Jumat, 19 Juni 2015

Kisah Orang2 Sukses : GEORGE MULLER - Bapak Asuh Dunia


GEORGE MULLER - Bapak Asuh Dunia

George Muller dilahirkan di Kroppensstedt, Jerman pada tanggal 27 September 1895. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang sangat nakal dan selalu membangkang terhadap orang tuanya. Pada waktu George berumur 10 tahun ia sudah berani mencuri uang yang disimpan ayahnya yang bekerja sebagai bendahara di sebuah kantor pemerintah. Dengan bertambahnya usia George, tingkah lakunya semakin tidak terkendali; ia terlibat dalam berbagai macam tindakan asusila dan juga mabuk-mabukan. Pada suatu ketika ia ditantang teman-temannya untuk meminum 5 quarts bir, dan George Muller membuktikan bahwa ia memang sanggup melakukan hal itu dengan baik.

Salah satu kesukaan yang sering dilakukannya menginap di hotel-hotel yang mahal selama beberapa hari, lalu kabur tanpa membayar sewa hotelnya. Apabila demikian, ayahnya terpaksa datang untuk melunasi rekening hotel tersebut. Karena tingkah lakunya yang demikian, George pernah mendekam di penjara selama satu bulan dan kembali sang ayah yang baik hati datang untuk menebus anak kesayangannya itu.

Pada suatu malam ibu George sakit keras, dan ia dipanggil untuk datang ke rumah sakit. Tetapi, ia menolak sebab ia sedang asyik bermain kartu dengan teman-temannya hingga pukul dua dinihari. Keesokkan harinya ia tetap juga tidak membesuk ibunya, sebab hari itu dihabiskannya dengan bermabuk-mabukan dengan teman-temannya. Ia tidak menyesal ketika ibunya meninggal dunia dan ia tidak dapat melihat ibunya untuk terakhir kalinya.

Pada waktu George memasuki usia 20 tahun, ia melanjutkan studinya di universitas Halle yang pada waktu itu mempunyai 1200 mahasiswa. Diantara sekian banyaknya mahasiswa, hanya ada delapan orang Kristen yang sungguh-sungguh mempratekkan iman mereka. Dengan segera George menjadi pemimpin yang disukai teman-temannya sesama mahasiswa yang juga suka berfoya-foya dan mabuk-mabukkan. Delapan mahasiswa Kristen yang ada di kampus Halle itu selalu menjadi bahan ejekan dan olokan dari George dan teman-temannya.

Menjelang akhir tahun pelajaran pertama di Halle, George merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya. Secara fisik ia sehat-sehat saja, tetapi entah mengapa ia merasa sangat tidak bahagia dan batinnya tertekan. Ia pikir karena terlalu banyak kesibukan, maka ia pergi berlibur ke Swiss dengan harapan beban yang ada di dalam batinnya akan hilang dengan sendirinya. Tetapi ternyata liburan di Swiss tidak bisa menghilangkan rasa tertekan di dalam batinnya. Ia segera kembali ke Halle dan kuliah lagi seperti biasanya, namun beban batin itu ternyata semakin besar dan berat menekan hatinya sehingga ia menjadi sangat gelisah tidak menentu.

Dalam keadaaan seperti ini, ia teringat kepada delapan mahasiswa Kristen yang sering diolok-oloknya. Mereka mengadakan persekutuan doa, dan tanpa diundang ia mengikuti persekutuan tersebut. Mereka semua menyambut George dengan sukacita dan menceritakan tentang Kristus kepadanya. Mereka terus mendoakan George, demikian juga George berdoa buat dirinya sendiri, sampai pada akhirnya melihat Yesus sebagai juruselamat dirinya secara pribadi. Dan secara tiba-tiba beban berat yang menindih hatinya sekian lama itu terlepas dengan sendirinya, dan sebagai gantinya ada perasaan kasih terhadap Kristus yang sangat besar mengalir di dalam hatinya. Pada hari itu, bertobatlah George Muller!

Pertobatannya itu mengubah seluruh kehidupannya secara luar biasa. Sejak hari pertobatannya sampai saat ia dipanggil pulang ke surga pada usia 92 tahun, George Muller mendedikasikan seluruh hidupnya kepada Kristus secara luar biasa. Ketika ia berumur 25 tahun, ia menikah dengan Mary Groves dan pindah dari Jerman ke Inggris untuk menggembalakan sebuah jemaat kecil yang beranggotakan 18 jiwa. Berkat yang ia terima dari penghasilannya pada waktu itu hanya 55 poundsterling. Uang itu ternyata diperoleh dari hasil meminjamkan kursi-kursi gereja kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Ketika ia mengetahui hal ini, ia menolak untuk menerima uang tersebut, dan sebagai gantinya ia menaruh sebuah kotak di gereja dengan imbauan siapa yang digerakkan Tuhan untuk membantu pelayanannya, boleh memasukkan uang ke dalam kotak itu. Sejak saat itu ia berketetapan untuk tidak bersandar kepada manusia dalam kebutuhan finansialnya. Ia hanya mau bersandar kepada Tuhan saja dalam segala sesuatu yang dibutuhkannya, dan prinsip ini dengan konsekuen dijalankannya sampai akhir hidupnya.

George Muller kemudian sangat terbeban untuk mendirikan panti asuhan bagi anak-anak terlantar di Inggris yang pada saat itu jumlahnya ribuan orang. Banyak di antara mereka harus masuk ke dalam penjara sebab tidak ada orang yang mau memberikan perhatian kepada mereka. Namun, untuk kebutuhan yang pertama ia membutuhkan uang 1000 poundsterling, dan ia berdoa untuk hal ini. Ada yang memberikan 10 shillings, dan ini tentu terlampau sedikit dibandingkan kebutuhan yang ada, namun ia mengucap syukur dan menaruh uang tersebut sebagai benih imannya. Kemudian orang lain datang memberikan sebuah lemari besar, 3 baskom air, sebuah wadah air minum, 28 piring makan, 4 pisau, 5 garpu, 3 tempat garam dan 4 cangkir. Kita dapat memberikan catatan yang rinci seperti itu, karena setiap uang dan benda yang diterimanya, semuanya dicatat dengan baik di dalam buku catatannya. George mempunyai kebiasaan seperti itu, sehingga setiap permohonan doa yang dinaikkan dan dikabulkan Tuhan, pasti ia catat dengan baik. Sepanjang hidupnya lebih dari 25.000 permohonan doa yang dikabulkan oleh Tuhan, baik permohonan yang kecil seperti pena, sabun, dan lain sebagainya sampai kepada hal-hal yang besar seperti dana untuk membangun panti asuhan.

George Muller dipakai Tuhan secara luar biasa untuk mendirikan panti asuhan Kristen. Pada tahun 1845 ia sudah mempunyai 130 anak asuh dengan menyewa empat gedung. Kemudian ia berketetapan untuk mempunyai gedung sendiri yang bisa menampung 300 anak, padahal uang kasnya hanya 5 poundsterling. George mulai membawa semuanya ini kepada Tuhan dalam doa, dan pada tanggal 14 Januari 1846, sebulan setelah ia berdoa, datanglah sebuah sumbangan sejumlah 1000 poundsterling. Ia mempunyai prinsip tidak mau berhutang pada siapapun, dan ia hanya mau mulai bergerak maju apabila dananya sudah cukup. Maka ia mulai membangun pada 5 Juli 1847, ketika semua dana yang diperlukan sudah terkumpul. Pembangunan berjalan dua tahun lamanya dan ketika bangunan itu sudah selesai, ternyata di kas masih tersisa uang 776 poundsterling.

Selama hidupnya, George Muller membangun empat gedung panti asuhan lagi dengan cara yang sama, dan jumlah uang yang dipakainya untuk lima bangunan itu adalah 575.000 poundsterling. Nama George Muller dikenang sepanjang masa sebagai bukti betapa besar kuasa anugerah Tuhan yang telah mengubah seorang pemuda yang semula hidup bergelimang di dalam dosa, menjadi seorang pahlawan doa yang dipakai Tuhan secara luar biasa.

Kisah Orang2 Sukses : Kolonel Harland Sanders


Kolonel Harland Sanders

Kolonel Harland Sanders, lahir pada tanggal 9 September 1890. Mulai aktif dalam mewaralabakan (franchise) bisnis ayamnya pada usia 65 tahun. Saat ini, usahanya yang dikenal dengan Kentucky Fried Chicken atau KFC® telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam sistem makanan siap saji di dunia. Sosok Kolonel Sanders, pionir dalam restoran siap saji menjadi simbol dari semangat kewirausahaan.
Lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel dinikmati setiap tahunnya. Dan itu tidak hanya di Amerika Utara. Bahkan tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia.
Pada umur 6 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya sudah tidak bisa bekerja lagi, dan Harland muda sudah harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun dan suster bayinya. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah dan ia meninggal rumah tempat tinggalnya dekat Henryville, Ind., untuk mendapatkan pekerjaan di
pertanian di daerah Greenwood, Ind. Dia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun, pertama sebagai tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, Ind., dan kemudian sebagai pada usia 16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di kuba.
Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel. Pada usia 40 tahun Kolonel mulai memasak untuk orang yang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin, Ia belum punya restoran pada saat itu, tetapi ia menyajikan makanannya pada meja makannya di ruang makan di bengkelnya.
Semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran yang kapasitasnya 142 orang. Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini.
Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi Negara bagian cuisine. Dan pada tahun 1939, Keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines “Adventures in Good Eating.”
Pada awal tahun 1950 jalan raya baru antar negara bagian direncanakan melewati kota Corbin. Melihat akan berakhir bisnisnya, Kolonel menutup restorannya. Setelah membayar sejumlah uang, ia mendapatkan tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105.
Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel meyakinkan dirinya untuk membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual. Pada tahun 1964, Kolonel Sanders mempunyai lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Pada tahun itu, ia menjual bunga dari pembayarannya untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada sejumlah grup investor termasuk John Y. Brown Jr., yang kemudian menjadi Gubernur Kentucky dari tahun 1980 sampai 1984. Kolonel mengingatkan untuk menjadikan terbuka perusahaannya bagi publik. Pada tahun 1976, sebuan survey independen memberi peringkat kedua dunia sebagai selebriti yang terkenal di dunia.
Dibawah pemilik baru, perusahaan Kentucky Fried Chicken tumbuh dengan cepat. Kemudian menjadi perusahaan terbuka
pada 17 Maret 1966, dan terdaftar pada New York Stock Exchange pada 16 Januari 1969. Lebih dari 3,500 waralaba dan restoran yang dimiliki perusahaan beroperasi hampir di seluruh dunia ketika Heublein Inc. mengakusisi perusahaan KFC pada 18 Juli 1971 seharga $285 million.
Kentucky Fried Chicken menjadi anak perusahaan dari R.J. Reynolds Industries, Inc. (sekarang RJR Nabisco, Inc.), semenjak Heublein Inc. diakuisisi oleh Reynolds pada tahun 1982. KFC diakuisisi pada Oktober 1986 dari RJR Nabisco, Inc. oleh PepsiCo, Inc., seharga kurang lebih 840 juta dolar.
Pada Januari 1997, PepsiCo, Inc. mengumumkan spin-off restoran cepat sajinya — KFC, Taco Bell dan Pizza Hut – menjadi perusahaan restoran independen, Tricon Global Restorans, Inc. Pada Mei 2002, perusahaan mengumumkan menerima persetujuan pemilik saham untuk merubah nama perusahaan menjadi Yum! Brands, Inc. Perusahaan, yang dimiliki oleh A&W All-American Food Restorans, KFC, Long John Silvers, Pizza Hut dan Taco Bell restorans, adalah perusahaan restoran terbesar di dunia dalam kategori unit system dengan jumlah mendekati 32,500 di lebih dari 100 negara dan wilayah.
Sampai akhirnya ia terserang penyakit leukemia pada tahun 1980 di usia 90 tahun, Kolonel telah melakukan perjalanan
250,000 mil dalam satu tahun kunjungan restoran KFC mengelilingi dunia.
Dan itu semua dilakukan oleh seorang laki-laki berusia 65 tahun yang menggunakan uang jaminan sosialnya untuk memulai usaha.
Impian untuk sukses tidak harus impian masa kecil, bisa juga saat usia sudah senja. Inilah kegigihan Kolonel Sanders pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulainya di usia 66 tahun, pensiunan angkatan darat dari negara adidaya, tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Dia memiliki keahlian dalam memasak, dia tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008, menerima resepnya tersebut dan kini kita dapat menikmatinya di Indonesia, Kentucky Fried Chicken.
Mungkin impian Kolonel Sanders sangat sederhana, ingin memiliki uang yang layak untuk hidup di hari tuanya yang tinggal sebentar lagi.

Kisah Orang2 Sukses : Marjorie Newlin


Marjorie Newlin

Tidak ada kata terlambat...

Lima belas tahun yang lalu, Marjorie Newlin, 72 tahun sedang berbelanja di supermarket. Karena ada obral, dia membeli sekitar 25 Kg makanan kucing untuk peliharaannya. Sebagai janda yang berusaha untuk hidup mandiri, dia merasa kesal karena kepayahan mengangkat belanjaannya. Sejak saat itu dia memutuskan untuk bergabung dengan klub fitness di dekat rumahnya di Mt. Airy, Philadelphia USA.

Richard Brown, pelatih tempat fitness Rivers Gym sempat geli melihat nenek yang sudah punya 4 cucu dan 2 cicit ini mulai mengikuti latihan. Namun nenek tua ini rajin berlatih hari demi hari, minggu demi minggu sampai setahun. Sampai kemudian nenek ini berhasil mengangkat beban sekitar 50 Kg dan tubuhnya memiliki bentuk seperti layaknya orang yang berlatih body building.

Karena mendapat dorongan dari pelatih fitness, nenek Marjorie mengikuti lomba Bodybuilding Amateur Athletic Union yang terbuka untuk umum. Sebagai seorang Katholik sebetulnya dia merasa risih saat berlomba, karena ia harus memakai bikini layaknya atlit binaragawan. Namun, singkat cerita, dia ikut dan berhasil menjadi juara untuk kategori di atas 45 tahun. Penonton histeris ketika diumumkan bahwa pemenangnya sudah berusia 74 tahun.

Itu masih awalnya saja. Nenek Marjorie kemudian mengikuti banyak sekali perlombaan yang membawanya sampai ke Italia, Jerman dan Perancis. Sampai tahun lalu dia telah mengoleksi 40 piala dan banyak piagam-piagam pernghargaan yang mengisi satu kamar penuh di rumahnya. Prestasi yang memberi inspirasi ini bahkan telah membawa dia muncul diacara TV Oprah Winfrey Show, Today's Show dan juga menjadi pembicara di seminar-seminar.

Saat ini nenek Marjorie telah wafat. Namun, ia telah menginspirasi banyak orang bahwa ketekunan bisa menghasilkan prestasi. Lebih dari itu dia telah memberi contoh bahwa umur bukanlah penghalang untuk berprestasi.

Kisah Orang2 Sukses : Cindy Jacobs


Cindy Jacobs

Cindy Jacobs adalah puteri seorang pendeta gereja Southern Baptist. Ia dibesarkan di Texas dengan penghargaan yang tinggi akan hal-hal kerohanian. Ia pertama kali mendengar panggilan Allah pada tahun 1960 ketika berusia 9 tahun, saat menghadiri camp gereja. Ia naik ke sebuah bukit karang di hutan belakang kapel dan berdoa di sana. Ada hal khusus yang Allah inginkan untuk dilakukan oleh Cindy, demikian pesan Allah baginya.

Mimpi-mimpi tentang neraka pun mulai ia alami ketika berusia 12 tahun. Malam demi malam ia terbangun dengan penuh keringat dingin. Ia melihat orang-orang menderita siksaan kekal, dan hal ini mendorongnya memohon pada Allah agar memakai hidupnya untuk memenangkan orang-orang terhilang.

Setelah lulus kuliah, Cindy mengajar musik di sekolah umum. Pada tahun 1973 ia menikah dengan Mike dan hidup sebagai ibu rumah tangga biasa dengan dua anaknya. Di sela kesibukannya Cindy aktif memimpin koor gereja, bermain piano, memimpin ibadah Minggu pagi dan mengajar pemahaman Alkitab di gereja. Walaupun begitu, Cindy selalu merasa bahwa pelayanannya seharusnya menjangkau lebih jauh lagi dari sekedar di rumah dan gereja lokal. Bertahun-tahun telah berlalu, sepertinya Allah telah melupakan perjumpaan mereka di bukit karang di tengah hutan dulu.

Ketika Cindy berusia 30-an tahun, suatu hal aneh tiba-tiba terjadi. Setiap malam pada jam yang sama, Cindy selalu terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Hal itu berlangsung selama 2 minggu, sehingga dia memutuskan bahwa pasti ada alasan mengapa dia bangun pada jam tersebut. Ternyata Allah sedang menunjukkan padanya cara berdoa. Cindy lalu mulai berdoa bagi keluarga dan teman-temannya, disebutkannya nama siapa saja yang terlintas dalam pikirannya saat itu.

Di suatu malam ia terdorong untuk berdoa bagi seorang pendeta di gerejanya. Dia membisikkan suatu doa sederhana, “Tuhan, dia membutuhkan kesembuhan, dan dia merasa kesepian serta ketakutan. Hibur dia Bapa, sembuhkan dia, dan beritahu bahwa dia tidak sendirian.” Dia lalu menambah permintaannya, “Bapa, saya benar-benar ingin mendapat peneguhan dari Engkau bahwa doa-doa saya ada gunanya.” Sebelum ia terbaring kembali untuk tidur, Cindy memperhatikan waktu itu jam 3:10 dini hari.

Pada kebaktian keesokan harinya, pendeta itu menjumpai Cindy. Katanya, “Tidak banyak orang yang tahu hal ini. Saya menderita kanker. Semalam saya terbangun dan merasa kesakitan. Saya merasa kesepian dan berteriak di hadapan Allah. Tuhan tidak adakah seorang yang memperhatikan saya? Pada saat itu Allah berkata pada saya, ‘Cindy Jacobs terjaga, dan dia berdoa untukmu.’ Waktu itu sekitar jam 3:10,” kata pendeta itu.

Peneguhan itu cukup bagi Cindy untuk tetap berdoa di tengah malam dan ia makin diteguhkan ketika tahu bahwa pendeta itu telah disembuhkan. Ia berdoa lebih tekun lagi dan ia merasakan doa-doanya selalu mengenai sasaran. Kabar segera tersiar, bahwa jika orang butuh sesuatu, mereka perlu datang ke Cindy Jacobs. Gereja dan Women’s Aglow Chapter mulai memintanya berbicara tentang doa syafaat. Dia menggali Firman Allah untuk menemukan cara bagaimana mengajar orang berdoa. Allah pun meningkatkan pelajarannya dengan mempertemukan Cindy dengan pemimpin-pemimpin doa seperti C. Peter Wagner, Joy Dawson, Dick Eastman dan BJ. Whilhite. Perjumpaannya dengan orang-orang ini membangkitkan semangatnya untuk dipakai Allah lebih dahsyat lagi.

Tapi konflik di dalam diri Cindy mulai timbul berkenaan dengan pelayanannya. Cindy merasakan Tuhan memimpinnya untuk pergi ke negara lain, namun banyak orang yang memberitahukannya untuk tetap tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga membesarkan kedua anaknya. Selama dua tahun ia bergumul tentang hal ini hingga akhirnya Allah membukakan semuanya bagi dirinya dan juga Mike, suaminya. Mereka berdua lalu terjun sepenuhnya ke ladang misi dan di tahun 1985 Cindy bersama Mike mendirikan Generals of Intercession (GI) yang melayani bidang doa syafaat atau doa peperangan rohani.

Cindy percaya bahwa gereja tidak efektif memenangkan bangsanya bagi Kristus karena orang Kristen kurang memahami strategi doa gaya militer. Seperti C. Peter Wagner dan orang-orang lain yang sadar akan pentingnya peperangan rohani, Cindy menghimbau umat percaya di seluruh dunia untuk memerangi kuasa kegelapan dengan doa yang terarah. Dia menantang orang Kristen untuk memerangi “roh-roh teritorial”. Bukunya yang diterbitkan pada tahun 1991 berjudul “Possesing the Gates of the Enemy” dianggap sebagai buku manual untuk doa peperangan rohani di mana-mana.

Pengalamannya yang luar biasa bersama Allah menjadikan Cindy memiliki banyak kisah peperangan rohani, dan ia suka bagikan kepada teman-temannya untuk menguatkan dan mendorong mereka untuk lebih bersemangat.

* Pada tahun 1990 dia berbicara di dua seminar di kota Resistencia, Argentina. Pendeta lokal menunjukkan apa yang mereka rasakan sebagai roh-roh jahat yang menguasai kota itu termasuk San La Muerte, roh kematian yang disembah oleh penduduk setempat. Setelah waktu pertobatan, pemimpin Kristen lokal mengusir roh-roh jahat itu. Menurut penginjil Argentina Edgardo Silvoso, kota yang berpenduduk 400.000 itu sukar sekali dijangkau sampai waktu itu. Tetapi setelah roh-roh jahat itu diusir, keanggotaan gereja meningkat dua kali lipat, 18 jemaat baru didirikan dan walikotanya menerima Kristus

* Di tahun yang sama, Cindy menubuatkan dalam pertemuan doa di kota Argentina, Mar del Plata bahwa meja judi di salah satu kasino terbesar di kota itu akan dilemparkan ke jalan. Dia juga menyatakan bahwa kasino itu akan menjadi tempat ibadah. Suatu pernyataan yang kelihatannya terlalu mengada-ada. Tapi, tepat 51 hari setelah didoakan oleh pendoa syafaat lokal, kedua nubuatan itu terjadi. Api merusak bagian kasino dan pemiliknya secara harafiah melemparkan meja judi ke jalan.

* Pada tahun 1991, sekelompok pendoa syafaat di Brasilia mengincar kubu roh jahat ‘Karnaval’, setelah Cindy memberikan nubuatan bahwa Allah akan memakai arak-arakan “Berbaris Bagi Yesus” untuk menghentikan festival kegelapan itu. Para pendoa syafaat percaya bahwa ‘Karnaval’ adalah tenaga penggerak di balik pemberontakan yang terjadi di jalan-jalan di Brasilia. Menurut sumber Cindy di Brasilia, paling sedikit lima perayaan ‘Karnaval’ akhirnya ditutup pada tahun 1993.

* Tahun 1993 Cindy memimpin doa pendobrakan di Jepang, dimana masyarakat Kristennya sedikit dan terpecah-pecah. Pemimpin rohani setempat berkata bahwa peristiwa itu penting artinya karena umat percaya baik karismatik maupun bukan bertobat karena terpisah satu sama lain. Beberapa bulan kemudian ketika diadakan KKR secara nasional yang pertama di Jepang, ribuan orang mengaku percaya kepada Kristus.


Cindy Jacobs tidak merasa takut dengan peranannya karena ia menguasai strategi peperangan rohani dan dia tahu bahwa ia akan menang. Di samping itu, dia percaya Allah memakai bejana yang lemah untuk menghasilkan hal yang besar bagi kerajaan Allah. Dan semuanya itu meneguhkan jenderal wanita ini untuk terus berperang bagi Kristus.

Kisah Orang2 Sukses : Samuel Finley Breese Morse


Samuel Finley Breese Morse

Masa Muda
Samuel Finley Breese Morse lahir di Charlestown, Massachussetts, Amerika, tanggal 27 April 1791. Dia adalah anak sulung dari tiga putra keluarga Dr. Jedidah Morse, seorang pendeta dan ahli geografi. Samuel muda dibesarkan dalam keluarga yang memegang teguh ajaran Alkitab tentang penciptaan. Ayahnya juga penulis buku ajar geografi yang dipakai oleh hampir semua sekolah pada waktu itu. Buku ini, setelah disunting ulang, tetap dipakai hingga Dr. Morse wafat. Buku geografi karya Dr. Morse mencakup pembahasan ilmiah mengenai terlindungnya hewan-hewan di dalam bahtera Nuh dan penyebarannya ke seluruh bumi.

Keluarga Morse yang cukup berada mengirim ketiga putranya ke sekolah Kristen berasrama, dan kemudian ke Yale College. Sebagai bagian dari pelajarannya di Yale, Samuel melihat demonstrasi listrik, yang pada waktu itu belum dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat. Dia juga bereksperimen dengan kamera "obskura" -- bentuk sangat sederhana dari kamera foto membuat bayangan melalui lensa, dan kemudian bayangan itu dicetak pada dinding atau layar dalam yang digelapkan. Tapi minatnya yang sesungguhnya adalah seni lukis, dan dia mengembangkannya pada waktu senggangnya. Namun, ayah Samuel menganggap bahwa menjadi seniman bukanlah pekerjaan yang cocok bagi pria terhormat.

Bakat Seni Berkembang

Samuel mulai bekerja pada seorang pencetak dan penjual buku, tapi dia tidak menyukai pekerjaan itu. Pada waktu senggang, dia melukis. Ketika bakatnya mulai diakui, ayahnya akhirnya setuju dan mengirim dia ke Inggris untuk belajar seni. Di sana, bakat Samuel berkembang dan mendapat pengakuan masyarakat. Bukti-bukti keberhasilannya, antara lain sebuah patung yang disebut "Herkules Wafat", yang mendapat penghargaan bergengsi, sebuah lukisan yang juga berjudul "Herkules Wafat", dan lukisan lain yang disebut "Pengadilan Jupiter".

Ketika Morse kembali ke Amerika Serikat, dia berkeliling ke berbagai kota mencari nafkah sebagai pelukis potret. Tokoh yang dia lukis, antara lain James Monroe, presiden kelima Amerika Serikat, dan Jenderal Perancis yang terkenal, Lafayette. Dia juga melukis adegan yang menggambarkan praktik demokrasi. Sebuah lukisan besar, "Balai Perwakilan", menggambarkan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat sedang bersidang. Lukisan ini mendapat pujian luas.

Meskipun karya-karyanya makin dikenal, penghasilan Morse tetap tidak menentu. Dalam masa sulit tapi bahagia inilah Morse mulai menghasilkan temuan-temuan ilmiah. Bersama saudaranya, Sidney, dia membuat pompa air yang lebih baik dan sebuah mesin pemotong batu pualam.

Kelak Morse memadukan bakat seni dan ilmunya. Di Perancis, dia melihat proses baru dalam fotografi, dan dia termasuk orang pertama yang memotret di Amerika Serikat. Waktu itu, orang yang dipotret harus duduk diam selama 10 menit. Karena cara ini tidak cocok untuk mengambil foto orang, Morse bekerja sama dengan John Draper, seorang ilmuwan dan guru besar, untuk meningkatkan proses kimia fotografi sehingga hanya diperlukan waktu ekspos selama satu menit. Morse juga mengajar seni dan ilmu fotografi kepada banyak orang.

Masalah Komunikasi

Apa sebabnya Morse menghentikan karier seninya yang sudah berhasil dan memusatkan perhatian pada pengembangan telegrafi? Pada zaman Morse, proses komunikasi sangat lambat. Dia mengalami sendiri masalah-masalah yang disebabkan oleh kelambatan komunikasi itu.

Tahun 1811, ketika dia tiba di London sebagai siswa seni, hubungan Inggris dan Amerika Serikat sedang sangat tegang. Kapal-kapal Inggris menyerang kapal-kapal Amerika Serikat yang diyakini mengangkut barang untuk musuh Inggris, yaitu Perancis. Akhirnya, Inggris berupaya mengadakan rekonsiliasi. Sayangnya, ketika pesan itu sedang dalam perjalanan yang lamanya satu bulan melintasi Samudra Atlantik pada tahun 1812, Amerika Serikat sudah menyatakan perang. Perang ini berakhir dua tahun kemudian. Sesudah perjanjian perdamaian ditandatangani, tentara Amerika dan tentara Inggris masih terlibat dalam pertempuran besar lain karena tidak tahu bahwa perang sudah usai.

Kelambatan komunikasi juga memengaruhi Morse secara pribadi. Tahun 1825, istrinya yang masih muda meninggal mendadak di New Haven, Connecticut, terpisah 500 kilometer dari Washington D.C., tempat Morse berada. Dia tidak bisa menghadiri pemakaman istrinya karena beritanya baru sampai kepadanya melalui pos satu minggu kemudian. Morse menyadari bahwa masalah internasional dan personal yang dia alami bisa dicegah jika listrik bisa dipakai untuk komunikasi.

Menciptakan Sandi Telegrafi dan Morse

Morse mendapat gagasan tentang telegrafi elektromagnetik rangkaian tunggal ketika dia berada dalam pelayaran menuju Amerika Serikat dari Eropa tahun 1832. Dengan bantuan Leonard Gale, dosen ilmu alam, Morse mengembangkan gagasannya menjadi model yang operasional selama lima tahun. Ini meliputi penggunaan sandi titik dan garis untuk huruf-huruf abjad, yang dikenal sebagai Sandi Morse. Titik dan garis disalurkan sebagai pulsa listrik pendek dan panjang, dengan sela di antaranya.

Dia mendemonstrasikan telegrafi kepada para usahawan dengan harapan mereka mau membiayai pembangunan jalur telegrafi. Karena tidak ada penanam modal swasta yang tertarik, dia menghabiskan waktu satu tahun lagi untuk membangun model yang lebih baik dan mendemonstrasikannya kepada pemerintah Amerika Serikat. Lagi-lagi, dia tidak berhasil mendapatkan bantuan keuangan. Morse pergi ke Inggris dan Eropa selama satu tahun untuk mencari dukungan keuangan, tapi gagal juga.

Sekembalinya di Amerika Serikat, dia mencoba menarik minat masyarakat. Dia memasang kawat terisolasi melintasi pelabuhan New York dan mengumumkan di surat-surat kabar bahwa dia akan melakukan demonstrasi umum. Tapi malang, jangkar sebuah kapal tersangkut memutuskan kawatnya. Alih-alih dukungan, Morse malah mendapat cemoohan. Selama sebelas tahun penuh frustrasi, Morse tidak memunyai uang dan sering kelaparan. Namun, dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Tuhan. Pada masa sulit ini, dia menulis, "Saya sangat yakin bahwa, meskipun terasa aneh, semua ini diatur oleh tangan Bapak Surgawi."

Keberhasilan Telegrafi Pertama

Tahun 1843, Morse berupaya lagi menarik minat pemerintah Amerika Serikat untuk membiayai penerapan telegrafinya. Kali ini dia berhasil. Meskipun banyak kesulitan teknis, dia berhasil membangun jalur telegrafi pertama dari Washington ke Baltimore dengan anggaran yang tersedia dan dalam waktu yang ditentukan. Tanggal 24 Mei 1844, semuanya sudah siap. Kata-kata untuk pesan pertama dipilih oleh seorang wanita Kristen muda, putri sahabatnya. Dia memilih kata-kata "keajaiban yang diperbuat Allah" dari Kitab Bilangan 23:23 karena wanita ini menyadari bahwa Tuhanlah yang telah mengilhami dan mendukung Morse selama ini.

Morse Menghadapi Pengadilan

Keberhasilan telegrafi mendatangkan ketenaran bagi Morse dan akhirnya juga perbaikan keuangan. Namun, sukses ini juga mengundang banyak orang culas untuk mengaku bahwa merekalah penemu telegrafi. Ada juga yang hanya ingin membangun telegrafi tanpa harus membayar Morse untuk memeroleh hak itu. Akhirnya, tuntutan pengadilan ini sampai di Mahkamah Agung Amerika Serikat. Mahkamah memutuskan bahwa "hanya Morse, tahun 1837, yang telah mencapai hasil paling sempurna, yang bisa digunakan untuk keperluan praktis dan keperluan masyarakat. Telegrafi tidak pernah diciptakan, disempurnakan, atau dipakai untuk kegunaan praktis sebelum dilakukan oleh Morse".

Mengenai bantuan yang diperoleh Morse dari orang lain, hakim berkata, "Kenyataan bahwa Morse mencari dan memeroleh informasi yang diperlukan dari sumber-sumber yang terbaik, dan bekerja atas dasar informasi ini, tidak mengurangi haknya sebagai penemu, juga tidak mengurangi jasanya."

Kesungguhannya Sebagai Orang Kristen

Samuel Morse adalah Kristen yang sepenuhnya berserah kepada Tuhan. Beberapa tahun sebelum meninggal, dia menulis: "Semakin saya mendekati akhir perjalanan ziarah ini, makin jelas bahwa Alkitab berasal dari Allah; kebesaran dan keagungan pertolongan Tuhan bagi manusia yang berdosa semakin saya sadari, dan masa depan diterangi dengan harapan dan sukacita."

Kepercayaan Morse kepada Juru Selamat dan Tuhannya, Yesus Kristus, tampak nyata dalam semua aspek kehidupan dan pekerjaannya. Selama tahun-tahun penuh kemiskinan, kesedihan, frustrasi, dan cemooh, Morse selalu mengandalkan berkat Allah yang tak berkesudahan, dan mengatakan: "Hanya Dia yang bisa menopang saya ... melalui semua percobaan saya."

Meskipun sering kekurangan, Morse selalu menyumbang banyak untuk pekerjaan Tuhan. Dia mendukung para misionaris dan badan-badan yang mendidik pendeta. Dia juga menyediakan waktunya untuk Allah. Di gerejanya, dia mendirikan salah satu sekolah minggu yang pertama di Amerika Serikat. Meskipun pekerjaan sering memisahkannya dari istri dan anak-anaknya, dia memakai waktu tersebut untuk memberi semangat kepada sesama Kristen dan mempromosikan gagasan sekolah minggu.

Samuel Morse membuat revolusi dalam komunikasi dengan menerapkan ilmu. Tapi selain itu, "dia dapat disejajarkan dengan seniman-seniman potret terbesar di dunia". Dia tetap seorang Kristen yang rendah hati, yang menggambarkan karyanya dengan mengaku, "Semuanya adalah karya DIA .... 'Bukan bagi kami, tapi bagi nama-Mu-lah, ya, Tuhan, semua pujian.'"

Morse tidak melihat konflik antara pengetahuan ilmiahnya dengan agama Kristen. Bahkan, dia yakin bahwa "pendidikan tanpa agama adalah berbahaya karena aturan-aturan kekristenan yang sederhana dan masuk akal akan digantikan oleh teori-teori yang sembarangan".

Kisah Orang2 Sukses : Honda

Pernah orang Jepang dijuluki les marchands des transistors (pedagang transistor) oleh de Gaulle. Namun sekarang mereka bukan hanya juara dunia dalam hi-fi, tetapi juga dalam microprocessor, mobil, bioindustri dan lain-lain.

Dalam sepuluh tahun terakhir produksi Jepang meningkat dua kali lebih cepat daripada Amerika Serikat. Apa rahasianya?

Berikut ini kita akan menjenguk orang-orang yang mempunyai andil besar dalam kemajuan tehnik Jepang.

Mula-mula kita jumpai Akio Morita si pencipta perusahaan Sony. Dia menyukai olahraga golf, sekaligus menjadi pengagum musikus Beethoven. Saking gandrungnya pada musik sampai-sampai di lapangan pun dia ingin bermain golf sambil mendengarkan Symphony kesembilan.

“Saya membutuhkan sebuah alat kecil dengan pengeras suara,” kata Akio Morita pada anak didiknya. Tak lama kemudian tcrciptalah walkman.

Dia berusia sekitar enampuluhan, kurus, rambutnya putih dan matanya hampir kuning. Tapi ia nampak seperti umur duapuluh karena semangatnya yang tak kenal lelah.

Rumahnya di daerah kedutaan, di Tokyo. Bertingkat, dengan kebun dan sebuah kolam renang. Boleh dikata dia seorang boss Jepang yang sudah berorientasi ke Barat. Dia tak berkeberatan istrinya turut menjamu tamu dalam pakaian Barat. Tetapi, ia tetap menjalani hidup sederhana dan kekeluargaan menurut tradisi.

Setiap pagi pukul delapan tepat Akio Morita tiba di kantor. Ia selalu mengenakan seragam yang sama dengan yang dipakai anak buahnya, meskipun jas luarnya buatan Inggris. Ini untuk menunjukkan semangat demokratis yang menjiwai setiap perusahaan Jepang.

Pada tahun 1947 Akio Morita mendirikan perusahaan Sony; memasarkan transistor yang pertama, televisi berwarna pertama, dan walkman pertama. Saat ini perusahaan sedang maju-majunya, ia mengekspor 70% dari produknya. “Pasaran kami adalah seluruh dunia,” katanya.

Kemajuan teknologi Jepang didorong oleh semangat untuk menyegerakan, dengan penuh kesadaran dan rasa kebanggaan. Tidak sampai dua generasi untuk mewujudkan mukjizat ini. Sebelumnya, orang Barat mengejek, Jepang hanya bisa membuat sepeda yang rodanya tidak bisa berputar dan jam-jam yang tidak bisa dipercaya. Karikatur tahun tigapuluhan pernah menunjukkan gambar seorang pemburu menyandang sepucuk senapan, yang ketika picunya ditarik maka larasnya menggembung. Capnya: made in Japan (bikinan Jepang).

Tetapi tiba-tiba orang Jepang tergila-gila pada perlombaan matematika dan fisika. Ujian-ujian di berbagai universitas menjadi sangat berat dan terjadi persaingan mati-matian. Ini menghasilkan orang-orang yang pandai. Di Pusat Penelitian Sony, jejak kaki para direktur yang sukses dicetakkan di atas tanah, seperti halnya jejak kaki para bintang Hollywood di studio MGM.

Saingan istrinya sebuah komputer
——————————–

Sama dengan majikannya, Makoto Kikuchi direktur baru pada Pusat Penelitian Sony ini bisa berbahasa Inggris, dengan tujuan dapat berbicara dengan robotnya; sebuah “Apple” Amerika.
“Masih yang terbaik untuk saat ini,” ucapnya jujur. Laki-laki berusia 45 tahun ini sebelumnya sudah sangat terkenal di Jepang sebagai ilmuwan yang paling mengagumkan dari Pusat Penelitian Negara. Ia mengkhususkan diri dalam microprocessor. Ia pindah ke Sony enam tahun yang lalu.

Dalam sebuah rumah yang amat kecil berbentuk bujur sangkar dan terbuat dari kertas minyak itulah ia tinggal bersama istrinya dan hidup dengan sederhana. Dengan kimononya dan berlutut di atas tikar Jepang, istrinya dengan setia menemani suaminya bermain dengan komputer.

Mottonya: Research Makes The Difference, menggambarkan keambisiusan Makoto Kikuchi. Motto ini ditulis pada truk-truk perusahaan dalam bahasa Inggris supaya menimbulkan kesan eksotis.

Ia punya rencana untuk beberapa tahun mendatang: membuat komputer yang bisa menguraikan bahasa percakapan orang Jepang supaya setiap orang Jepang dapat berbicara dengan komputer.

Dengan senang hati, dia mengundang 190 penyelidik datang ke pusat penelitiannya. Kata Makoto: “Sony memberikan 3,5 sampai 5% penghasilannya untuk penelitian.” Tambahnya: “Sebelum ini saya bekerja di sebuah laboratorium di Amerika Serikat. Di Sony, cukup hanya satu jam bagi saya untuk memperoleh sebuah alat yang harganya setengah juta dolar. Saya lalu bisa menghargai perbedaan ini.” Ia tetap seorang Jepang Tulen meskipun lama tinggal di Amerika Serikat.

Para peneliti Sony mempelajari sinar energi matahari, teknologi silikon dan lainnya. Tetapi bidang yang paling disukainya adalah semiconductor. Dia memulai segalanya dari nol pada tahun 1976.

Di perusahaan Sony, kaitan penelitian produksi dengan pemasaran merupakan satu keharusan yang permanen. Contohnya, setiap Minggu pagi Makoto sarapan bersama Akio Morita dan Direktur Marketingnya. Hubungan yang begitu wajar dan akrab antara peneliti dan pemimpin ini jarang sekali terjadi di Amerika maupun di Eropa.

Morita yang sudah begitu kebarat-baratan, yang kalau bermain golf memakai kemeja dan topi Amerika, tetap membungkukkan badan sampai ke tanah bila berjumpa dengan kawan. Dalam mobil ia memiliki telepon, televisi dan magnetoskop; tetapi ia tetap mengenakan seragam yang sama seperti 35.000 anggota Sony.

Honda tidak memberi warisan kepada anak
—————————————

Soichiro, 78 tahun, adalah pendiri Honda Motor. Ia juga mengenakan seragam karyawan biasa di perusahaan, kemeja dan topi putih. Dia lebih suka bekerja di bengkel, meskipun tersedia ruangan di setiap perusahaannya. Sebelum pecah perang, ia pernah menjadi montir biasa.

Sedikit demi sedikit ia turut meletakkan dasar perusahaan. Sekarang ia mengepalai 23.000 buruh dan membawahi 43 perusahaan di 28 negara (enam ada di Jepang).

Anak buahnya diberi kepercayaan total dan tanggung jawab pribadi atas apa yang dihasilkannya.

Soichiro tidak memiliki harta pribadi. Dia tinggal dalam sebuah rumah sederhana. Kegemarannya melukis di atas kain sutra dan bermain golf. Barangnya yang berharga cuma sebuah helikopter dan mobil biasa. Penghasilannya dipakai untuk penelitian dan bea siswa kaum muda. Dia bahkan tak memberi warisan kepada anak-anaknya.

“Warisan paling berharga yang dapat saya berikan adalah membiarkan mereka sanggup berusaha sendiri,” katanya.

Hadiah untuk gagasan yang paling baik

Kyoto Ceramics adalah salah satu pabrik pembuat microchips (elemen-elemen kecil komputer) yang paling kuat di dunia.

Omset Kyoto Ceramics 400 juta dolar dan menghasilkan keuntungan luar biasa, 12% setelah dipotong pajak.

Ada tujuh buah perusahaan di Amerika Serikat dan tiga di Jepang. Inamori sang pemimpin, seperti juga Soichiro Honda dan Kaku pemimpin Canon, menganggap dirinya sebagai karyawan biasa. Selisih gaji direktur dan buruh baru di Jepang lebih kecil bila dibandingkan dengan di Eropa dan Amerika Serikat.

Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-rekan di Barat. Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu barang harus ada fungsinya.

Bagaimana mereka bisa memegang prinsip sebaik itu?
————————————————–

Mari kita menengok ke Gamo, salah satu pabrik keramik di Kyoto. Kurang lebih 50 kilometer dari Kyoto. Di sini pada pukul delapan pagi seluruh karyawan Gamo berkumpul dalam ruang-ruang besar. Dari tiap ruang, di atas sebuah panggung seorang laki-laki meneriakkan: berdiri, bersiap, luruskan kaki dan istirahat. Ratusan laki-laki dan perempuan dalam seragam biru berdiri siap. Laki-laki lalu melaporkan hasil pekerjaan bulan lalu dan menambahkan delapan pesan produksi, tentang mutu, penurunan ongkos dan sebagainya.

Selesai laporan, dia memanggil lima orang maju ke depan. Mereka diberi hadiah, karena telah menyumbangkan gagasan yang paling baik, pada bulan sebelumnya. Di semua perusahaan Jepang, para insinyur dan buruh diundang menyumbangkan gagasan untuk lebih memajukan produktivitas, keamanan dan semua bidang yang berkaitan dengan kehidupan perusahaan.

Di Canon, setahun yang lalu, masuk sekitar 146.242 gagasan yang ternyata dapat menghemat lebih dari tujuh juta yen!

Sebulan sekali mereka berkumpul, memberi laporan pekerjaan selama ini, bertukar pengalaman dan mutu pekerjaan mereka.

Hadiah bagi gagasan mereka yang terpilih antara lain medali, jam tangan, tiket kereta atau pesawat terbang. Yang kurang berinisiatif tak akan mendapat apa-apa. Tak pernah terjadi seseorang mendapat sanksi negatif.

Setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan. Benar-benar merupakan perwujudan demokrasi yang didasarkan pada penghargaan hasil kerja dan atas hierarkinya. Di Jepang, persaingan ditumbuhkan sejak kanak-kanak. Keluaran sekolah bereputasi tinggi lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang baik.

Di tiap perusahaan ada serikat buruh, yang setiap tahunnya mengorganisir pemogokan untuk memperoleh kenaikan gaji yang disebut Shunto. Tetapi Shunto ini cuma suatu upacara tradisi, bukan pemogokan seperti layaknya di Barat.

Robot membuat robot
——————-

Di kaki Gunung Fuji ada robot membuat robot. Robot-robot itu bekerja dengan diam-diam. Beberapa manusia membaca lembaran kertas besar yang keluar dari terminal robot.
Di Honda Motor Cie, di sebuah dusun dekat Tokyo, kita bisa melihat mobil yang di-assembling oleh robot, yang mematri 160 kali setiap detiknya. Grup-grup yang terdiri dari lima atau enam buruh memeriksa hasil kerja robot. Setiap buruh diizinkan menghentikan pekerjaan dengan cara menekan tombol merah, bila ada yang kurang beres.

Hasilnya: pada produksi akhir hanya ada 0,1% yang apkir, dibanding dengan 20% di Eropa. Di Sony, semua karyawannya teliti. Para majikan di Eropa memimpikan pabrik mereka bisa menyamai Jepang, dan mendambakan buruh-buruh yang serupa pula.

Di perusahaan Canon, Tuan Kaku yang adalah presiden direkturnya itu dan para buruhnya, saling menundukkan kepala mereka sama dalamnya. Percakapan antara mereka bisa membuat heran telinga-telinga Perancis.

Tuan Kaku menjelaskan secara mendetil target keuangan dan tehnik yang ingin dicapai perusahaan. Kepala serikat buruh Canon meyakinkan majikannya, keberhasilan Canon merupakan satu kepuasan bagi seluruh karyawan dan mereka ingin bekerja sama sepenuhnya bersama direksi.

Majikan-majikan Eropa sangat kagum melihat modernisasi Jepang. Kagum bukan hanya karena melihat sindikat-sindikat buruh dapat bekerja sama begitu baik dangan majikannya, tetapi juga melihat para majikan yang tak pernah memecat buruhnya itu.

Mereka melihat suatu industri di mana otomatisasi tidak menciptakan pengangguran, dan setiap buruh mau dan dapat memahami apa pun yang mereka lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya perusahaan. Yang nampak di depan mereka adalah sebuah dunia, di mana disiplin yang mirip disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan dengan rasa hormat pada setiap individu. Inilah rahasia kemajuan Jepang. (Paris Match/Intisari)

Kisah Orang2 Sukses : Mother Teresa of Calcutta



Mother Teresa of Calcutta


"By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus."


Itulah yang dikatakan oleh salah seorang tokoh kemanusiaan yang dipenuhi oleh cinta kasih. Bunda Teresa, seorang yang memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin di India.

Dilahirkan di Skopje, Albania pada 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.

Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat memengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.

Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokalnya yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.

Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal dengan pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.

Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Setelah mengikrarkan komitmennya kepada Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St. Mary's High School di Kalkuta. Di sana ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala sekolah St. Mary.

Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling.

Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan yang berikut dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, 10 September 1946, disebut sebagai "Hari Penuh Inspirasi" oleh Bunda Teresa.

Selama berbulan-bulan, ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya.

Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru.

Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka, di sebuah taman. Di sana ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, di samping mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak yang miskin. Selain itu, berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa tatkala perjuangannya mulai mendapat perhatian, tidak hanya individu-individu, melainkan juga dari berbagai organisasi gereja.

Pada 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Diinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan.

Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka telantar di jalan-jalan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itu pun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat.

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum termiskin di antara yang miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan.

Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke daerah-daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin.

Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri di setujui oleh Paus Paulus VI pada 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri.

Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan telantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.

Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston.

Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Maka pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize.

Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.

Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar $6.000 yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan.

Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama agi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.

Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.

Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.

Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda Teresa.