Rabu, 09 September 2026

KEMBALI KEPADA PUSAT


Kita hidup di zaman ketika akses terhadap Alkitab tidak pernah semudah ini. Dalam satu ponsel, kita bisa memiliki berbagai versi Alkitab, renungan, khotbah, podcast, dan konten rohani. Secara teknis, kita sangat dekat dengan Firman Tuhan.

Tetapi dekat secara akses tidak selalu berarti dekat secara batin.

Alkitab bisa ada di tangan, tetapi belum tentu masuk ke hati. Firman bisa dibaca, tetapi belum tentu mengubah cara kita berpikir, merasa, dan hidup.

Survei BRC menunjukkan sebuah pola yang menarik. Ketika anak muda merasa doa mereka sangat terjawab dan Tuhan sangat menolong, relasi mereka dengan Tuhan, keinginan bertanya kepada Tuhan, kehidupan ibadah, membaca Alkitab, bahkan kesediaan bersaksi, semuanya meningkat.

Ini mengingatkan kita bahwa sering kali iman kita tanpa sadar bergantung pada hasil yang kita rasakan.

Kita datang kepada Tuhan karena membutuhkan pertolongan-Nya, jawaban-Nya, berkat-Nya, dan kelegaan-Nya. Tetapi ketika manfaat Tuhan lebih kita cari daripada Pribadi Tuhan sendiri, relasi kita perlahan berubah menjadi transaksi.

Padahal Yesus berkata:

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” — Matius 6:33

Artinya, pusat kehidupan kita bukan apa yang Tuhan berikan, tetapi Tuhan itu sendiri.

Membaca Alkitab bukan sekadar mencari jawaban cepat. Berdoa bukan sekadar menyampaikan daftar permintaan. Beribadah bukan sekadar memenuhi kewajiban.

Semuanya adalah ruang untuk mengenal, mengasihi, dan tinggal dekat dengan Tuhan.

Karena itu, mungkin yang perlu dipulihkan bukan hanya disiplin rohani kita, tetapi pusat hati kita.

Ketika Kristus kembali menjadi pusat, Firman tidak lagi terasa sebagai beban, doa tidak lagi sekadar permintaan, dan ketaatan tidak lagi menjadi usaha untuk membeli kasih Tuhan.

Kita taat karena kita sudah lebih dahulu dikasihi.

Dan akhirnya, kita tidak hanya bertanya, “Apa yang Tuhan bisa lakukan untukku?”

Tetapi kita belajar berkata:

“Tuhan, aku ingin mengenal-Mu, mengasihi-Mu, dan hidup untuk-Mu.”

Sebab kekristenan bukan terutama tentang mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi tentang menemukan bahwa Tuhan sendiri adalah harta yang paling berharga.