Rabu, 29 Juli 2015

Ampunilah krn kamu sudah diampuni


Cerita ini berawal ketika kami sekeluarga berlibur di luar negeri. Kami dilayani oleh seorang anak gadis ketika kami makan di sebuah restoran yang cukup ternama di negara itu. Ketika ikan yang kami pesan disajikan, piring yang dipegang pelayanan malah miring dan menumpahkan saus ikannya ke atas tas kulit saya.
Saya marah! Tapi, sebelum saya meluapkan emosi saya, putriku langsung berdiri dan menghampiri pelayan itu. Dengan senyuman dari wajahnya dia menepuk pundaknya dan berkata, "Tidak apa-apa kok..."

Pelayan itu ketakutan dan merasa bersalah berkata, "Maaf, saya akan ambilkan lap..."

Putriku menjawabnya, "Sudah tidak apa, nanti akan saya bersihkan ketika saya pulang. Kamu kembali bekerja saja, beneran tidak apa-apa kok..."

Anak perempuanku berkata dengan sangat lembut, seperti dia yang melakukan kesalahan. Saya menatap tajam anak saya dan rasanya emosi saya sudah pada puncaknya.

Malam harinya ketika kami kembali ke hotel, kami ibu dan anak berbaring di atas ranjang melepas rasa lelah. Di waktu yang seharusnya menjadi waktu istirahat, putriku malah mengungkit masalah di restoran tadi. Dia bercerita bagaimana pengalaman dia di London 3 tahun lalu.
3 tahun lalu demi mengajarinya untuk hidup mandiri, saya dan suami saya tidak mengizinkan dia pulang untuk liburan musim panas, malahan kami berharap dia bisa pergi berlibur di sana atau cari kerja di sana.

Putriku yang manja dan tidak biasa melakukan pekerjaan rumah ini, malah memilih menjadi seorang pelayan di sebuah restoran di Inggris. Namun hari pertama mulai bekerja saja dia sudah membuat kesalahan fatal...
Dia ditugaskan untuk pergi ke dapur membersihkan gelas – gelas anggur yang tipis. Kita semua tahu, kalau gelas tipis dan bening ini jika dibersihkan dengan tenaga yang kuat akan mudah pecah.

Putriku pun akhirnya membersihkan semua gelas yang kelihatannya tidak akan habis dibersihkan. Tapi siapa sangka, ketika dia memutarkan badannya, dia tidak sengaja mendorong setumpukan gelas tersebut dan dalam sekejap gelas-gelas itu pun berubah menjadi sekumpulan keping-keping kaca.

"Ma, waktu itu, rasanya aku tuh seperti langsung masuk neraka tahu gak?"
Suara putriku bergetar ketika menceritakannya kembali pengalamannya. Tapi, apa reaksi dari bosnya? Bosnya menghentikan semua pekerjaannya dan menghampiri dia, memeluk dia sambil berkata, "Oh sayang, kamu tidak apa – apa kan?"

"Kemudian, dia berbalik dan menyuruh rekan kerja yang lain, "Tolong bersihkan keping – keeping gelas ini ya!"
Dia sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat aku tertuduh," kata putriku sambil mengingat masa lalunya.

"Sudah jatuh tertimpa tangga" menjadi pribahasa yang cocok untuk putriku. Dia melakukan satu kesalahan fatal lagi yaitu tidak sengaja menumpahkan anggur ke atas gaun tamu yang datang!
Dalam hatinya dia berkata, "matilah aku! Pasti bos akan pecat aku!" Tapi siapa sangka, tamu itu menghiburnya! Dia berkata, "Tidak apa-apa... Alkohol gampang kok dibersihkan."
Dia pun berdiri, menepuk pundak putriku dan pergi ke kamar mandi membersihkan gaunnya.

Suara putriku terdengar penuh dengan rasa bersyukur dan berkata, "Ma, kalau orang lain saja bisa memaafkan putrimu yang manja ini, masa mama tidak bisa memaafkan orang lain? Anggap saja mama memaafkan putri sendiri."

Memaafkan orang lain menandakan kita bisa memaafkan diri kita sendiri.

TERUSLAH BERDOA

UNTUK TDK MENYERAH or KEBETULAN ?
(Sebuah kisah nyata)

Pada suatu waktu, Dr. Mark, seorang spesialis kanker yang terkemuka, sedang dalam perjalanan menuju sebuah konferensi penting di sebuah kota lain utk menerima penghargaan di bidang riset medis.

Dia sangat bersemangat utk menghadiri konferensi itu dan ingin secepatnya tiba di sana. Ia telah bekerja keras dan lama utk risetnya itu dan merasa layak utk menerima penghargaan tsb.
Akan tetapi, 2 jam setelah pesawatnya tinggal landas, pesawat itu harus mendarat darurat di bandara terdekat akibat kerusakan teknis.
Krn kuatir akan terlambat tiba di konferensi tsb Dr. Mark segera pergi ke bagian resepsion dan mendapati bhw penerbangan berikutnya baru ada 10 jam kemudian.
Resepsionis menyarankan agar ia menyewa mobil dan berkendara ke kota tempat konferensi itu yang hanya akan memakan wkt 4 jam berkendara.

Karena tidak ada pilihan lain, ia setuju utk berkendara meskipun ia tidak suka mengemudi jarak jauh.

Dr. Mark menyewa sebuah mobil dan memulai perjalanannya.
Akan tetapi, segera setelah ia berangkat, tiba2 cuaca menjadi buruk dan sebuah badai besar terjadi. Hujan yang terus turun menyulitkannya untuk melihat dan akhirnya ia melewati belokan yang seharusnya ia ambil.

Setelah 2 jam berkendara, ia yakin bahwa ia telah tersesat. Mengemudi dalam hujan yg lebat di jalan yg terpencil, merasa lapar dan letih, dg sangat gelisah ia mulai mencari tanda2 adanya kehidupan (penduduk setempat).
Setelah beberapa waktu, ia menjumpai sebuah rumah tua  kecil.
Dg putus asa, ia keluar dr mobil dan mengetuk pintu.
Seorang wanita cantik membuka pintu.
Dr. Mark menjelaskan masalahnya dan meminta tolong kpd wanita tsb apakah ia bisa meminjam  teleponnya.
Tetapi wanita itu memberitahukannya bhw ia tidak memiliki telepon atau pun peralatan elektronik lainnya, namun wanita itu mengajak dokter itu utk masuk ke rumahnya dan menunggu hingga cuaca membaik.
Kelaparan, basah dan kelelahan, sang dokter menerima tawaran baiknya dan masuk ke dlm rumah.
Wanita itu memberinya teh panas dan sesuatu utk dimakan.
Wanita itu mengajaknya utk berdoa bersama. Namun Dr. Mark tersenyum dan berkata bhw ia hanya percaya akan kerja keras dan mempersilakan wanita itu utk melanjutkan doanya.
Sambil duduk menikmati tehnya, sang dokter memperhatikan wanita itu berdoa di keredupan cahaya lilin, ketika ia berdoa di samping sesuatu yg tampak seperti tempat tidur bayi yg kecil.

Setiap saat wanita itu selesai berdoa ia segera melanjutkannya dg doa lainnya.
Merasa bahwa wanita itu sedang membutuhkan pertolongan, sang dokter mengambil kesempatan utk berbicara segera setelah wanita itu selesai berdoa.
Sang dokter bertanya kepada wanita itu apakah sebenarnya yang ia inginkan dr Tuhan dan apakah Tuhan akan mendengar doa2nya.
Ia lanjut bertanya tentang seorang anak di tempat tidur bayi tsb yg sepertinya sedang ia doakan.
Wanita itu tersenyum getir dan berkata bhw anak itu adalah anaknya yg sedang menderita suatu jenis penyakit kanker yg jarang dan hanya ada 1 dokter, namanya dr Mark yg dapat menyembuhkannya - namun wanita itu tidak mampu utk membayar Dr. Mark,  dan lagi Dr. Mark tinggal di kota lain yg jauh.
Wanita itu berkata bhw sejauh ini memang Tuhan belum menjawab doanya tetapi suatu hari Tuhan akan menciptakan jalan keluar dan ia menambahkan bahwa ia tidak akan membiarkan kekuatirannya mengalahkan imannya.

Kagum dan tak dapat berkata apa2, Dr. Mark berlinangan air mata.
Ia berbisik, Tuhan Maha Besar dan mengingat kembali rangkaian peristiwa yg ia alami.....ada kerusakan teknis di pesawat, badai yg melanda, ia tersesat di jalan, dan semuanya ini terjadi karena Tuhan tidak hanya menjawab doa wanita tsb tetapi juga memberinya sebuah kesempatan utk keluar dari dunia yg materialistis dan memberikan sebagian waktunya utk orang2 miskin yang putus asa yg tidak memiliki apapun selain doa-doa yg kaya....

Siap sedialah selalu utk melakukan apa yg Allah telah persiapkan untuk  Anda lakukan.

Tidak ada yg kebetulan di dalam hidup ini.
Allah mampu membuka jalan2 yg mustahil dalam perhitungan manusia, bagi setiap orang yg berharap dan berserah penuh kepadaNya.

Coincidence is God's way of remaining anonymous. (Albert Einstein)

Kebetulan adlh cara Tuhan utk tetap tidak dikenal.

Senin, 27 Juli 2015

kisah menakjubkan dari Madam Theresa

  From Small Things with Great Love-

Kita mungkin tidak bisa melakukan hal besar, Tapi kita bisa melakukan hal kecil dengan Cinta yang Besar.

Inilah cerita dari ibu Teresa sebelum kematiannya :
” Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat - kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.”

Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.
Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk. Saya memberitahu para suster : “Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.”

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan,dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : ” Terima kasih “, lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak, harus memeriksa hati nurani saya sendiri.Dan saya bertanya : ” Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?” dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri. Mungkin saya berkata : ” Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya”.

Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak, ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia meninggal dengan senyum di wajahnya. Lalu ada seorang laki -laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata : “Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan.”
Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : ” Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan” lalu ia meninggal.
Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, perjuangkanlah itu
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.
* Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

” We can do no great things, only small things with great love. ”
Mother Teresa

Humor: baptis anak

Pada suatu acara pembaptisan bayi, seorang pastor kaget karena membaca nama-nama bayi yang akan di baptis. Pastor kemudian memanggil keluarga pertama,
“Ibu, kenapa memberi nama bayi ini Cellphone?” dan kemudian menjawab, “Pastor, ini merupakan penggabungan nama saya yaitu Celline dan Suami saya Alphonzo”.
Setelah itu pastor kembali memanggil keluarga kedua untuk maju ke depan dan bertanya kembali kepada ibu sang bayi.
“Ibu, mengapa ibu memberi nama bayi ini “Charger” ? sambil binggung. Si ibu pun menjawab, ”Pastor, kami memberi nama Charger, karena penggabungan nama saya Charlotte dan suami saya Gerry”.
Pastor hanya bisa menghela nafas. Pastor pun memanggil keluarga ketiga, dan ia kembali kaget ternyata nama bayi tersebut “Baterry”.
Pastor dengan rasa penasaran bertanya kepada sang ibu bayi teersebut, “Ibu kok anak ini namanya Battery?”,
Si ibu kemudian menjawab, “Pastor, saking cintanya kami dengan anak ini, maka kami memberi nama dari singkatan nama saya Bathilda dan suami tercinta saya Terry”.
Kemudian pastor melanjutkan upacara pembaptisan tersebut dan berkata, baik, sudah ada di depan kita semua tiga orang bayi yang bernama “Cellphon”, “Charger” dan “Battery”, maka saya tidak dapat membaptis dengan air tetapi harus dengan Power Bank

MANAJEMEN STRESS

Pada saat kuliah tentang "Manajemen Stress", Stephen Covey mengangkat segelas air dengan tangan yang lurus ke depan, dan bertanya kepada para siswanya,

"Seberapa berat menurut Anda, kira-ira segelas air ini...?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gram sampai 500 gram.

"Ini bukanlah masalah berat absolutnya. Tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya..." Kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit... Tidak ada masalah..."

"Jika saya memegangnya selama 1 jam...lengan kanan saya akan sakit..."

"Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh...mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya ..."

"Berat sebenarnya sama ...tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat..."

"Demikianlah jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi..."

"Beban itu akan meningkat beratnya..." Lanjut Covey.
”Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut... Istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi..."

"Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi..."

"Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sehari-hari...tnggalkan beban pekerjaan ..."

"Jangan bawa pulang ... Beban itu dapat diambil lagi besok..."

"Apapun beban yang ada di pundak Anda hari Ini, coba tinggalkan sejenak... bawalah dalam doa... dan beban itu akan menjadi lebih ringan"

"Hidup ini singkat.. Jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya!!!"

Bukan menumpuk beban...

Tetap semangat✊✊✊!!!

salah paham

Ditengah samudera yang luas.. Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai disana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya. Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?” Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!” Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab. Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, “Tolong jaga anak kita baik-baik”. Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?” Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis”. Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.” Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendiri.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Disana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orang tuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, disaat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis dibuku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya dibawah sana”. Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam. guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan didunia ini tidak sesederhana yang sering kita pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yang kadang sulit dimengerti. Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

-Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan dari pada uang.
-Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.
-Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.
-Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.
-Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukkan, tapi karena kamu ada didalam hatinya :”)

Minggu, 12 Juli 2015

INI OWE...

"Acong, seorang pegawai yang sangat LUGU dan SETIA punya KEBIASAAN unik. 
Tiap kali makan siang dan pulang ke rumah, dia selalu menyempatkan untuk berhenti di depan pintu rumah ibadah yang dilewatinya untuk BERDOA sejenak...

12 tahun sudah, ia lakukan dengan SETIA, sampai suatu hari ada yg bertanya :

"Acong, apa yang loe lakukan di depan pintu rumah Tuhan SETIAP HARI ??"

Jawabnya "Owe BERDOA"

Ditanya lagi "Doa apa?"

Acong : Singkat saja. "Tuhan, ini owe, Acong"

Suatu hari Acong sakit, masuk ruang ICU. Ia merintih kesakitan dan berseru :
"Tuhan, ini owe." (Setiap rasa sakit mendera tubuhnya, ia selalu panggil nama Tuhan)...

Sampai suatu malam Acong bermimpi, Tuhan datang, menyentuh kening Acong dengan lembut sambil berkata. : "Acong, ini Owe"

Acong senang sekali, dia langsung duduk, tapi yang menyapa sudah menghilang....

Dilepasnya selang infus, dia keluar dari ruang ICU mencari Tuhan. Perawat kaget dan bertanya : "Mau ke mana Koh?"

Dijawabnya : "Owe mau nyari Tuhan yang menyapa Owe"

Perawat berpikir Acong ngelindur, tapi ia heran, waktu diperiksa ternyata Acong sudah sembuh total dan sehat seketika itu juga....

KESIMPULAN :

Tuhan sayang dengan orang yang TULUS HATI dan SETIA....

Tuhan tidak butuh kepandaian kita, Dia tidak butuh fasih lidah kita, DIA tidak butuh doa yang panjang-panjang dan dahsyat....

DIA tidak kagum dengan hebatnya pelayanan kita, indah dan megahnya gedung kita,

Satu hal yang pasti, Tuhan melihat sampai jauh ke dasar HATI kita, apa yang menjadi motivasi dan kerinduan kita saat mengiring DIA, hanya dengan bilang "OWE " itu sudah lebih dari cukup !!
Tuhan sudah tau dan mengerti...