuatu yang lebih baik di setiap detik dan di setiap nafas hidupnya.
Walaupun
Si Alan mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, namun dari segi
prestasi justru Si Untung lebih baik darinya, baik prestasi akademis
maupun non akademis. Si Untung banyak mengikuti lomba-lomba mulai dari
yang berhubungan dengan seni, olahraga, maupun akademis. Walaupun
seringkali gagal jadi juara, tapi juga ada prestasi yang didapatkannya.
Sedangkan Si Alan jarang sekali mengikuti lomba-lomba. Ia merasa malu,
ragu, dan takut apabila nantinya gagal, takut dicemooh orang, atau takut
terluka. Ia lebih sering melamunkan masa depan dan cita-citanya. Ia
begitu yakin bakal sukses suatu saat. Ia bakal berusaha suatu saat nanti
untuk sukses. Namun entah kapan.
Suatu hari dikampungnya
diadakan suatu perlombaan menyambut 17 agustus. Perlombaan itu adalah
mencari koin-koin yang telah disembunyikan oleh panitia. Si Untung pun
mengikuti perlombaan tersebut, Si Alan tidak mau mengikuti lomba
tersebut, karena menurutnya lomba itu tidak penting dan buang–buang
waktu saja. Ia lebih suka melamunkan kesuksesangnya di masa depan. Namun
Si Untung berusaha membujuk saudaranya itu untuk mengikuti lomba
tersebut. Akhirnya setelah dibujuk terus Si Alan mau juga ikut lomba
itu. Ada 5 koin yang disembunyikan panitia dan para peserta harus
menemukan koin-koin tersebut. Setiap peserta juga diberikan peta
petunjuk disembunyikannya koin-koin tersebut. Medannnya cukup sulit
apalagi sore kemarin desa mereka baru diguyur hujan dan membuat beberapa
wilayah becyek, dan licyinn gak ada ojyek pula.
Bunyi terompet
tanda dimulainya perlombaan terdengar. Perlombaan pun dimulai. Semua
peserta bergegas mencari koin-koin tersebut, naik ke pohon, menggali
tanah, menyingkirkan semak, nyebur ke kali, semuanya dilakukan. Jika
dilihat dari peta, ada 4 koin yang disembunyikan di daerah yang sama,
sementara 1 koin lagi letaknya sangat jauh di puncak gunung yang curam
dan berbahaya.
Di saat peserta lain berusaha keras mencari
koin-koin tersebut, Si Alan malah duduk-duduk santai. ”Alan kenapa kamu
duduk-duduk saja, kalau begitu kamu tidak akan menang” kata si Untung.
”Males ah . . ., nanti kotor, terus kalo luka gimana. . .” kata si Alan
sambil duduk-duduk santai dan bersandar pada sebuah pohon. Namun ketika
sedang asyik bersantai, tanpa disengaja tangannya menyentuh sesuatu yang
berbentuk pipih dan bulat serta keras. Si Alan pun kaget melihatnya.
Ternyata yang ia pegang adalah koin yang disembunyikan panitia. Ia pun
kegirangan karena menemukan 4 koin sekaligus. Di koin itu masing-masing
bertuliskan kekayaan, kesuksesan, kebahagiaan dan harapan. Ia pun sudah
sangat puas walau 1 koin lagi belum diketemukan. ”Aku serahkan saja
langsung ke panitia, lagi pula 4 koin saja aku sudah menang, apalagi 1
koin lagi letaknya sangat jauh di puncak gunung yang tinggi”. Kata si
Alan. Peserta lain pun sudah menyerah karena tak mungkin lagi
mengumpulkan koin lebih banyak. Kecuali si Untung ”masih ada 1 koin lagi
yang belum ditemukan, aku tak akan menyerah walau tak mungkin
mengumpulkan koin lebih banyak dari saudaraku” kata si Untung.
Si
Untung pun pergi mendaki gunung yang curam dan ia terus maju pantang
menyerah untuk menemukan koin itu walau sering jatuh, terluka, keringat
dan darah pun bercucuran. Di sisi lain sodaranya si Alan menyerahkan
koin yang ia dapat ke panitia. Namun panitia belum mengumumkan
pemenangnya sampai seluruh peserta berkumpul.
”Si untung itu kaya orang gila saja, sudah jelas tidak akan menang,
tapi tetep nyari koin itu” kata peserta lainnya. Akhirnya si Untung pun
datang dengan terpincang-pincang dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Tapi
ia berhasil menemukan koin itu. Di koin itu bertuliskan tulisan resiko.
Si Untung pun menyerahkan koin itu ke panitia.
Akhirnya panitia
mengumumkan siapa pemenangnya, ”Baiklah kami kami akan umumkan
pemenangnya. Pemenang lomba mencari koin dan berhak mendapatkan hadiah 1
unit sepeda motor dimenangkan oleh . . . . . si Untung. . . ..!!!.
Seluruh peserta lain pun terkejut, terutama si Alan. ”Ini tidak adil. .
.ini curang. . huuu dasar panitia licik. Saya sudah mengumpulkan 4 koin
sedangkan si Untung hanya 1 koin, seharusnnya aku yang menang” ucap si
Alan begitu marah.
Namun panitia tidak menggubrisnya. Panitia pun
menyerahkan 5 koin yang diperebutkan (koin harapan, kekayaan,
kebahagiaan, kesuksesan, dan koin resiko) kepada si Untung. Selain itu
panitia pun menyerahkan 1 unit sepeda motor kepada si Untung. Si untung
pun terkejut. ”Mengapa aku bisa menang, padahal aku hanya mengumpulkan 1
koin” kata si Untung. ”Ini sudah keputusan panitia” kata panitia.
Si
Untung pun pergi ke tepi sungai dan berpikir. Sementara si Alan pulang
dan mengurung diri di kamar lantaran kesal. Setelah sekian lama berpikir
di tepi sungai, akhirnya si Untung mendapat jawabannya. Koin yang ia
dapat adalah koin resiko, sementara koin yang ditemukan si Alan adalah
koin kekayaan, kesuksesan, kebahagiaan, dan harapan. Tapi si Alan tidak
berani mengambil koin resiko karena terletak di tempat yang sulit. ”Ya. .
. .mungkin dalam hidup ini kita tidak akan mendapatkan harapan,
kekayaan, kesuksesan, dan kebahagiaan apabila kita tidak berani
mengambil resiko” itulah yang si Untung pikirkan.
.............
”Dalam
hidup ini kita tidak akan mendapatkan harapan, kekayaan, kesuksesan,
dan kebahagiaan apabila kita tidak berani mengambil resiko”