Selasa, 04 Maret 2025

SURAT UNTUK JEMAAT DI LAODIKIA


WAHYU 3:15-16 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

 

Laodikia adalah kota yang dekat dengan  sungai Lycus. Kota ini dekat dengan kota Kolose yang mempunyai aliran mata air yang bersuhu dingin. Kota lain yang dekat dengan Laodikia adalah Hierapolis yang mempunyai sumber mata air yang panas. Karena Laodikia tidak mempunyai sumber mata air, maka kota ini harus mengambil air dari kedua kota ini. Air dingin dari Kolose dan air panas dari Hierapolis. Karena jarak, maka air panas yang dialirkan dari Hierapolis sudah suam-suam kuku alias hangat dan tidak panas lagi ketika sampai di Laodikia.

 

Ini mengapa Tuhan menegor mereka suam-suam kuku karena mereka bisa mengerti ketika melihat air panas yang sampai ke mereka sudah dengan kondisi seperti itu. Sehingga metafora ini lah yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan kondisi jemaat Laodikia.

 

Kehidupan mereka tidak berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan; mereka hanya mengejar status dan berkompromi dengan dunia supaya bisa menjadi kaya dan berkelebihan. Mereka tidak lagi mencerminkan kemuliaan Allah.

 

Kota Laodikia ini sangat kaya karena sistem perbankan yang sangat baik. Kota ini pernah rusak berat terkena gempa bumi tetapi menolak bantuan Romawi karena mereka punya dana sendiri. Jemaat di Laodikia menjadi sombong dan mulai bergantung kepada kekuatannya sendiri. WAHYU 3:17 mengatakan: "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang". Tuhan justru menjelaskan ketika manusia mengatakan dia kaya justru dia miskin, karena dia tidak mau bergantung kepada Tuhan.

 

Tuhan bahkan mengatakan kepada mereka: "membeli emas dari Tuhan yang telah dimurnikan dalam api agar engkau menjadi kaya" (WAHYU 3:18), maksudnya adalah masuk ke dalam permurnian Tuhan, mau diubahkan karakternya dan bertumbuh menjadi dewasa rohani. Justru itu sebuah kekayaan yang sejati.

 

Mari kita belajar untuk tidak bergantung kepada kekuatan, harta, uang, ketenaran atau bahkan jabatan kita, karena bagi Tuhan itu justru kemiskinan. Ketergantungan kita kepada diri sendiri berakibat kita tidak hidup sepenuhnya untuk Tuhan dan menjadi suam-suam kuku.