Minggu, 01 Mei 2016

Bagaimana Kesulitan Dapat Membuat Anda Lebih Baik, Bukan Menjadi Pahit

Kisah Para Rasul 27:31 "Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: 'Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.'"

Hidup ini tak adil. Anda akan berhadapan dengan masalah, kesulitan, dan rasa sakit yang akan membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, atau malah membuat Anda kepahitan. Anda akan menjadi dewasa, atau malah menyerah.
Anda akan menjadi orang yang Tuhan kehendaki, atau malah akan berkeras hati. Anda harus memutuskan bagaimana Anda akan menanggapi masa-masa sulit dalam hidup Anda.
Bagaimana Anda akan menghadapinya.

Ketika melalui masa-masa sulit, apa yang tengah terjadi pada Anda tidaklah sepenting apa yang terjadi di dalam diri Anda.
Itulah apa yang semestinya Anda bawa ke dalam kekekalan - bukannya membawa persoalan, tapi membawa karakter Anda.

Dalam Kisah Para Rasul 27, kita belajar tiga cara dalam merespon permasalahan:

1. Jangan menyerah.

Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing. (Kisah Para Rasul 27:15)
Ketika kapal yang membawa Paulus dan tahanan lainnya yang menuju Roma terombang-ambing di tengah laut Mediterania dan tak melihat matahari selama 14 hari, mereka pun mulai putus harapan.
Ketika menghadapi kesulitan, beberapa orang mulai menyerah.
Mereka tidak memiliki tujuan, cita-cita, ambisi, atau mimpi atas hidup mereka.
Ini ibarat naik sepeda menuruni bukit, Anda tak perlu susah payah mengayuh pedal Anda.
Tapi masalahnya adalah Anda turun ke bawah, dan sementara hidup ini bukanlah sesuatu yang mudah.
Hidup ini keras.
Jangan kehilangan ambisi atau mimpi Anda hanya karena hidup ini semakin sulit.

2. Jangan melarikan diri.

Karena kami sangat hebat diombang-ambingkan angin badai, maka pada keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal ke laut. (Kisah Para Rasul 27:18)
Orang-orang yang bertugas saat itu harus meringankan berat kapal, mereka pun melemparkan muatan kapal ke laut, seperti peralatan dan makanan.
Mereka membuang hal-hal yang mereka butuhkan karena badai begitu kencang.
Ketika Anda terjebak di tengah badai dan ketika tekanan tak bisa lagi ditahan, Anda cenderung mulai meninggalkan nilai-nilai baik dan hubungan-hubungan yang bermasalah.
Anda berkata, "Aku menyerah pada pernikahanku. Aku menyerah mengejar mimpiku untuk kuliah. Tapi Tuhan berkata,'Tetaplah di dalam kapal!'"
Apakah Anda sudah melakukannya dalam pernikahan Anda?
Apakah Anda sudah berkata, "Perceraian bukanlah pilihan buatku. Kita berdua bisa melalui badai ini. Jika Anda belum, Anda pasti akan selalu tergoda untuk berjalan keluar dari jalur. Jika Anda tidak membuang ketakutan Anda, Anda tidak akan pernah bisa mengembangkan karakter yang Tuhan ingin Anda miliki. Allah dapat mengubah situasi dan kepribadian seseorang. Dia bisa mengubah Anda. Tapi Dia tidak akan melakukannya jika Anda selalu kabur dari permasalahan Anda! Saya telah belajar dari pengalaman pribadi, bahwa tidak pernah menjadi kehendak Allah bagi kita untuk lari dari situasi yang sulit. Allah ingin Anda belajar, tumbuh, dan berkembang. Jadi hadapilah."

3. Jangan putus asa.

"Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami" (Kisah Para Rasul 27:20).
Setelah 14 hari dalam kegelapan total dan setelah membuang muatan, peralatan, dan makanan, para penumpang kapal itu akhirnya putus asa.
Tapi mereka lupa satu hal: Di dalam badai sekali pun, Tuhan yang memegang kendali.
Dia tidak akan pernah meninggalkan Anda.
Anda mungkin tak bisa merasakan kehadiran-Nya, namun bila Anda merasa jauh dari-Nya, coba tebak siapa yang datang menghampiri Anda?
Tuhan bersama Anda di tengah badai, dan Ia akan membantu Anda melewatinya.
Ia sedang menguji Anda untuk melihat apakah Anda akan percaya pada-Nya.
Apakah Anda akan lulus ujian-Nya?

Renungkan hal ini:

Apa Anda percaya bahwa Tuhan ada bersama Anda di dalam badai persoalan Anda?
Bagaimana Anda menunjukkan kepercayaan Anda pada-Nya?

Situasi sulit apa yang sedang Anda tunggu-tunggu supaya Tuhan mengubahnya?

Tuhan menunggu Anda untuk mulai berubah.
Dia tak mau Anda hanya menunggu Dia mengubah keadaan Anda.
Bagaimana Anda merespon kebenaran ini?

Tuhan yang memegang kendali, percayalah kepada-Nya tanpa ragu dan takut.