Selasa, 16 Agustus 2016

Pulang!

Filipi 3:20 "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat."

Pernahkah Anda merasa? Seolah segala sesuatu yang ditawarkan dunia ini tak lagi membuat Anda bersemangat? Masing-masing kita memiliki satu kerinduan mendalam untuk "pulang." Dunia ini bukan rumah kita, hanya sebagai tempat kita tinggal saat ini. Suatu hari nanti, kita akan benar-benar pulang.

Alkitab menggambarkan tentang hidup kita di bumi ini, "Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan" (1 Tawarikh 29:15).

Ketika Anda menjadi seorang Kristen, Anda menjadi warga negara Surga, rumah Anda yang sesungguhnya. Filipi 3:20 mengatakan, "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,"

Kita merindukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dipenuhi oleh dunia ini. Itulah sebabnya kita akan selalu menjadi sedikit "tidak cocok" dengan dunia ini dan dengan semua yang diagung-agungkannya - sebab kita, sebagai pengikut Yesus, tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dari itu semua. Jauh lebih banyak.

Kita haruslah terpusat pada Surga, terlibat dengan Surga, dan menuju ke arah Surga. Kita harus merindukan Surga. Seperti yang ditulis oleh St. Agustinus, uskup dan pujangga gereja, "Engkau telah menciptakan kami bagi Diri-Mu, ya Allahku, dan hati kami tiada tenang sebelum beristirahat di dalam Dikau."

Sebab itu, marilah kita memandang dunia ini dengan sejujur-jujurnya: hampa, fana, dan cepat berlalu.

E.M. Bounds, pendeta sekaligus penulis, mengatakan, "Surga haruslah menarik dan mengikat diri kita. Surga haruslah memenuhi hati dan tangan kita, tutur kata kita, karakter kita, dan ciri-ciri kita, sehingga semua orang akan melihat bahwa kita adalah orang asing, orang yang beda dengan dunia ini. Kita haruslah bisa memandang atmosfir dunia ini sebagai suasana yang mengerikan dan berbahaya, dimana mataharinya telah hilang sinarnya dan persahabatan yang ditawarkanya begitu membosankan dan hambar. Namun sebaliknya, kita harus bisa memandang Sorga sebagai tanah kelahiran kita dan rumah kita. Dan kematian bagi kita bukanlah masa kritis, melainkan kelahiran!"

Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, maka nantikanlah Dia sebagai Tuhan dan juruselamat kita .