Kencana Utama III M8 No.32 C, RT.3/RW.7, South Kembangan, Kembangan, West Jakarta City, Jakarta 11610
Jumat, 16 Oktober 2026
Mazmur 148 — “Biarlah Segala yang Bernapas Memuliakan Tuhan”
Kamis, 15 Oktober 2026
Tuhan Memulihkan Hati yang Hancur dan Menguatkan yang Lemah
Rabu, 14 Oktober 2026
Jangan Berharap kepada Manusia, Berharaplah kepada Tuhan
Selasa, 13 Oktober 2026
“MEMUJI TUHAN DALAM SEGALA KEADAAN”
Senin, 12 Oktober 2026
Mazmur 144
Shalom dan selamat pagi, Saudara yang dikasihi Tuhan.
Saudara, hari ini kita belajar dari Mazmur 144, sebuah mazmur yang mengingatkan kita bahwa di tengah perjuangan hidup, kita tidak pernah berjalan sendirian. Ada Tuhan yang menjadi sumber kekuatan dan pertolongan kita.
Daud berkata dalam Mazmur 144:1, “Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang.”
Perhatikan, Saudara, Daud tidak berkata bahwa hidupnya selalu mudah. Ia menghadapi peperangan, ancaman, dan berbagai kesulitan. Tetapi di tengah semuanya itu, Daud mengenal siapa Tuhan yang ia sembah.
Tuhan tidak selalu langsung menghilangkan peperangan kita, tetapi Dia sanggup memberikan kekuatan untuk menghadapinya. Mungkin hari ini kita sedang menghadapi pergumulan keluarga, masalah pekerjaan, tekanan ekonomi, kesehatan, atau bahkan kelelahan dalam pelayanan. Ada kalanya kita tersenyum di hadapan orang lain, tetapi diam-diam hati kita sedang menangis.
Namun, ingatlah: kita mempunyai Tuhan yang besar! Ketika kekuatan kita terbatas, kekuatan Tuhan tidak pernah terbatas. Ketika kita tidak tahu harus melangkah ke mana, Tuhan tetap sanggup menuntun jalan kita.
Mazmur 144:3–4 juga mengingatkan bahwa manusia begitu kecil dan hidupnya begitu singkat di hadapan Tuhan. Karena itu, janganlah kita menjadi sombong ketika berhasil, dan janganlah kita kehilangan pengharapan ketika mengalami kegagalan. Semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan.
Saudara, puncak dari mazmur ini terdapat dalam ayat 15: “Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN!”
Kebahagiaan sejati bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hidup bersama Tuhan di tengah segala keadaan. Kita boleh kehilangan banyak hal, tetapi jangan pernah kehilangan iman dan kepercayaan kepada-Nya.
Karena itu, hari ini mari kita berkata: “Tuhan, Engkaulah gunung batuku, perlindunganku, dan kekuatanku. Aku mau tetap setia, tetap bersyukur, dan tetap percaya kepada-Mu.”
Jangan hanya melihat besarnya masalah kita, tetapi pandanglah betapa besar Tuhan yang menyertai kita. Amin.
Minggu, 11 Oktober 2026
“Tuhan, Jangan Biarkan Aku Berjalan Sendiri”
Jumat, 09 Oktober 2026
Mazmur 142
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Saudaraku, pernahkah kita mengalami masa ketika hati begitu lelah, masalah datang silih berganti, tetapi kita tidak tahu harus bercerita kepada siapa? Di depan orang lain kita masih bisa tersenyum, tetapi ketika sendirian, air mata jatuh dan hati kita berkata, “Tuhan, aku sudah tidak kuat lagi.”
Hari ini kita belajar dari Mazmur 142, sebuah doa Daud ketika ia berada di dalam gua. Daud adalah orang yang diurapi Tuhan, tetapi ia juga pernah mengalami ketakutan, kesepian, dan tekanan yang begitu berat. Ia dikejar-kejar musuh dan merasa tidak memiliki tempat yang aman.
Mazmur 142:3 berkata, “Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya.”
Perhatikan, Daud tidak berpura-pura kuat di hadapan Tuhan. Ia mencurahkan isi hatinya. Ini mengajarkan kita bahwa iman bukan berarti kita tidak pernah menangis. Iman bukan berarti kita tidak boleh merasa lemah. Iman adalah ketika dalam kelemahan, kita tetap datang kepada Tuhan dan membawa seluruh beban kita kepada-Nya.
Saudaraku, mungkin hari ini ada pergumulan keluarga, masalah pekerjaan, kondisi kesehatan, atau doa yang belum mendapatkan jawaban. Mungkin tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami apa yang sedang kita alami. Tetapi Tuhan memahami setiap air mata yang tidak mampu kita ceritakan kepada siapa pun.
Dalam Mazmur 142:6, Daud berseru, “Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku: ‘Engkaulah tempat perlindunganku.’”
Luar biasa! Ketika Daud kehilangan rasa aman di sekelilingnya, ia tetap memiliki Tuhan sebagai tempat perlindungannya. Gua tempat Daud bersembunyi bukanlah akhir hidupnya, sebab Tuhan tetap menyertainya.
Karena itu, jangan menyerah hanya karena hari ini terasa berat. Jangan mengukur kasih Tuhan berdasarkan keadaan yang sedang kita alami. Ketika manusia tidak mampu menolong, Tuhan tetap sanggup menopang kita. Ketika jalan keluar belum terlihat, kita tetap dapat berharap kepada-Nya.
Saudaraku, mungkin kita belum keluar dari gua pergumulan kita, tetapi kita tidak pernah sendirian di dalamnya.
Mari datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur. Curahkan air mata, ceritakan beban, dan percayakan hidup kita kepada-Nya. Sebab Tuhan bukan hanya mendengar doa kita, tetapi juga menjadi tempat perlindungan bagi jiwa kita yang lelah.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Kamis, 08 Oktober 2026
Tuhan, Jagalah Hatiku dan Mulutku
Rabu, 07 Oktober 2026
Mazmur 140
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita belajar dari Mazmur 140, sebuah doa Daud ketika ia berada dalam tekanan dan menghadapi orang-orang yang berniat jahat kepadanya.
Mazmur 140:2 berkata, “Luputkanlah aku, ya TUHAN, dari pada manusia jahat, jagalah aku terhadap orang yang melakukan kekerasan.”
Saudaraku, ada masa dalam hidup ketika kita tidak tahu harus menghadapi siapa, harus menjelaskan apa, bahkan kita merasa tidak berdaya menghadapi perkataan dan tindakan orang lain. Kadang yang menyakitkan bukan masalahnya, tetapi orangnya. Kita bisa terluka karena fitnah, perkataan yang tidak benar, perlakuan yang tidak adil, atau seseorang yang sengaja menjatuhkan kita.
Tetapi Daud mengajarkan sesuatu yang sangat penting: jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Bawalah semuanya kepada Tuhan.
Daud tidak berkata, “Tuhan, berikan aku kekuatan untuk membalas.” Tetapi ia berkata, “Luputkanlah aku, ya TUHAN.”
Artinya, Daud sadar bahwa perlindungan sejati bukan berasal dari kemampuan dirinya, tetapi dari Tuhan.
Mungkin hari ini Saudara sedang menghadapi orang yang sulit. Mungkin ada perkataan yang masih terngiang di hati. Mungkin ada ketidakadilan yang belum selesai. Jangan biarkan kepahitan menguasai hati Saudara.
Mazmur 140:13 berkata, “Aku tahu, bahwa TUHAN akan memberi keadilan kepada orang tertindas, dan membela perkara orang miskin.”
Saudaraku, Tuhan melihat apa yang tidak dilihat manusia. Tuhan mengetahui apa yang tidak bisa kita jelaskan. Dan Tuhan sanggup membela kita dengan cara-Nya sendiri.
Karena itu, tetaplah tenang. Tetaplah setia. Jangan berhenti berbuat baik. Serahkan pembalasan kepada Tuhan.
Hari ini katakan dalam hati: “Tuhan, aku tidak mau hidup dalam ketakutan dan kepahitan. Jagalah hatiku, lindungi langkahku, dan biarlah Engkau yang menjadi pembelaku.”
Sebab ketika Tuhan menjadi tempat perlindungan kita, kita tidak perlu takut menghadapi manusia. Tuhan yang menjaga kita adalah Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita.
Amin.
Mazmur 139,
Shalom, Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita belajar dari Mazmur 139, sebuah firman yang sangat pribadi. Daud berkata, “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.”
Saudaraku, ada kalanya kita merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti kita. Ada pergumulan yang tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun. Ada air mata yang kita sembunyikan. Ada kelelahan yang hanya kita rasakan sendiri.
Tetapi Mazmur 139 mengingatkan kita: Tuhan mengenal kita sepenuhnya.
Tuhan tahu ketika kita duduk dan ketika kita berdiri. Tuhan mengerti pikiran kita dari jauh. Bahkan sebelum perkataan keluar dari lidah kita, Tuhan sudah mengetahuinya.
Artinya, kita tidak pernah menjalani hidup ini sendirian.
Daud juga berkata, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” Bahkan ketika berada dalam kegelapan, bagi Tuhan kegelapan itu tidak gelap.
Mungkin hari ini Saudara sedang berada dalam masa yang tidak mudah. Mungkin pelayanan terasa berat, pekerjaan melelahkan, keluarga sedang menghadapi pergumulan, atau doa yang Saudara naikkan belum mendapatkan jawaban.
Tetapi dengarkan baik-baik: Tuhan tidak pernah kehilangan Saudara dari pandangan-Nya.
Dan yang paling menyentuh, Daud berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.”
Jangan membenci dirimu. Jangan merasa hidupmu tidak berarti. Tuhan membentukmu dengan maksud-Nya.
Karena itu, hari ini datanglah kepada Tuhan apa adanya. Tidak perlu berpura-pura kuat. Tidak perlu menyembunyikan luka. Biarkan Tuhan menyelidiki hati kita dan memimpin jalan hidup kita.
Mari kita berkata seperti Daud:
“Tuhan, Engkau mengenal aku. Engkau tahu kelemahanku, Engkau tahu air mataku, Engkau tahu masa depanku. Pegang hidupku dan tuntun aku di jalan yang kekal.”
Saudaraku, kalau Tuhan mengenal kita sepenuhnya, kita tidak perlu takut menghadapi hari esok. Karena Dia yang mengenal kita adalah Dia yang menyertai kita.
Amin.
Selasa, 06 Oktober 2026
TUHAN TIDAK PERNAH MENINGGALKAN KITA
Shalom dan selamat pagi Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita belajar dari Mazmur 138. Daud berkata, “Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku.” Perhatikan, Daud tidak berkata, “Aku bersyukur karena hidupku selalu mudah.” Tetapi ia bersyukur karena ia tahu siapa Tuhan yang menyertainya.
Saudaraku, mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang menghadapi pergumulan. Ada doa yang belum dijawab, ada masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, keuangan, bahkan ada pergumulan yang tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun. Kita tersenyum di depan orang lain, tetapi ketika sendirian, hati kita bertanya, “Tuhan, kapan Engkau menolong aku?”
Mazmur 138:7 berkata, “Jika aku berjalan dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku.”
Ini janji Tuhan: Tuhan tidak selalu menjauhkan kita dari kesesakan, tetapi Tuhan berjanji berjalan bersama kita melewati kesesakan itu.
Dan yang lebih indah lagi, ayat 8 berkata, “TUHAN akan menyelesaikannya bagiku!”
Saudaraku, mungkin kita merasa hidup kita belum selesai. Masih ada masalah yang belum selesai, doa yang belum terjawab, pintu yang belum terbuka. Tetapi jangan menyerah. Apa yang belum selesai di tangan kita, tidak berarti belum selesai di tangan Tuhan.
Hari ini, mari belajar percaya. Ketika kita tidak mengerti jalan Tuhan, tetaplah percaya kepada hati Tuhan. Ketika kita tidak melihat pertolongan-Nya, tetaplah berpegang pada janji-Nya.
Mari katakan dalam hati: “Tuhan, aku tidak tahu bagaimana semuanya akan selesai, tetapi aku percaya Engkau yang akan menyelesaikannya bagiku.”
Sebab kasih setia Tuhan tidak pernah berubah. Dia melihat air mata kita, mendengar doa kita, dan memegang tangan kita.
Jangan berhenti berharap. Tuhan belum selesai dengan hidup kita.
Mari kita berdoa:
“Tuhan, aku menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu. Dalam setiap kesesakan, kuatkan aku. Dalam penantian, ajar aku percaya. Dan dalam setiap keadaan, biarlah aku tetap bersyukur. Aku percaya, Engkau yang akan menyelesaikannya bagiku. Dalam nama Yesus. Amin.”
Senin, 05 Oktober 2026
JANGAN LUPAKAN TUHAN DI TENGAH KEHIDUPAN
Mazmur 137
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita belajar dari Mazmur 137, sebuah mazmur yang lahir dari hati orang-orang Israel yang sedang berada di pembuangan Babel. Mereka kehilangan tanah air, kehilangan kebebasan, dan hidup dalam keadaan yang sangat berat.
Mereka berkata, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.”
Saudaraku, mungkin hari ini keadaan kita tidak seperti mereka. Kita tidak berada di Babel. Tetapi mungkin ada “Babel” dalam hidup kita—masalah keluarga, pekerjaan, ekonomi, pelayanan, kesehatan, kekecewaan, atau doa yang belum mendapatkan jawaban.
Dan tanpa kita sadari, kita mulai kehilangan sukacita. Kita masih datang ke gereja, masih melayani, masih tersenyum, tetapi hati kita sebenarnya sedang menangis.
Yang menyentuh saya dari Mazmur ini adalah mereka berkata, “Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing?”
Ada masa ketika kita begitu dekat dengan Tuhan. Kita bisa menyanyi dengan air mata, berdoa dengan penuh keyakinan, dan percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu. Tetapi ketika masalah datang bertubi-tubi, kita mulai bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau diam?”
Saudaraku, jangan biarkan keadaan membuat kita melupakan Tuhan.
Orang Israel berkata, “Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak menjadikan Yerusalem puncak sukacitaku.”
Artinya: seberat apa pun keadaan saya, saya tidak mau kehilangan Tuhan.
Mungkin hari ini kita sedang menangis. Tidak apa-apa. Tuhan melihat air mata kita. Mungkin kita belum melihat jalan keluar. Tidak apa-apa. Tuhan tetap bekerja.
Jangan lupakan Tuhan ketika hidup sedang sulit. Jangan hanya mencari Tuhan ketika membutuhkan pertolongan. Jadikan Tuhan tetap sebagai pusat hidup kita.
Mari katakan dalam hati:
“Tuhan, sekalipun keadaan saya berubah, kesetiaan saya kepada-Mu tidak berubah. Sekalipun saya belum melihat jawaban, saya tetap percaya. Saya tidak akan melupakan-Mu.”
Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan hanya perubahan keadaan, tetapi hadirat Tuhan di dalam keadaan kita.
Amin.
Minggu, 04 Oktober 2026
Mazmur 136
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita belajar dari Mazmur 136, sebuah mazmur yang berulang kali berkata: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”
Kalimat ini bukan sekadar pengulangan. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa di balik setiap keadaan hidup, ada kasih setia Tuhan yang tidak pernah berubah.
Saudaraku, mungkin hari ini ada yang sedang menghadapi pergumulan keluarga. Ada yang sedang memikirkan ekonomi, pekerjaan, kesehatan, atau masa depan. Mungkin kita tersenyum di depan orang lain, tetapi di dalam hati kita sedang berkata, “Tuhan, sampai kapan?”
Mazmur 136 mengingatkan kita: jangan menilai kasih Tuhan hanya dari keadaan yang sedang kita alami.
Bangsa Israel pernah melihat laut Teberau yang tidak mungkin dilewati. Tetapi Tuhan membuka jalan. Mereka pernah berada di padang gurun, tetapi Tuhan tetap memelihara. Mereka pernah menghadapi musuh, tetapi Tuhan memberikan kemenangan.
Dan ayat 23 berkata bahwa Tuhan “mengingat kita dalam kerendahan kita.”
Betapa indahnya! Ketika kita merasa dilupakan, Tuhan tidak pernah melupakan kita. Ketika manusia tidak melihat air mata kita, Tuhan melihat. Ketika kita merasa sendirian, Tuhan tetap hadir.
Karena itu, hari ini jangan hanya bersyukur ketika semuanya baik. Belajarlah berkata, “Tuhan, sekalipun aku belum mengerti jalan-Mu, aku tetap percaya kepada kasih setia-Mu.”
Mari kita katakan bersama-sama:
“Tuhan, terima kasih untuk kasih setia-Mu. Dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam kesehatan maupun kelemahan, aku percaya Engkau tetap baik. Kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.”
Saudaraku, keadaan bisa berubah. Manusia bisa berubah. Perasaan kita bisa berubah. Tetapi kasih setia Tuhan tidak pernah berubah.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Amin.
Jumat, 02 Oktober 2026
Mazmur 135.
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Hari ini mari kita belajar dari Mazmur 135. Mazmur ini mengingatkan kita untuk memuji Tuhan bukan hanya ketika hidup kita baik, tetapi karena Tuhan memang layak dipuji.
Mazmur 135:3 berkata, “Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah!”
Saudaraku, mungkin hari ini keadaan kita tidak semuanya baik. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, pekerjaan yang belum selesai, keuangan yang berat, tubuh yang lemah, atau doa yang sampai hari ini belum mendapatkan jawaban.
Tetapi Mazmur 135 mengajar kita: jangan biarkan keadaan menentukan apakah kita akan memuji Tuhan atau tidak.
Mengapa? Karena kebaikan Tuhan tidak berubah hanya karena keadaan kita berubah.
Ketika kita melihat kembali perjalanan hidup kita, ada begitu banyak pertolongan Tuhan yang mungkin sering kita lupakan. Kita pernah berada dalam masalah, tetapi Tuhan membuka jalan. Kita pernah menangis, tetapi Tuhan memberikan kekuatan. Kita pernah merasa tidak sanggup, tetapi Tuhan menopang kita sampai hari ini.
Mazmur 135 juga mengingatkan bahwa berhala-berhala manusia tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi Tuhan adalah Allah yang hidup, berkuasa, dan sanggup melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Karena itu, Saudaraku, jangan hanya mencari tangan Tuhan—carilah Tuhan sendiri. Jangan hanya datang kepada Tuhan ketika membutuhkan pertolongan. Belajarlah datang kepada-Nya karena kita mengasihi Dia.
Hari ini mungkin belum semua doa kita terjawab. Belum semua masalah selesai. Tetapi satu hal pasti: Tuhan tetap baik, Tuhan tetap setia, dan Tuhan tetap memegang hidup kita.
Mari katakan dalam hati:
“Tuhan, sekalipun aku belum mengerti jalan-Mu, aku tetap mau memuji-Mu. Sekalipun aku sedang menangis, aku tetap percaya kepada-Mu. Karena Engkau baik, dan kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.”
Mari kita belajar menjadi pribadi yang tidak mudah lupa kepada Tuhan. Di saat senang kita memuji-Nya, di saat susah kita tetap mencari-Nya, dan di setiap keadaan kita tetap percaya kepada-Nya.
Pujilah Tuhan, karena Dia baik. Nama-Nya indah, kasih-Nya setia, dan hidup kita ada di dalam tangan-Nya. Amin.
Kamis, 01 Oktober 2026
TETAP MEMUJI TUHAN DI SETIAP WAKTUMazmur 134
Shalom, Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita belajar dari Mazmur 134, sebuah mazmur yang singkat, tetapi memiliki pesan yang sangat dalam.
Mazmur 134:1 berkata, “Mari, pujilah TUHAN, hai semua hamba TUHAN, yang datang melayani di rumah TUHAN pada waktu malam.”
Perhatikan kalimat “pada waktu malam.” Malam berbicara tentang waktu ketika keadaan tidak mudah. Ada saat-saat dalam hidup kita ketika kita merasa lelah, kecewa, tidak mengerti jalan Tuhan, bahkan mungkin kita berdoa tetapi belum melihat jawaban.
Tetapi pemazmur mengingatkan: tetaplah memuji Tuhan.
Saudaraku, memuji Tuhan bukan hanya ketika semuanya baik. Kita memuji Tuhan karena Dia tetap baik, bahkan ketika keadaan belum berubah.
Mungkin hari ini ada yang sedang menghadapi pergumulan dalam keluarga. Ada yang memikirkan pekerjaan dan ekonomi. Ada yang sedang menghadapi pelayanan yang melelahkan. Ada yang diam-diam menangis karena pergumulan yang tidak diketahui orang lain.
Jangan berhenti memuji Tuhan.
Mazmur 134:2 berkata, “Angkatlah tanganmu ke tempat kudus dan pujilah TUHAN!”
Artinya, ketika kita tidak tahu harus berkata apa, angkat tangan kita kepada Tuhan. Ketika kekuatan kita habis, tetap datang kepada-Nya. Ketika hati kita berat, tetap sembah Dia.
Dan ayat 3 berkata, “Kiranya TUHAN yang menjadikan langit dan bumi, memberkati engkau dari Sion.”
Saudaraku, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Jadi jangan ukur kebesaran Tuhan berdasarkan besarnya masalah kita.
Hari ini, mungkin keadaan belum berubah. Tetapi kita percaya: Tuhan tidak berubah.
Mari berkata dalam hati:
“Tuhan, sekalipun aku belum mengerti, aku tetap percaya. Sekalipun aku sedang lelah, aku tetap menyembah. Sekalipun malam terasa panjang, aku percaya fajar akan datang.”
Jangan berhenti memuji Tuhan. Tetap setia. Tetap menyembah. Tetap percaya. Karena Tuhan tetap baik dan kasih setia-Nya tidak pernah berakhir.
Kalau ingin, saya juga bisa buatkan versi lebih kuat untuk penyampaian mimbar 3–5 menit, lengkap dengan , , dan .
Selasa, 29 September 2026
TUHAN, KUATKAN AKU DAN JAGALAH RUMAH KAMI
2 Korintus 12:9
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku.
Ada hari-hari ketika kita merasa tidak mampu lagi bertahan. Beban terasa begitu berat. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Kita ingin berhenti, karena tenaga kita seperti sudah habis.
Mungkin pagi ini ada yang sedang berkata dalam hati,
“Tuhan, aku kuat sampai di sini saja. Aku sudah tidak sanggup.”
Tetapi hari ini Tuhan mengingatkan kita: kekuatan kita tidak harus berasal dari diri kita sendiri.
Firman Tuhan berkata dalam Yesaya 41:10,
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau... Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau.”
Saudaraku, ketika langkahmu mulai melemah, Tuhan tidak melepaskan tanganmu.
Ketika engkau jatuh, Dia sanggup mengangkatmu.
Ketika air mata mengalir, Dia tetap dekat.
Paulus berkata dalam 2 Korintus 12:10, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”
Artinya, kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Tuhan. Datanglah apa adanya. Katakan, “Tuhan, aku lemah. Tolong aku.”
Dan bukan hanya kita pribadi yang membutuhkan kekuatan Tuhan. Keluarga kita juga membutuhkan Tuhan.
Mungkin di dalam rumah ada tawa, tetapi ada juga air mata. Ada sukacita, tetapi ada pergumulan. Ada saat kita saling memahami, tetapi ada juga saat kita terluka.
Karena itu mari kita serahkan rumah kita kepada Tuhan.
Yosua 24:15 berkata,
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Tuhan, jagalah rumah kami. Ajarlah kami saling mengasihi, saling mengampuni, dan tidak berjalan dengan kekuatan sendiri.
Rumah ini milik-Mu. Keluarga ini ada dalam tangan-Mu.
Saat badai datang, tetaplah bersama kami. Saat hati lelah, kuatkan kami. Dan dalam setiap langkah, biarlah kami selalu mengandalkan-Mu.
Bukan kuatku, bukan hebatku, tetapi kekuatan-Mu yang menyempurnakan hidupku.
Amin.
Senin, 28 September 2026
KETIKA DOAKU BELUM TERJAWAB
Mazmur 27:14
“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku.
Mungkin pagi ini ada di antara kita yang sudah lama berdoa untuk sesuatu. Sudah berkali-kali datang kepada Tuhan, sudah menangis, sudah berharap, tetapi sampai hari ini jawabannya belum juga datang.
Lalu kita mulai bertanya,
“Tuhan, mengapa belum terjadi?”
“Tuhan, kapan Engkau menjawab doaku?”
Saudaraku, menunggu bukan berarti Tuhan tidak bekerja. Kadang Tuhan bekerja dalam sesuatu yang belum bisa kita lihat.
Firman Tuhan dalam Yesaya 55:8–9 berkata bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita. Apa yang Tuhan lihat jauh lebih luas daripada apa yang mampu kita lihat.
Karena itu, ketika doa kita belum terjawab, jangan berhenti percaya.
Mungkin kita belum melihat pintu terbuka, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan jalannya.
Mungkin kita belum melihat perubahan, tetapi Tuhan sedang mengubah sesuatu di dalam diri kita.
Mungkin kita belum menerima jawaban, tetapi kasih Tuhan tidak pernah berhenti menyertai kita.
Mazmur 37:5 berkata,
“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”
Saudaraku, hari ini kita tidak harus memahami semuanya. Kita hanya perlu percaya kepada Dia yang mengetahui semuanya.
Kalau air mata masih jatuh, tetaplah berdoa.
Kalau hati mulai lelah, tetaplah berharap.
Kalau jawaban belum datang, tetaplah menantikan Tuhan.
Katakan dalam hati:
“Tuhan, aku tidak tahu kapan jawabannya datang, tetapi aku tahu Engkau setia. Aku tidak mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya Engkau sedang bekerja.”
Teruslah berdoa. Teruslah percaya. Teruslah melangkah.
Karena waktu Tuhan tidak pernah terlambat.
Jawaban Tuhan selalu datang dalam hikmat-Nya.
Dan selama kita menunggu, tangan Tuhan tetap memegang kita.
Amin.
DI TENGAH KESIBUKANKU, KUINGAT ENGKAU
Matius 6:33 & Kolose 3:23
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku.
Pagi ini kita kembali diperhadapkan dengan kesibukan. Ada pekerjaan yang menunggu, tanggung jawab yang harus diselesaikan, banyak hal yang harus dipikirkan, dan waktu yang terasa begitu cepat berjalan.
Kita sering berkata, “Saya tidak punya waktu.”
Tetapi mungkin persoalannya bukan kita tidak punya waktu. Persoalannya adalah di tengah begitu banyak kesibukan, apakah hati kita masih menyediakan tempat untuk Tuhan?
Firman Tuhan berkata dalam Matius 6:33, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.”
Tuhan tidak melarang kita bekerja. Tuhan tidak melarang kita memiliki banyak tanggung jawab. Tetapi Tuhan mengingatkan: jangan sampai pekerjaan memenuhi tangan kita, tetapi kehilangan Tuhan memenuhi hati kita.
Karena itu pagi ini mari kita berkata:
“Tuhan, di tengah kesibukanku, kuingat Engkau.
Di tengah pekerjaanku, kucari wajah-Mu.
Saat pikiranku penuh, ajar aku berhenti sejenak dan berdoa.
Saat tubuhku lelah, ingatkan aku bahwa kekuatanku berasal dari-Mu.”
Kolose 3:23 berkata, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.”
Artinya, pekerjaan kita pun bisa menjadi penyembahan ketika kita melakukannya bersama Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya.
Saudaraku, jangan biarkan kesibukan dunia membuat hati kita jauh dari Tuhan.
Sesibuk apa pun hidup kita, Tuhan tetap yang terutama.
Hari ini dunia boleh memanggil dan mengejar kita, tetapi biarlah hati kita tetap berkata:
“Tuhan, aku memilih-Mu.
Dalam setiap langkahku, sertai aku.
Dalam setiap pekerjaanku, pimpin aku.
Dan apa pun yang kukerjakan hari ini, biarlah semuanya menjadi kemuliaan bagi nama-Mu.”
Amin.
Minggu, 27 September 2026
BE GRATEFUL — BELAJAR BERSYUKUR DALAM SEGALA KEADAAN
Sabtu, 26 September 2026
TUHAN, TUNTUNLAH LANGKAHKU Amsal 3:5–6
Amsal 3:5–6
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Shalom dan selamat pagi, Saudaraku.
Ada banyak jalan di depan kita. Ada banyak pilihan yang harus kita ambil. Tentang pekerjaan, keluarga, pelayanan, masa depan, bahkan keputusan-keputusan kecil yang mungkin menentukan langkah kita berikutnya.
Tetapi jujur, tidak selalu kita tahu jalan mana yang benar.
Kadang kita bertanya, “Tuhan, aku harus ke mana? Aku harus memilih yang mana? Bagaimana kalau aku salah melangkah?”
Pagi ini Tuhan mengingatkan kita: kita tidak harus mengetahui seluruh jalan, karena kita memiliki Tuhan yang mengetahui seluruh jalan.
Firman Tuhan berkata dalam Mazmur 32:8,
“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”
Saudaraku, mungkin hari ini kita belum melihat jawabannya. Mungkin masa depan masih terlihat samar. Tetapi jangan takut.
Kalau Tuhan yang memimpin, kita tidak perlu takut dengan apa yang belum kita lihat.
Kita hanya perlu percaya dan berserah.
Ketika kita tidak tahu harus ke mana, berkata:
“Tuhan, tuntunlah langkahku.”
Ketika kita takut mengambil keputusan, berkata:
“Tuhan, berikan aku hikmat.”
Ketika jalan terasa gelap, berkata:
“Tuhan, pegang erat tanganku.”
Dan ketika pagi datang dengan banyak pekerjaan, banyak tugas, dan banyak tanggung jawab, jangan berlari sendirian mengejar waktu.
Berjalanlah bersama Tuhan.
Mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Tetapi kita tahu siapa yang memegang hari ini.
Selangkah demi selangkah, Tuhan tuntun hidupku.
Ke mana pun Engkau membawaku, aku tetap percaya.
Karena aku tidak harus tahu semuanya.
Aku hanya perlu percaya bahwa Tuhan tahu jalannya.
Amin.