Shalom dan selamat pagi, Saudaraku.
Ada satu kalimat Tuhan yang sederhana, tetapi sangat dalam. Dalam Hagai 1:5, Tuhan berkata:
“Perhatikanlah keadaanmu!”
Saudaraku, kadang kita terlalu sibuk memperhatikan keadaan di luar, sampai lupa memeriksa keadaan hati kita sendiri.
Kita bertanya, “Mengapa hidup saya begini?”
“Mengapa doa saya belum dijawab?”
“Mengapa pekerjaan saya tidak mengalami kemajuan?”
“Mengapa keluarga saya masih bergumul?”
Tetapi hari ini Tuhan tidak langsung menjawab semua pertanyaan itu. Tuhan justru berkata, “Perhatikanlah keadaanmu!”
Berhenti sejenak. Lihat kembali hidup kita.
Bagaimana hubungan kita dengan Tuhan?
Bagaimana kehidupan doa kita?
Apakah Firman Tuhan masih menjadi kebutuhan, atau hanya sesuatu yang kita dengar sesekali?
Apakah kita masih menempatkan Tuhan sebagai yang terutama, atau Tuhan hanya kita cari ketika kita membutuhkan pertolongan?
Konteks Hagai 1 adalah bangsa Israel sibuk membangun rumah mereka sendiri, sementara rumah Tuhan terbengkalai. Mereka bekerja keras, tetapi hidup mereka tidak mengalami kepuasan.
Ini mengingatkan kita: kesibukan tidak selalu berarti keberhasilan, dan kerja keras tanpa Tuhan tidak selalu menghasilkan kepuasan.
Mungkin hari ini Tuhan sedang mengajak kita berhenti dan mengevaluasi hidup.
Bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk mengembalikan kita kepada pusat kehendak-Nya.
Saudaraku, jangan hanya periksa rekening kita—periksa hati kita.
Jangan hanya periksa pekerjaan kita—periksa hubungan kita dengan Tuhan.
Jangan hanya bertanya, “Apa yang kurang dalam hidup saya?” tetapi tanyakan, “Apakah Tuhan masih menjadi yang terutama dalam hidup saya?”
Hari ini, mari kita berkata:
“Tuhan, perlihatkan kepadaku keadaan hatiku. Jika ada yang salah, ubahlah aku. Jika aku menjauh, tariklah aku kembali. Dan jika aku kehilangan prioritas, ajar aku kembali menempatkan Engkau di tempat yang pertama.”
Karena ketika Tuhan kembali menjadi pusat hidup kita, arah hidup kita pun kembali benar.
Amin.