Mazmur 124 adalah nyanyian Daud yang mengajak umat Tuhan melihat kembali perjalanan hidup mereka dan menyadari satu hal: kalau Tuhan tidak menyertai kita, kita tidak mungkin sampai di titik ini.
Ayat 1-2 berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita… jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita.” Kalimat ini diulang. Mengapa? Karena Daud ingin menanamkan kesadaran bahwa kemenangan umat Tuhan bukan semata-mata karena kekuatan, kepandaian, strategi, atau kemampuan manusia. Ada tangan Tuhan yang bekerja di balik semuanya.
Daud kemudian menggambarkan bahaya yang mereka hadapi seperti air yang menghanyutkan dan arus yang meluap. Artinya, ada masalah yang begitu besar sampai manusia merasa tidak mampu mengatasinya. Ada situasi yang kalau Tuhan tidak turun tangan, kita bisa tenggelam di dalamnya.
Tetapi ayat 6 berkata, “Terpujilah TUHAN, yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka!”
Perhatikan: Daud tidak berkata, “Betapa hebatnya kita karena berhasil meloloskan diri.” Ia berkata, “Terpujilah TUHAN.”
Inilah hati yang mengerti anugerah. Kita boleh bekerja keras, berhikmat, dan mengambil keputusan dengan benar. Tetapi pada akhirnya kita harus mengakui: Tuhanlah sumber pertolongan kita.
Ayat 7 berkata, “Jiwa kita terluput seperti burung dari jerat penangkap burung.” Jerat itu nyata, tetapi Tuhan memberikan jalan keluar.
Mungkin hari ini kita sedang berada dalam tekanan yang terasa seperti air bah. Masalah datang bertubi-tubi, jalan keluar belum terlihat, dan kita mulai bertanya, “Apakah aku sanggup?”
Mazmur 124 mengingatkan: jangan hanya melihat besarnya masalah; ingatlah besarnya Tuhan yang menyertai kita.
Dan ayat terakhir menjadi deklarasi iman: “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”
Kalau Dia sanggup menciptakan langit dan bumi, Dia juga sanggup menopang hidup kita.
Mari hari ini kita berhenti membanggakan kekuatan sendiri dan mulai berkata: “Tuhan, kalau bukan karena Engkau, aku tidak akan sampai di sini. Dan karena Engkau menyertai aku, aku percaya aku akan terus berjalan.”
Pertolongan kita bukan dari manusia, bukan dari keadaan, tetapi dari Tuhan, Pencipta langit dan bumi.