Rabu, 24 Agustus 2016

Kemarahan

Seorang ibu begitu murka, ketika anak gadisnya pulang terlambat. Tanpa banyak bertanya, & tidak memberi putrinya kesempatan untuk menjelaskan, si ibu langsung memuntahkan kalimat2 yg tidak senonoh & bernada menghakimi.

Padahal, keterlambatan putrinya terjadi secara tak sengaja: ban motornya kempis di tengah jalan, & ia harus menuntun motor cukup jauh sebelum menemukan tukang tambal ban. Selain itu, batere telepon genggamnya habis, sehingga ia tidak dapat memberi tahu ibunya.

Kita kadang membiarkan prasangka atau kemarahan menguasai diri kita, sehingga kita tidak dapat menanggapi situasi dengan semestinya. Kita tidak meluangkan waktu untuk mendengarkan penjelasan orang lain, & secara gegabah melontarkan tuduhan.

Ledakan amarah yg membabi buta, menyebabkan kita menyeburkan perkataan yg tidak pantas, & meninggalkan luka yg mendalam di hati orang yg kita hakimi. Singkatnya, amarah yg tak terkendali menghancurkan hubungan yg baik.

Saudaraku, apa yg tampak oleh mata kita, belum tentu mengungkapkan seluruh keadaan secara lengkap. Oleh sebab itu, sudah semestinya kita memberikan kesempatan kepada orang lain, menjelaskan duduk perkaranya.

Kesediaan untuk mendengarkan ini, menolong kita untuk mengendalikan amarah. Sebaliknya, kita memiliki waktu untuk mempertimbangkan perkara secara lebih jernih, sehingga dapat mengambil keputusan yg lebih adil. Dengan itu, kita juga menghormati orang tersebut & menghargai hubungan dengannya. "Hai saudara2 yg kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata2, & juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah."(Yak. 1:19,20)