Saudara, mungkin hari ini kita datang kepada Tuhan bukan karena hidup kita sedang baik-baik saja.
Ada yang sedang memikirkan anaknya.
Ada yang sedang kuatir tentang pekerjaan dan keuangan.
Ada yang sedang menghadapi masalah dalam rumah tangga.
Ada yang sedang mendoakan kesehatan orang yang dikasihi.
Dan mungkin ada yang tersenyum di depan orang lain, tetapi diam-diam sedang menangis ketika sendirian.
Mazmur 128 datang membawa sebuah pengingat yang sangat sederhana, tetapi dalam:
“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.”
Perhatikan, Alkitab tidak berkata bahwa orang yang takut Tuhan akan bebas dari masalah. Tetapi orang yang takut akan Tuhan memiliki jalan yang benar untuk dijalani di tengah masalah.
Ayat 2 berkata,
“Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!”
Ini berbicara tentang pekerjaan. Tentang keringat. Tentang usaha. Tentang hari-hari ketika kita bekerja keras tetapi hasilnya terasa belum seberapa.
Namun Tuhan berkata: Aku melihat jerih payahmu.
Jangan berpikir pekerjaanmu yang sederhana tidak berarti. Jangan merasa perjuanganmu tidak dilihat Tuhan. Setiap usaha yang dilakukan dengan takut akan Tuhan tidak pernah sia-sia di hadapan-Nya.
Kemudian Mazmur ini berbicara tentang keluarga.
Istri digambarkan seperti pohon anggur yang subur, dan anak-anak seperti tunas pohon zaitun di sekeliling meja.
Gambaran ini begitu indah: berkat Tuhan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa yang Tuhan tempatkan di sekeliling kita.
Mungkin keluarga kita belum sempurna.
Mungkin ada anak yang masih kita doakan.
Mungkin hubungan yang sedang renggang.
Mungkin ada luka yang belum selesai.
Tetapi hari ini Tuhan mengingatkan kita: jangan berhenti membangun mezbah di dalam rumah. Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti mengasihi. Jangan berhenti menjadi teladan.
Karena rumah yang diberkati bukan rumah yang tidak pernah punya masalah.
Rumah yang diberkati adalah rumah yang tetap menjadikan Tuhan sebagai pusatnya.
Dan ayat 4 berkata:
“Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.”
Hari ini mari kita datang kepada Tuhan dan berkata:
“Tuhan, aku tidak meminta rumah yang sempurna. Aku meminta rumah yang Engkau pimpin. Aku tidak meminta keluarga tanpa masalah. Aku meminta hati yang tetap takut akan Engkau. Berkatilah pekerjaanku, pasangan hidupku, anak-anakku, dan seluruh keluargaku.”
Sebab ketika Tuhan menjadi pusat rumah kita, ada damai di tengah pergumulan, ada kekuatan di tengah kelemahan, dan ada pengharapan bahkan ketika kita belum melihat jawabannya.
Tuhan memberkati rumah kita, keluarga kita, pekerjaan kita, dan generasi yang Tuhan percayakan kepada kita.