Shalom dan selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan.
Saudaraku, pernahkah kita menyadari bahwa Tuhan sudah berkali-kali mengingatkan kita, tetapi kita tetap memilih berjalan menurut kehendak sendiri? Melalui firman Tuhan, nasihat orang yang mengasihi kita, atau keadaan yang menyadarkan kita, Tuhan sering kali berbicara. Namun, pertanyaannya: apakah kita mau mendengarkan?
Amsal 1:23 berkata, “Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu.”
Saudaraku, hikmat Tuhan digambarkan seperti suara yang berseru di tempat-tempat umum. Artinya, Tuhan tidak menghendaki kita hidup tanpa arah. Dia memberikan firman-Nya agar kita mengenali jalan yang benar dan menghindari keputusan yang membawa penyesalan.
Namun, bagian ini juga memberikan peringatan serius. Ketika seseorang terus-menerus menolak teguran, mengabaikan kebenaran, dan mengeraskan hati, ia sedang membuka dirinya terhadap akibat dari keputusan-keputusan yang salah.
Mungkin hari ini kita sedang bergumul dengan masalah keluarga, pekerjaan, pelayanan, atau hubungan dengan sesama. Jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Mari kita mengambil waktu untuk memeriksa hati dan bertanya, “Tuhan, adakah sesuatu dalam hidupku yang perlu aku perbaiki?”
Saudaraku, jangan menunggu sampai kita mengalami kehancuran baru mau mendengarkan Tuhan. Jangan menunggu kehilangan baru belajar menghargai. Jangan menunggu penyesalan baru mau berubah.
Amsal 1:33 memberikan janji bahwa orang yang mendengarkan hikmat akan hidup dengan aman dan tenteram, tanpa takut terhadap malapetaka.
Ini bukan berarti hidup kita akan bebas dari semua masalah, tetapi kita belajar berjalan dalam tuntunan Tuhan dengan hati yang percaya kepada-Nya.
Hari ini, lembutkanlah hati kita. Jika Tuhan menegur, bertobatlah. Jika Tuhan mengarahkan, taatlah. Jika Tuhan meminta kita berubah, jangan menunda.
Sebab, hati yang mau mendengarkan Tuhan sedang membuka jalan bagi kehidupan yang lebih bijaksana.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.