Rabu, 10 Agustus 2016

Penjual Kunci Pembuka Rejeki





Transportasi umum kelas Eksekutif memberi kenyamanan, sedang kelas Ekonomi memberi banyak pelajaran kehidupan. -mas Paijo-

Kutipan mas Paijo itu lahir dari pencerahan yang saya dapatkan saat nail Bis kelas Ekonomi dari Kertosono ke Kediri (Jatim), inspirasinya datang dari seorang penjual Buku.

"Silahkan dilihat-lihat dulu siapa tahu tertarik, sepuluh ribu saja" Kata seorang penjual Buku sambil meletakan tiga buku di pangkuan saya, lalu dia pergi membagikan buku kepada penumpang lainnya.

Buku-buku yang dijual terdiri dari : Buku Panduan Pijat Refleksi, Buku Obat Tradisional dan Buku Doa Pembuka Pintu Rejeki.

Satu dari tiga Buku yang menggelitik saya adalah Buku Doa Pembuka Pintu Rejeki, saya ingin bertanya pada penjualnya, apakah dia sudah mempraktekan isinya dan hasilnya seperti apa.

Penjual Buku itu datang langsung nyerocos :

 "Bagaiaman mas beli tiga buku sepuluh ribu, atau beli satu buku lima ribu". 

"Beli yang ini saja mas, biar rejekinya tambah lancar". Tangannya menunjuk Buku Doa Pembuka Pintu Rejeki. 

"Sudah berapa lama mas jualan buku seperti ini " Kali ini saya yang gantian bicara.

"Hampir tiga tahun mas" Jawabnya ringan

"Jualan buku doa ini sudah tiga tahun" 

"Iya" Balasnya pelan

"Sudah baca buku ini" 

"Belum" jawabnya sambil tersenyum

"Kalau belum pernah baca apalagi praktek dan merasakan hasilnya, bagaimana mas tahu doa dalam buku ini bisa membuka pintu rejeki"

"Namanya juga jualan mas" dia menjawab sambil menepuk pundak saya lalu pergi.

Jawabannya yang terakhir "Namanya juga jualan mas" membuat saya teringat satu peristiwa yang pernah saya alami. 

Beberapa tahun lalu, saya diajak seorang teman ikut ibadah di sebuah Gereja, pembicara di ibadah tersebut adalah seorang Pendeta ternama. Kotbahnya diberi judul : Kunci Pembuka Pintu Berkat.

Pulang dari ibadah kami berdua membahas kotbah yang ruuaaaar biasa itu, di sela-sela pembicaraan kami teman saya bilang : "Memang beda ya kalau yang kotbah pendeta kelas mahal, semuanya jadi terang benderang".

Deg...jantung saya hampir copot mendengar "pendeta kelas mahal", lalu saya tanya kepada teman saya apa maksudnya pendeta kelas mahal. Teman saya menjelaskan untuk mengundang beliau, gereja harus menanggung biaya transport, menyediakan akomodasi terbaik dan PKnya jutaan. Info ini valid karena dia adalah pengurus inti gereja, jadi dia tahu persis proses kedatangan pendeta yang kotbah di gerejanya.

Saat itu saya hanya terdiam dan menelan dalam dalam pertanyaan lain yang muncul setelah mendengar penjelasannya, saya tidak ungkapkan takut salah bicara karena saya agak shock mendengar ada pendeta pasang tarif.

Pertanyaan yang saya telan itu begini :

Kalau beliau tahu rahasia Kunci Pembuka Pintu Berkat seperti yang dikotbahkannya, harusnya dalam pelayanannya beliau tak perlu lagi minta Gereja untuk bantu biaya transport, akomodasi dan uang bicara. 

Bukankah kalau dia butuh sesuatu tinggal buka pintu berkat dengan kunci yang dikotbahkan dan dia bisa ambil sendiri seberapa yang diperlukan. Masak Surga tak bisa menyediakan uang transport, akomodasi dan seberapa kebutuhannya. Kalau memang gereja mau kasih persembahan ya tidak apa-apa diterima tetapi jangan pasang tarif dan minta transport serta akomodasi.

Waktu itu saya sempat berpikiran jelek terhadap pendeta itu, saya curiga beliau itu bermental miskin. Sebab hanya orang bermental miskin yang tak pernah bisa bilang cukup, biar seluruh isi surga diberikan padanya tetap saja dia akan merasa kurang. Atas pikiran jelek itu saya minta maaf kepada Tuhan, sebab saya sudah menghakimi hamba Nya.

Pertanyaan dan pikiran jelek yang pernah ada di benak saya dan sudah lama saya lupakan, ternyata terjawab oleh perjumpaan saya dengan penjual Buku di Bis kelas Ekonomi. 

Kini saya tahu, kenapa pendeta yang kotbah Kunci Pembuka Pintu Berkat atau pendeta siapa pun yang masih minta uang transport, akomodasi dan uang bicara kepada yang mengundangnya. Pendeta atau hamba Tuhan seperti itu sama saja dengan penjual Buku di Bis Ekonomi yang saya temui, mereka adalah orang yang tahu bahwa di dalam kehidupan ini ada sebuah Kunci yang bisa membuka Pintu Berkat. Tetapi hanya sekedar tahu, mereka tak pernah membuktikannya sendiri.

Mereka lebih senang mendapat berkat dari jualannya dari pada mendapat langsung dari kemurahan-Nya.

Saya yakin pendeta atau hamba Tuhan model begini kalau ditanya apa sudah mengalami apa yang dikotbahkannya, jawabnya pasti sama dengan penjual Buku itu : "Namanya juga jualan mas".

Matius 6:24