Jumat, 19 Juni 2015

Kisah Orang2 Sukses : SADHU SUNDAR SINGH




SADHU SUNDAR SINGH

Sundar Singh lahir pada tahun 1889 dan berasal dari bangsa Sikh di negara bagian Patiala,India Utara. Bangsa Sikh yang menolak ajaran agama Hindu dan agama Islam, telah menjadi agama yang menonjol pada abad keenam belas dengan ajaran agama mereka sendiri.

Sewaktu kecil, Ibu Sundar Singh sering membawanya belajar ke seorang sadhu atau seorang petapa suci, namun ibunya juga pernah membawanya ke sekolah misi Kristen di mana dia bisa belajar bahasa Inggris. Saat dia berusia 14 tahun, ibunya meninggal dan sempat membuat dia putus asa. Ia menyerang para utusan Injil, menganiaya para petobat baru, dan mengejek iman mereka. Sebagai wujud dari perlawanan kepada orang Kristen, dia membakar Alkitab di depan kawan-kawannya. Pada malam yang sama, Sundar Singh memutuskan bunuh diri di atas rel kereta api.

DIRACUN

Akan tetapi, sebelum subuh tiba, ia membangunkan ayahnya dan menyatakan bahwa ia telah melihat Yesus Kristus dalam suatu visi dan mendengar suara-Nya. Sejak saat itu ia menyatakan akan mengikut Kristus ke mana pun juga. Masih berusia belum lima belas tahun, ia sudah menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan selama dua puluh lima tahun ia bersaksi untuk Tuhannya dengan penuh keberanian. Namun proses pemuridan remaja ini langsung mengalami ujian ketika ayahnya meminta serta menuntutnya untuk melepaskan "pertobatannya" yang absurd ini. Ketika ia menolak, Sher Singh memberikan pesta perpisahan kepada anak laki-lakinya, kemudian menolak dan mengusirnya dari keluarganya. Beberapa jam sesudah itu, Sundar menyadari bahwa makanan yang baru disantapnya telah dibubuhi racun dan hidupnya diselamatkan berkat pertolongan sebuah masyarakat Kristen yang tinggal di dekatnya.

Pada ulang tahunnya yang keenam belas ia dibaptis di depan umum sebagai seorang Kristen di halaman gereja di Simla, sebuah kota yang terletak jauh di kaki pegunungan Himalaya.

Untuk beberapa waktu lamanya ia berdiam di rumah perawatan penderita kusta di Sabathu, tak jauh dari Simla, sambil melayani pasien penyakit kusta. Tempat itu tetap menjadi tempat yang disenanginya dan ia selalu kembali ke sana semenjak ia dibaptis. Di bulan Oktober 1906, ia mulai mengadakan perjalanan, tetapi dengan suatu cara yang berbeda.

Ia berjalan dengan perawakan seorang remaja yang tinggi, tampan, tegap, sambil mengenakan jubah berwarna kuning dan turban. Setiap orang memandangnya sementara ia berjalan. Jubah kuning itu merupakan pakaian seragam seorang sadhu Hindu yang secara tradisional merupakan seorang petapa yang mengabdikan hidupnya kepada para dewa, yang berjalan sambil meminta sedekah di jalan atau duduk, tak bersuara, menjauh dan sering berpakaian kotor, sambil bermeditasi di hutan atau tempat terpencil. Sundar Singh yang masih muda telah memilih cara seorang sadhu, tetapi ia seorang sadhu yang berbeda.

"Saya tidak layak mengikuti langkah Tuhan saya," katanya, "tetapi, seperti Dia, saya tidak menginginkan rumah, harta. Seperti Dia, saya akan hidup di jalanan, sambil berbagi kehidupan dengan rakyat saya, makan dengan mereka yang memberi tumpangan, dan menceritakan kepada setiap orang tentang kasih Allah."

KAKI YANG BERDARAH

Saat kembali ke kampungnya, dia mendapat sambutan yang hangat. Di usia enam belas tahun, tubuhnya sudah tidak kuat. Sadhu pergi ke utara melalui Punjab, melewati Bannibal Pass dan masuk ke Kashmir dan kemudian kembali melalui Afganistan dan ke daerah utara barat dan Balukhistan. Tubuhnya yang kurus dan jubah kuningnya hampir tak dapat melindunginya dari dinginnya salju dan kakinya luka-luka karena medan yang sulit dan berat.

Dalam waktu singkat, sebuah masyarakat Kristen di utara menyebutnya sebagai "rasul dengan kaki berdarah". Ia pernah dirajam, dipenjara, dikunjungi oleh seorang gembala yang berbicara dengan keintiman yang aneh tentang Yesus dan ditinggalkan di luar gubuknya dengan ditemani seekor ular cobra. Pergumulan dengan kekuatan mistik, aniaya, dan sambutan hangat, merupakan sebagian dari pengalaman hidupnya di masa mendatang.

Dari desa-desa di bukit Simla, terlihat dari kejauhan jajaran yang panjang dari pegunungan Himalaya yang ditutupi salju abadi dan puncak Nanga Perbat yang kemerah-merahan. Di balik itu terletak Tibet, daerah agama Budha yang tertutup dan sejak lama sulit ditembus para utusan Injil dengan kabar Injil. Sejak ia dibaptiskan, Tibet telah menarik perhatian Sundar dan pada tahun 1908, pada usia sembilan belas tahun, ia menyeberangi garis depan Tibet untuk pertama kalinya. Setiap orang asing yang memasuki daerah tertutup yang fanatik ini, yang didominasi oleh agama Budha dan penyembah setan, menghadapi risiko teror dan kematian. Singh mengambil risiko tersebut dengan mata dan hati yang terbuka lebar. Keadaan rakyat di sana mengejutkannya. Rumah yang hampir tanpa lubang udara dan rakyatnya sangat miskin. Ia sendiri dirajam ketika ia sedang mandi karena mereka percaya bahwa "orang suci tidak pernah mandi". Makanan sulit diperoleh dan ia bisa bertahan hidup dengan menyantap biji gandum yang dipanggang. Di mana-mana terjadi kekerasan dan ini baru "Tibet sebelah bawah" dan daerah perbatasan. Sundar kembali ke Sabathu dan bertekad untuk kembali lagi tahun depan.

SECANGKIR AIR

Kemudian, dia mengunjungi Palestina untuk mengingat kembali beberapa kejadian dalam kehidupan Yesus. Pada tahun 1908 ia pergi ke Bombay, sambil berharap untuk menaiki kapal laut yang menyenangkan. Tetapi ia dikecewakan karena pemerintah menolak memberi izin dan ia harus kembali ke utara. Justru pada perjalanan kembali ini ia tiba-tiba menyadari dilema dasar yang dihadapi utusan Injil di India.

Seorang brahmana jatuh pingsan di sebuah kereta yang panas dan penuh sesak dan pada stasiun berikutnya, seorang kepala stasiun berkebangsaan Inggris-India datang sambil membawa secangkir air dari kamar tunggu. Brahmana itu (kasta tertinggi dalam agama Hindu) menolaknya mentah-mentah. Ia membutuhkan air, tetapi ia hanya dapat meminumnya dari cangkirnya sendiri. Ketika cangkirnya diisi air dan ia meminumnya, nyawanya selamat. Dengan cara yang sama, Sundar Singh menyadari, India tidak akan menerima Injil Yesus Kristus yang disebarkan dengan gaya Barat secara luas. Itulah sebabnya ia kini menyadari bahwa banyak pendengar memberi respons kepadanya dalam jubah seorang sadhu.

Pada tahun 1909 ia dibujuk untuk mulai mengikuti latihan bagi pelayanan Kristen di Sekolah Tinggi Anglikan di Lahore. Sejak awal ia mendapati dirinya tersiksa oleh perlakuan sesama siswa karena berpenampilan "berbeda" dan juga karena bersikap terlalu yakin. Tahapan ini berakhir ketika pemimpin siswa mendengar Singh mendoakannya dengan ucapan yang penuh kasih. Tetapi ketegangan lain tetap hadir. Sebagian besar dari pelajaran di sekolah kelihatannya tidak relevan dengan berita Injil yang dibutuhkan India, dan kemudian, sementara pelajaran hampir berakhir, kepala sekolah menyatakan bahwa ia harus melepaskan jubah sadhunya dan mengenakan pakaian yang "sopan" yang biasa dipakai pendeta Anglikan di Eropa; menggunakan tata ibadah Anglikan yang formal; menyanyikan lagu rohani dalam bahasa Inggris; dan tidak pernah berkhotbah ke luar tanpa izin khusus. Ia bertanya, Tidak boleh pergi lagi ke Tibet? Bagi Sundar, hal itu merupakan penolakan terhadap panggilan Allah dan belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Dengan perasaan sedih yang mendalam, ia meninggalkan Sekolah Alkitab, masih berpakaian jubah kuningnya, dan pada tahun 1912 mulai perjalanan tahunannya ke Tibet sementara salju mulai mencair di Pegunungan Himalaya.

KISAH-KISAH YANG LUAR BIASA

Kisah-kisah dari pengalamannya sangat mengherankan dan luar biasa. Memang ada yang yang bersikeras mengatakan bahwa kisah-kisah itu bernada mistis dan bukan kisah nyata. Pada tahun 1912, ia kembali dan menceritakan bahwa ia telah bertemu dengan sorang petapa Kristen yang berusia tiga ratus tahun di sebuah gua di pegunungan-Maharishi dari Kailas -- yang bersekutu selama tiga minggu bersamanya. Kisah lain lebih masuk akal, tetapi ada juga yang lebih mengerikan. Tubuhnya pernah diikat dengan kulit yak (sebangsa kerbau di Tibet) yang masih basah dan dijemur sampai mati, tubuhnya pernah diikatkan pada sebuah jubah yang penuh dengan lintah dan kalajengking supaya menghisap darahnya, tubuhnya pernah diikat pada sebuah pohon sebagai umpan untuk binatang buas. Namun dalam semua kejadian ini, ia telah diselamatkan oleh "Sunnyasi Mission" - pengikut rahasia Yesus yang memakai ciri orang Hindu, yang menurutnya ada di seluruh India.

Apakah ia berhasil memenangkan banyak jiwa dalam perjalanannya yang berbahaya ke Tibet tak seorang pun yang tahu dengan pasti. Bagi orang Tibet, agama satu-satunya hanyalah Budha atau tidak sama sekali. Memberitakan kabar tentang Yesus sama dengan bunuh diri. Tetapi keberanian Sadhu dalam berkhotbah bukanlah tidak menghasilkan sesuatu.

BERGUMUL DENGAN IBLIS

Sementara Sundar memasuki usia dua puluh tahun, pelayannya menjadi semakin luas, dan lama sebelum ia memasuki usia tiga puluh tahun, nama dan gambarnya sudah dikenal oleh dunia Kristen di seluruh dunia. Ia menjelaskan bahwa mempertahankan sebuah visi sama dengan bergumul dengan Iblis, tetapi sebenarnya pendekatannya manusiawi, sederhana, dan rendah hati, selain senang bergurau dan mencintai alam.

Semua sifat ini ditambah dengan ilustrasi sederhana yang diambilnya dari kehidupan sehari-hari, membuat pesan yang disampaikannya memberikan dampak kuat. Banyak orang berkata, "Ia bukan hanya serupa seperti Yesus, tetapi juga berbicara seperti Yesus." Namun semua pembicaraan dan khotbahnya memancar dari saat teduh yang mendalam setiap pagi dini hari, terutama tentang kitab-kitab Injil.

Pada tahun 1918 ia mengadakan perjalanan jauh sampai ke India Selatan dan Ceylon, dan tahun berikutnya ia diundang mengunjungi Myanmar, Malaysia, Cina dan Jepang. Beberapa kisah dari perjalanannya sama anehnya seperti perjalannnya ke Tibet. Ia memiliki kuasa mengatasi binatang liar, seperti macan tutul yang akan menerkamnya ketika ia sedang berdoa dan kemudian ia membungkukkan tubuhnya dan mengusap-usap kepalanya. Ia memiliki kuasa mengalahkan kejahatan, seperti ahli sihir yang mencoba menghipnotisnya di kereta api dan menjelek-jelekkan Alkitab yang ada dalam saku bajunya. Ia memiliki kuasa mengusir penyakit, walaupun ia tak mau membanggakan karunia penyembuhannya.

Sudah cukup lama Sundhar ingin mengunjungi Inggris dan kesempatan tersebut tiba ketika ayahnya yang sudah lanjut, Sher Singh, datang mengatakan kepadanya bahwa ia juga telah menjadi Kristen dan ingin memberinya uang untuk ongkos perjalanannya ke Inggris. Ia mengunjungi negara Barat dua kali, mengadakan perjalanan ke Inggris, Amerika Serikat, dan Australia pada tahun 1920, dan sekali lagi ke Eropa pada tahun 1922.

Ia disambut oleh orang-orang Kristen dengan berbagai latar belakang dan tradisi dan perkataannya menyelidik hati mereka yang saat itu sedang menghadapi pasca Perang Dunia I dan kelihatannya memiliki sikap yang dangkal terhadap hidup. Sundhar terkejut melihat bahaya materialisme, kekosongan hidup, sikap tak beragama yang ditemukannya di mana-mana, jauh berbeda dengan kesadaran orang Asia terhadap kehadiran Allah, betapa pun terbatasnya hidup mereka. Setelah kembali ke India ia melanjutkan pelayannya, walaupun ia sadar bahwa tubuhnya semakin lemah.

KRISTUS DI JALANAN INDIA

Karunianya, daya tarik pribadinya, hubungan pribadinya dengan Kristus sementara ia menyajikan Injil kepada rakyat India mungkin telah memberikan Sundar Singh suatu posisi kepemimpinan yang unik dalam gereja India. Tetapi sampai akhir hidupnya ia tetap menjadi seseorang yang tidak mencari keuntungan bagi dirinya, tetapi hanya kesempatan untuk menawarkan Kristus kepada setiap orang. Ia tidak masuk dalam denominasi apa pun dan tidak mencoba untuk memulai suatu aliran sendiri, walaupun ia bersekutu dengan bermacam-macam orang Kristen. Ia hidup untuk memperkenalkan Kristus di jalan-jalan di India.

Pada tahun 1923 Sundar Singh melakukan perjalanan musim panasnya yang terakhir ke Tibet dan ketika kembali ia sangat lelah. Perjalanan khotbahnya ke mana-mana tempat jelas sudah berakhir dan pada tahun-tahun berikutnya, di rumahnya sendiri atau di rumah teman-temannya di bukit Simla ia menghabiskan waktunya untuk merenung, bersekutu, dan menulis.

Pada tahun 1929, walaupun ditentang oleh teman-temannya, Sundar bertekad untuk melakukan perjalanan terakhir ke Tibet. Pada bulan April ia sampai di Kalka, sebuah kota kecil di bawah Simla, seseorang yang menjadi tua sebelum waktunya dalam jubah kuning ada di antara para peziarah dan orang suci yang memulai perjalanan mereka menuju salah satu tempat suci orang Hindu beberapa mil dari tempat itu. Ke mana ia pergi sejak saat itu tak diketahui orang. Apakah ia jatuh dari jalan setapak, mati kelelahan, atau berhasil melewati gunung-gunung, tetap menjadi suatu misteri. Itulah penampilan Sundar Singh yang terakhir kalinya.

Tetapi ingatan tentang dirinya tetap dikenang dan ia tetap menjadi salah satu tokoh yang paling hebat dan kuat dalam perkembangan dan sejarah gereja Kristus di India.

Kisah Orang2 Sukses : Siapakah Susan Boyle?



Dua minggu terakhir sejak tampil memukau dalam audisi reality Show Britain’s Got talent, nama Susan Boyle langsung menjadi buah bibir. Artikel tentang dirinya menghiasi puluhan media baik cetak maupun elektronik, The Washington Post bahkan menurunkan tulisan cukup panjang tentang perempuan berusia 47 tahun ini. Sementara potongan video ketika dia menjalani audisi yang diupload di Youtube mencetak 32.427.554 pengunjung, fantastis!

Siapa sebenarnya Susan Boyle? Untuk mengetahuinya, tak kurang ABC News, CBS, CNN, sampai berebut ingin mewawancarai wanita sederhana ini. Dari penelusuran mereka, termasuk laporan CBS ketika meliput langsung ke kediaman Susan Boyle di Blacburn Skotlandia, Susan Boyle adalah sosok wanita sederhana yang aktif dalam kegiatan Gereja.

Susan Boyle lahir 15 Juni 1961 di West Lothian, Blackburn, Skotlandia. Susan punya empat saudara laki-laki dan lima saudara perempuan, dia sendiri adalah anak terakhir yang dilahirkan ibunya saat berusia 47 tahun.

Dengan ayah yang seorang pekerja pabrik dan ibu berprofesi pengetik steno, keluarga Boyle bukanlah termasuk keluarga berada, apalagi dengan anak yang berjumlah sepuluh orang.

Ibunya, Brigdet Boyle meninggal dunia tahun 2007 akibat sakit dalam usia 91 tahun. Selama bertahun-tahun Susanlah yang merawat ibunya. Sementara seluruh saudaranya telah meninggalkan rumah untuk menjalani hidup masing-masing. Ayah Susan, Patrick sudah meninggal lebih dulu tahun 90-an.

Susan Boyle sampai sekarang masih tinggal dirumah keluarganya yang terdiri dari empat kamar tidur. Sehari-hari dia ditemani kucing kesayangan yang berusia 10 tahun bernama Pebbles.

Susan belum bekerja dan hanya aktif dalam kegiatan Gereja di Whitburn, Blackburn. Wanita yang mengaku belum pernah dicium lelaki ini, sebelumnya sering ikut berbagai lomba nyanyi, tapi kerap gagal. Semasa hidup, ibunya terus mendukung Susan untuk mengikuti berbagai lomba menyanyi.

Satu-satunya olah vokal Susan yang sempat direkam adalah ketika menyanyikan lagu “Cry Me a River“ dalam album rekaman untuk amal tahun 1999.

Lomba menyanyi yang pernah diikutinya antara lain, acaranya Michael Barrymore “My Kind of People”. Susan mengakui saat itu dirinya belum siap dan tak mampu mencuri perhatian juri. Guru vokalnya, Fred O'Neil mengatakan Susan pernah berniat mengikuti audisi acara musik The X Factor namun mengurungkannya. Susan menganggap acara-acara sejenis itu mementingkan tampilan fisik daripada kualitas vokal.

Bahkan ketika dia mendaftar di Britain’s Got Talent, perasaan pesimis itu masih ada. Dia sempat berencana membatalkan keikutsertaannya.

Dalam sebuah wawancara dengan The Scotsman, Fred O’Neil mengatakan Susan pernah menelepon Fred dan mengatakan dirinya sudah terlalu tua untuk ikut audisi Britain Got Talent.

Dan pada audisi yang ditayangkan 11 April 2009 barangkali adalah langkah awal Susan meraih cita-citanya menjadi penyanyi. Di depan para juri termasuk Simon Cowell, bekas juri American idol yang terkenal dengan komentar-komentarnya yang pedas dan kerap bikin grogi peserta, Susan Boyle mampu tampil menawan.

Hari itu dengan blus sederhana berwarna krem dengan potongan rambut yang juga sederhana, Susan tampil memukau. Lagu I dreamed a dream dari kisah darama klasik Les Misarables begitu bening dinyanyikan.

Simon Cowell yang diawal sempat menyindir Susan “Kemana saja kamu selama ini baru ikutan acara seperti ini?” dibuat terperangah mendengar kualitas suara Susan.

Di akhir nyanyian, hampir semua penonton dan dua juri pun memberi standing ovation buat Susan. Bahkan dengan lugunya Susan langsung meninggalkan panggung sebelum dihentikan oleh para juri untuk mendapat komentar.

Meski dalam ajang ini perjalanan Susan masih jauh, banyak yang memprediksi Susan bakal sukses menggondol juara Britain’s Got Talent.

Kisah Sukses : William Colgate


Colgate adalah nama sebuah perusahaan. Jika mendengar nama itu, kebanyakan orang Amerika pasti akan langsung berpikir tentang pasta gigi. Tetapi, jika mereka tahu sejarah orang dibalik nama itu, mereka ,mungkin akan berpikir tentang kristus, dan jejak yang dijalani COlgate bersamaNya.

William Colgate lahir pada tanggal 25 januari 1783 di kota Kent, Inggris. Ayahnya, Robert adalah seorang petani yang dikenal sebagai intelektuual yang berani dan memiliki pemikiran politik yang tajam.

Pada suatu hari, karena mendukung kemerdekaan negara koloni Inggris, RObert mendapat ancaman dari pihak penguasa. Namun, Tuhan campur tangan dengan mengirim seorang di tengah malam buta untuk memperingati keluarga Colgate. Dengan segera mereka terbang meninggalkan negara Inggris. Pembawa pesan itu mengatakan, jika saja mereka tetap di Inggris kemungkinan besar pasti dihukum penjara atau bahkan dihukum mati. Tapi apa yang buruk menurut dunia, Tuhan mengubahnya menjadi sebuah kebaikan.

Pelayaran
Keluarga Colgate naik kapal pada bukan maret 1798 dan berlayar menuju Amerika. Mereka menetap di sebuah perkebunan di Hartford Co., Kota Maryland.

Disana Ayah William bekerja sama dengan Ralph Maher untuk memulai usaha pembuatan sabun dan lilin.

William membantu kedua orang itu dan belajar dengan cepat. Tetapi, kenyataan berkata lain. Meski sudah bekerja keras, kerja sama itu gagal di tengah jalan. Robert Colgate kembali ke perkebunan dan William memutuskan untuk memulai usahanya sendiri. Setahun kemudian ia kekurangan modal, dan William Colgate harus menutup usahanya.

Meski gagal dua kali, William tidak menyerah. Ia mendapatkan pelajaran berharga. Ia percaya, Tuhan akan mengarahkan langkah Anda, Jika Anda mau mencariNya dab menyerahkan bisnis ANda kedalam rencanaNya, meski ada kegagalan.

Seorang teman kristiani yang bekerja di sebuah kanal kapal menasihati Colgate, "Berikan hatimu bagi Kristus. Berilah kepada Kristus apa yang menjadi milik Nya. Buatlah sabun dengan jujur. Berikan persembahanmu dengan jujur...dan seseorang akan menjadi pembuat sabun ternama di New York. Orang itu mungkin saja kamu."

Saat William mempelajari Alkitab, ia begitu tertarik dengan ayat dalam Kejadian 28:20-22, "Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untukdimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu."

Pada tahun 1804, COlgate dipekerjakan oleh sebuah perusahaan pembuat sabun sebagai pegawai magang. Pengamatan Colgate sangat tajam dan teliti. Dia terus memegang perintah Tuhan dalam Amsal, Yaitu memperhatikan perintah, meski perintah itu datang dari mereka yang gagal (Ams 24:30-32).

Colgate percaya bahwa perusahaan itu telah salah kelola, dan ternyata ia benar. Perusahaan itu akhirnya tutup pada tahun 1806, tapi reputasi dan ambisi Colgate memampukannya untuk menghubungi pada penyalur di kota lain. Ia memulai merintis usahanya kembali.

Dan mujizat terjadi. William Colgate dan perusahaannya itu sudah berhasil sejak awal. Dalam 6 bulan perusahaan itu sudah berhasil membuat produk-produk baru dengan bahan kanji. Segera, perusahaan itu mampu memproduksi sabun tangan, sabun toilet, dan sabun cukur.

Tidak Lalai
Meski Colgate sangat sibuk dalam pengembangan usaha, ia tidak mengabaikan waktu-waktu pribadinya dengan Tuhan. Kesuksesan Colgate dicapai karena ia mengikuti prinsip-prinsip Alkitab.

Seperti Yakub yang berjanji untuk memberi persembahan sulung kepada Tuhan, maka Colgate juga membuat janji yang sama. Sepuluh persen dari keuntungan Colgate dengan setia diberikan kepada Tuhan.

Tidak lama, Colgatye segera menjadi salah asatu pengusaha ternama di New York. Bisnis itu bukanlah satu-satunya yang bertumbuh dan berhasil. Colgate menikahi Mary Gilbert pada tahun 1811, dan bersamanya terlahir 11 anak. Pernikahannya dengan Mary disebut orang sebagai "Persekutuan yang indah dengan seorang yang menyenangkan."

Colgate bahkan menamai anaknya berdasarkan nama Alkitab. Ini menggambarkan cara pandang Alkitab dalam setiap aspek hidup mereka. Keluarga ini setia beribadah dan membaca Alkitab bersama.

Colgate sangat aktif dalam bermacam kegiatan sosial yang diadakan di gerejanya. Dia juga meyumbangkan banyak dana untuk lembaga pendidikan, termasuk Madison College, Hamilton, New York.

Karena kemurahan hatinya, sekolah itu kini berganti nama menjadi Colgate university. Dia juga adalah pendukung aktif kegiatan misionaris. Pada tahun 1816, Colgate memegang peranan penting dalam mengelola American Bible Society dan American and Foreign Bible SAociety. Dia juga melayani sebagai pengurus American Tract Society.

Selagi bisnisnya terus berkembang dan diberkati Tuhan, dia memerintahkan akuntannya untuk meningkatkan jumlah persembahannya, dari 20 persen menjadi 30 persen. Ketika dia terus berkomitmen untuk memberi, perusahaannya menjadi semakin diberkati Tuhan.

Saat ini, Colgate Palmolive adalah salah satu perusahaan tertua di Amerika dan dinobatkan oleh majalah Fortune sebagai salah satu dari 500 perusahaan paling sukses di Amerika. Angka penjualan revenue-nya mencapai US$ 9 miliar dan cabangnya telah berada di 221 negara di seluruh dunia.

Produknya telah berkembang memenuhi kebutuhan perorangan, pabrik samapai hewan peliharaan. Merk-nya telah dikenal di seluruh dunia seperti Colgate, Palmolive, Speed-Stick, Fab, Murphy, Ajax, dan Irish Spring.

Keberhasilan Colgate Palmolive adalah sebuah kesaksian tentang apa yang Tuhan sanggup kerjakan bagi mereka yang setia mengejar mimpinya dan berkomitmen untuk mengenal Tuhan, pribadi yang sanggup memenuhi mimpi-mimpinya.

Kamis, 18 Juni 2015

LIVE FOR NOTHING OR DIE 4 SOMETHING


       
Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
"MgpaTuhan memilih Anda utk mendapatkan penyakit yg buruk spt ini?

Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Layak dibagikan:

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.
Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus.
GOD bless:)

MEMBACA KITAB SUCI


Masih pentingkah dalam konteks kehidupan di masa kini?

Ini jawabannya:
"... Adalah seorang Etiopia, seorang SIDA-SIDA, PEMBESAR dan KEPALA PERBENDAHARAAN Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke YERUSALEM untuk beribadah... sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam KERETANYA sambil MEMBACA kitab nabi Yesaya. Filipus... MENDENGAR sida-sida itu sedang membaca..." (Kisah Rasul 8:27-28, 30).

Dalam konteks masa kini, ayat di atas bunyinya kira-kira begini:
"... Adalah seorang non-Nasrani, seorang MENTERI KEUANGAN, PEJABAT TINGGI sekaligus CHIEF FINANCIAL OFFICER Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke GEREJA untuk beribadah... sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam MERCEDEZ S-CLASSNYA sambil MEMBACA kitab Yesaya. Filipus... MENDENGAR pejabat itu sedang membaca... (Kisah Rasul 8:27-28, 30).

Siapakah orang Etiopia ini (dalam konteks masa kini)?
Dia adalah:
- Non-Nasrani
- Menteri Keuangan
- Pejabat Tinggi
- Chief Financial Officer
- Kepercayaan Kepala Negara
- Punya Mercedez Benz S-Class
Apa yang dilakukannya?
- Pergi ke gereja
- Membaca Kitab Suci
* (Padahal tidak mengerti isinya, menurut Kisah 8:31)
* (Tapi dia tetap membacanya juga)
- (Malahan) sambil bersuara keras

Maka tak heran Allah pun bergegas mengutus salah satu rasul-Nya secara khusus, Filipus, kepada orang Etiopia ini untuk menjelaskan Kitab Suci yang sedang dibacanya keras-keras itu hingga akhinya dia mengerti dan mau dibaptis.
Kemungkinan basar di kemudian hari, orang Etiopia ini adalah salah satu misionaris awal bagi terjadinya kebangunan rohani di Etiopia (kemungkinan bersama dengan rasul Matius).

Semua bisa terjadi karena diawali dengan MEMBACA KITAB SUCI.

Jadi, jangan anggap remeh MEMBACA KITAB SUCI.

Bagi yang beralasan super sibuk sehingga tidak punya waktu membaca Kitab Suci, lihatlah orang Etiopia itu.
Bukankah dia juga adalah orang yang super sibuk?

Tapi dia masih sempat mencari waktu untuk membaca Kitab Suci!
Bagi yang berasalan tidak mengerti sehingga percuma rasanya membaca Kitab Suci, lihatlah orang Etiopia itu kembali.

Bukankah dia juga adalah orang yang tidak mengerti apa yang dia baca?
Tapi dia tetap membaca Kitab Suci itu, malahan membacanya dengan suara yang keras!

Perhatikanlah:
KESIBUKAN DAN KEBODOHAN BISA MEMBUAT SESEORANG TIDAK MEMBACA KITAB SUCI.
Oleh karena itu:

1. ORANG SIBUK HARUS DISIPLIN MENEMPATKAN PRIORITAS DENGAN MENGUTAMAKAN MEMBACA KITAB SUCI.

2. ORANG BODOH HARUS BELAJAR MENIMBA ILMU DENGAN RAJIN MEMBACA KITAB SUCI.
IF WE ARE TOO BUSY TO READ THE SCRIPTURE, WE ARE TOO "BUSY".
IF WE ARE TOO LAZY TO READ THE SCRIPTURE, WE ARE TOO "STUPID".

KESAKSIAN BASUKI TJAHAJA PURNAMA (AHOK)


Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik. Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus.
Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.
Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.
Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.

Tuhan Yesus Memberkati

Kantor Whatsapp

Untuk urusan komunikasi, Whatsapp sangat populer. Penggunanya mencapai kisaran 450 juta lebih. Aplikasi ciptaan Brian Acton dan Jan Koum ini berkantor di Mountain View, California. Kamu ingin tahu seperti apa markas mereka?
 
 
Jangan kaget, kantor Whatsapp tak terlihat seperti kantor pada umumnya. Tak ada papan nama perusahaan, tak ada petunjuk yang menandakan bahwa ada aktivitas bisnis di dalamnya, tak ada nama perusahaan di depan pintu.

Kedua bos, Jan serta Brian, berpakaian selaiknya seorang yang baru saja bangun tidur dari kamar tidurnya dan turun untuk mengambil makan di meja makan. Brian Acton hanya menggunakan sendal jepit dan Jan Koum malah tak menggunakan alas kaki alias nyeker di dalam kantornya. Kantor itu lebih tepat disebut sebagai 'tempat nongkrong' ketimbang kantor sebuah aplikasi yang sangat sukses.

Pun dengan jumlah karyawan, tak ada ribuan atau ratusan karyawan yang bekerja di sana. Hanya 30 pekerja karyawan tetap dan lima orang pekerja paruh waktu. Namun kebanyakan karyawan di kantor itu hanyalah customer service, sementara tim pengembang ada di Rusia.
 
Luas ruangan itu hanya sekitar 100 meter persegi. Dengan berbagai kubikel berisi komputer yang menumpuk di bagian tengah. Temboknya terdapat banyak coretan dan graviti seperti di jalanan urban. Sang bos tak memiliki ruangan tersendiri. Tempat kerjanya tak ada beda dengan karyawan lainnya, berbagi kubikel di ruangan 100 meter.

"Kami bukanlah perusahaan raksasa dengan ribuan pekerja," kata Koum seperti dilansir El Pais. Padahal nyatanya, WhatsApp menjadi salah satu aplikasi paling banyak diunduh di Google Play Store dan Apple App Store.

Ya, kedua bos ini tak ingin neko-neko dan sombong mengenai raihan yang didapat WhatsApp. "Tetap jadi orang yang sederhana, sebagai pebisnis atau sebagai individu," jelas Koum.