Mazmur 126 adalah nyanyian ziarah tentang pemulihan Tuhan. Bangsa Israel sedang mengingat kembali bagaimana Tuhan mengubah keadaan mereka.
Ayat 1 berkata, “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.”
Ada masa ketika mereka mengalami penderitaan, kehilangan, dan penantian. Tetapi Tuhan bertindak. Apa yang sebelumnya terasa mustahil tiba-tiba menjadi kenyataan. Karena itu mulut mereka penuh dengan tawa dan lidah mereka dengan sorak-sorai.
Namun yang menarik, setelah mengingat pemulihan masa lalu, pemazmur tidak berhenti pada kesaksian. Dalam ayat 4 ia berdoa, “Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN.”
Artinya, pernah mengalami pertolongan Tuhan bukan berarti kita tidak akan menghadapi pergumulan lagi. Ada musim ketika kita perlu kembali percaya dan berdoa agar Tuhan memulihkan keadaan kita.
Kemudian ayat 5 memberikan prinsip yang sangat kuat:
“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.”
Menabur berarti tetap melakukan apa yang benar sekalipun hasilnya belum terlihat. Kadang kita menabur dalam pelayanan dengan air mata. Kita menabur doa untuk keluarga, kesetiaan dalam pekerjaan, pengampunan, kasih, dan ketaatan—sementara hasilnya belum kelihatan.
Tetapi Tuhan melihat setiap benih yang kita taburkan.
Ayat 6 berkata bahwa orang yang berjalan maju sambil menangis dengan membawa kantong benih akan pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.
Perhatikan: dia tetap berjalan. Air mata tidak menghentikan langkahnya.
Mungkin hari ini kita sedang berada dalam musim menabur. Kita berdoa tetapi belum melihat jawaban. Kita melayani tetapi belum melihat perubahan. Kita melakukan yang benar tetapi keadaan belum menjadi lebih baik.
Jangan berhenti.
Air mata hari ini bukan berarti tidak ada masa depan. Benih yang ditabur dalam iman sedang berada di tangan Tuhan.
Akan tiba waktunya Tuhan mengubah tangisan menjadi sukacita, penantian menjadi kesaksian, dan benih menjadi tuaian.
Mari percaya: Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kesetiaan kita.
Tetaplah menabur. Tetaplah berdoa. Tetaplah berjalan.
Sebab orang yang menabur dengan air mata, pada waktu Tuhan, akan menuai dengan sorak-sorai.