Jumat, 18 Maret 2016

Renungan doa puasa G2M - day 4

Day 4 - Keledai Tunggangan

Bacaan: Markus 11:1-7

Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini." (ayat 3)

Keledai? Mengapa keledai? Mengapa Yesus begitu repot untuk datang ke Yerusalem dengan menunggang keledai? Tidakkah seorang raja akan terlihat lebih gagah menunggang kuda; apalagi jika disertai dengan kereta kencana yang melambangkan kekuatan dan keanggunan. orang-orang kaya memilih bepergian menggunakan unta pada zaman itu; unta telah menjadi lambang tunggangan pria terhormat yang mengerti kelas dan cara masuk yang dramatis.

Tapi KRISTUS memilih keledai. Binatang dungu yang tidak mengerti kemana harus melangkah jika tidak diberikan petunjuk oleh tuan yang menungganginya. Bukankah wanita yang biasa naik keledai pada waktu itu? Bukankah anak-anak yang lebih lazim menggunakan keledai pada hari itu? Mengapa keledai, ya KRISTUS?

Keledai itupun bukan miliknya; keledai itu disediakan oleh orang yang memilikinya (bahkan terlihat sebagai suatu peristiwa yang kebetulan). Keledai tersebut tidak dibelinya, melainkan dipinjamnya dari sang pemilik. Oh, KRISTUS macam apa yang bahkan tidak memiliki sendiri tunggangan yang dapat memberikan kesan meyakinkan jika ia masuk ke kota suci dengan penuh gaya.

Keledai pinjaman itu menunjukkan betapa Kristus menunjukkan suatu keteladanan akan kelembutan. Ia tidak berusaha untuk mengambil kekuasaan dengan paksa. Ia tidak pula mempertontonkan suatu kehebatan dengan menunggang kuda, atau kebangsawanan dengan menunggang unta. Ia memilih untuk menunggang apa yang ada, yaitu keledai beban muda.

Demikianlah Tuhan selalu menggunakan apa yang ada. Tidak perlu yang bagus, tidak perlu yang cemerlang, namun apa yang ada dapat digunakanNya untuk kepentinganNya. Keledai yang ditungganiNya itu tidak terlalu memikirkan kemanakah IA menuntunnya. Keledai itu-pun tidak berpikir untuk mencari jalannya sendiri, ia hanya menurut pada kehendak sang RAJA yang menungganginya. Keledai juga tidak berpikir untuk mengambil alih perhatian yang seharusnya diberikan kepada sang RAJA yang mengendarainya.

Apakah kita memiliki sikap hati seperti itu? Ikut saja, percaya saja, Tuhan tidak pernah membawa kita ke tempat-tempat yang mengerikan, kecuali ketika IA ingin menunjukkan kebesaranNya. Taatlah sebagaimana Abraham, Bapa orang beriman itu taat ketika Tuhan memintanya untuk keluar dari negeri nenek moyangnya dan pergi ke negeri yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Ketaatan dan kerendahan hati adalah dua faktor yang mendahului kemuliaan.

Pokok doa hari ini:
Berdoa supaya Roh Kudus membentuk hati kita hari demi hari supaya karakter Kristuslah yang makin besar dan kita makin kecil dalam hidup ini.