Selain Engkau tdk ada yg kuingini di bumi. Mazmur 73:25b
KEBAHAGIAAN memang menarik utk dibahas dlm
lingkungan Kekristenan?
Mengapa? Karena semua orang di dunia berlomba-lomba
mencari KEBAHAGIAAN.
Apakah kita setuju? Tunggu dulu.
Kalau semua orang mencari
KEBAHAGIAAN, mengapa ada orang yg bunuh diri?
Mengapa ada orang yg rela hidup menjadi petapa?
Bukankah itu
menunjukkan bhw ada orang² yg tdk ingin bahagia?
Blaise Pascal, seorang ilmuwan Kristen yg hidup pada abad
ke-17, mengatakan bhw pada dasarnya setiap orang mencari KEBAHAGIAAN. Dan itulah
yg mendorong orang tersebut utk melakukan sesuatu.
Orang yg bunuh diri pun sebenarnya sedang mencari
KEBAHAGIAAN. Kok bisa?
Dgn mengakhiri hidup, mereka berpikir akan terlepas dari
penderitaan. Benarkah?
Orang yg menjadi petapa dan menolak kemewahan pun, seperti
Buddha Gautama, sebenarnya dilatarbelakangi oleh KEBAHAGIAAN.
Buktinya, orang Buddha meyakini, “Semoga semua makhluk
berbahagia.”
Lihat? Apa pun wujudnya, semua orang sebenarnya ingin
mendapat KEBAHAGIAAN.
Ada yg mencarinya melalui kekayaan, kekuasaan, ilmu
pengetahuan, atau mengasingkan diri dari dunia utk mengejar hal² spiritual
seperti petapa tadi.
Tetapi, setelah semuanya itu didapat, apakah pasti merasakan
KEBAHAGIAAN? Bisa jadi ya. Tetapi, KEBAHAGIAAN itu tdk akan berlangsung selamanya.
Bisa timbul kecemasan, “Jangan², apa yg kita miliki dgn
susah payah itu hilang….” Akhirnya, orang mencari cara supaya KEBAHAGIAAN
tersebut tdk mudah lepas. Misalnya, orang yg beli mobil baru pasti juga membeli
asuransi.
Seandainya KEBAHAGIAAN dapat terus kita wujudkan sampai
akhir hayat, masih ada satu “ancaman” lagi. Apa itu? Kematian.
Akibatnya, semua orang di dlm hati kecilnya pasti merasakan
bhw KEBAHAGIAAN yg dia peroleh tdk akan bisa dinikmati selamanya.
Ini akan membuat dia tdk bisa menikmati kebahagiaannya dgn
penuh. Selalu cemas karena terbayang sampai kapan dia masih bisa menikmatinya?
Kesimpulannya, di dunia ini tdk ada KEBAHAGIAAN yg sejati.
Jika demikian, apakah kita sebagai anak Tuhan juga bernasib
sama?
Alkitab mengajarkan bhw kita dapat memperoleh KEBAHAGIAAN yg
sejati dan bisa kita nikmati sepanjang masa. Tetapi itu hanya bisa kita
dapatkan jika kita punya TUHAN.
“Kita akan memperoleh KEBAHAGIAAN yg sejati, dan berlangsung
selama-lamanya, jika kita menjadikan Allah sebagai harta satu-satunya.”
Mazmur 16:2, Daud telah mengambil sikap utk menjadikan
Allah sebagai Tuhannya, “Engkaulah TUHAN-ku.”
Di sini Daud menyatakan relasi pribadinya dgn Allah. Daud
menjadikan Allah sebagai Tuhan secara pribadi. Dan apa yg didapat Daud? Dia
mendapatkan kebahagiaan yg sejati.
Daud berkata “tak ada yg melebihi Engkau,” menunjukkan bhw
bagi Daud, tdk ada KEBAHAGIAAN lain di luar Tuhan.
Relasi dgn Tuhan inilah yg membuat dia memiliki sukacita dan
berkata: “Kesukaanku ialah tinggal bersama orang² suci di kota ini.” (Maz.
16:3).
Daud tdk mau larut dgn kehidupan orang² yg menyembah dewa².
Bagi Daud, segemilang apa pun, kehidupan mereka yg tdk
mengenal Tuhan adalah kehidupan yg menyedihkan.
Terakhir, Daud berkata bahwa “TUHAN, Engkau saja yg
kumiliki.”
Daud tahu bhw harta terbesar baginya bukan kekayaan, bukan
pula seluruh isi kerajaan. Harta terbesar bagi Daud adalah Tuhan, dan itu
cukup.
Hanya dgn mempunyai Tuhan dan mempunyai relasi dgn-Nya, Daud
sdh memperoleh semua yg diinginkan di dlm hidup ini. Dia berkata: “Engkau
memberi segala yg kuperlukan.” dan itu sangat menyenangkan hatinya.
Dari Mazmur ini kita belajar bhw kita dpt memperoleh
KEBAHAGIAAN yg sejati ketika kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya harta
yg bernilai di dlm hidup ini.
Rasa puas dan rasa cukup hanya bisa kita dapatkan jika kita
memiliki apa yg tdk terbatas, yaitu TUHAN.