Senin, 08 Agustus 2016

Kasih Semula

Soren Kierkegaard mengarang cerita, tentang seorang pria dari negeri Barat yg datang ke Tiongkok, & menjalin cinta dengan seorang wanita di sana. Ketika pulang ke negeri asalnya, ia berjanji kepada sang wanita untuk mempelajari bahasa Mandarin, supaya mereka dapat saling menulis surat cinta.

Ia memenuhi janjinya, dengan belajar bahasa Mandarin sampai ke perguruan tinggi. Bahkan, ia menjadi guru besar bahasa itu. Namun, ia akhirnya lebih mencintai bahasa Mandarin, & profesi barunya sebagai guru besar.

Ia tak lagi peduli untuk menulis surat kepada sang kekasih, apalagi kembali ke Tiongkok. Ia melupakan kasihnya, yg semula kepada sang kekasih.

Hati kita miris membaca ironi cerita di atas. Namun demikian, ironi ini kerap dilakukan anak2 Tuhan. Itu pulalah yg terjadi di tengah2 jemaat Efesus. Di satu sisi, mereka memiliki aneka prestasi yg mengagumkan. Mereka suka berjerih lelah, tekun melayani, rajin menguji ajaran palsu, & sabar menderita bagi Tuhan (Why. 2: 2-3,6). Akan tetapi, Tuhan tetap mencela & menegur mereka. Mengapa? Karena, jauh di dalam hati, mereka sudah kehilangan kasih yg semula kepada-Nya (Why. 2:4). Aktivitas mereka yg secara lahiriah sangat padat & sibuk, tidak dibarengi dengan kedalaman kasih mereka kepada Tuhan.

Saudaraku, apakah kita memiliki kecenderungan seperti jemaat di Efesus? Kita suka melayani. Kita menegakkan ajaran yg benar. Kita mau menderita bagi Tuhan. Akan tetapi, kita sudah melupakan kasih yg semula kepada Tuhan. Camkanlah peringatan Tuhan Yesus ini & bertobatlah sekarang juga. "Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yg semula." (Why. 2:4) Bac: Why. 2:1-7

TUHAN MEMBERKATI