Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Kolose 3:13 (TB)
Salah satu teladan Alkitabiah yang menonjol tentang pengampunan ada dalam kisah yang diceritakan Yesus tentang seorang raja yang ingin membereskan utang piutangnya. Seorang pria berutang sangat banyak pada raja sehingga tidak dapat membayarnya, tetapi raja tersebut berbelaskasihan dan menghapuskan utangnya.
Kemudian, pria yang diampuni itu bertemu seseorang yang berutang sedikit padanya. Namun bukannya menunjukkan belas kasihan dan pengampunan, ia mengirim pria itu ke penjara sampai utangnya dilunasi. Ketika raja mendengarnya, ia geram akan kemunafikannya, dan menangkap pria tersebut.
Jika kita jujur pada diri sendiri, ada bagian dari kisah ini ini yang mirip dengan kita. Seberapa sering kita memilih untuk tidak mengampuni orang lain sementara kita dengan gembira menerima pengampunan yang diberikan Allah?
Kita semua pernah bersalah. Kita semua pernah melawan Allah. Dan semua dosa itu bertentangan dengan jalan Tuhan. Beberapa dosa mempunyai konsekuensi yang lebih besar — tapi setiap kesalahan menyebabkan kita gagal memenuhi kesempurnaan Allah.
Pengampunan tidak selalu menghapus luka yang ditimbulkan, namun dapat membantu kita untuk sembuh dan terus melangkah maju. Kita tidak akan pernah tahu keseluruhan kisah hidup orang lain. Kita tidak akan selalu mengerti pengalaman apa yang memengaruhi keputusan seseorang. Karena itulah empati penting.
Untuk dapat menunjukkan empati, kita perlu menempatkan diri di posisi orang yang kita hadapi, dan memilih untuk memahami beban mereka. Inilah yang Yesus lakukan saat Ia datang ke bumi, merasakan seperti apa menjadi manusia, kemudian menanggung dosa kita saat Ia mati bagi kita. Meskipun kita semua berdosa pada-Nya, Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk mengampuni dan menyelamatkan kita.
Alkitab tidak meminta kita melakukan sesuatu yang belum pernah Yesus lakukan bagi kita. Dan, Alkitab juga berkata sebagaimana kita mengampuni, kita akan diampuni (Matius 6:14-15). Jadi jika kita benar-benar ingin mengalami pengampunan Tuhan, maka kita perlu mengampuni orang lain—bahkan ketika kita tidak dapat melupakan apa yang telah mereka perbuat.
Jadi, adakah seseorang yang belum Anda ampuni? Mintalah Allah menunjukkan siapa yang perlu Anda ampuni. Lalu, izinkan Tuhan menggeser perspektif dan melembutkan hati Anda terhadap orang tersebut. Biarkan Dia memberi Anda kekuatan dan empati yang Anda butuhkan untuk mengampuni.
Siapa yang perlu Anda ampuni hari ini?
Seseorang yang selalu membuat saya jengkel
Seseorang yang berbeda pendapat dengan saya
Diri sendiri
DOA
Tuhan, seperti Engkau telah mengampuniku tanpa syarat, Engkau memintaku mengampuni orang lain. Bantulah aku melakukannya. Penuhi aku dengan kerendahan hati dan empati, dan bantu aku untuk melihat orang lain seperti Engkau memandang mereka. Tunjukkan kepadaku bagaimana mengasihi orang lain dengan cara-Mu. Dalam nama Yesus, Amin.
Tuhan telah mengampuni dosa-dosamu yang paling gelap dan buruk.
Sekarang, Dia memberimu kuasa untuk mengampuni orang lain.
Adakah seseorang yang tidak mau kamu maafkan?
Mintalah Tuhan melembutkan hatimu dan mengajarimu cara memaafkan.